Serasa TKI di Negara Sendiri, Gili Trawangan
8/21/2015



Kata orang sih belum ke Lombok kalau nggak ke Gili Trawangan. Kata orang-orang loh ya. Kalau kataku sih belum ke Lombok kalau nggak sekalian mendaki Rinjani. Hmmm, waktu itu sih punya waktu 9 hari di Lombok dengan jadwal yang sedemikian rupa terencana. Seperti yang saya bilang tadi bahwa tujuan awal memang Rinjani lah yang menjadi prioritas, selebihnya kemana aja boleh. Mendaki Rinjani dengan sejuta keindahannya, lalu menyambangi dua air terjun super  keren di kakinya sebenarnya sudah cukup memuaskan. Terhitung baru 5 hari yang kami pakai dari 9 hari itu. Masih lama juga waktu untuk mengeksplor Lombok.

Angkutan yang kami carter memang sudah kami pesan untuk menjemput dari bandara dan mengantar kami ke Basecamp Pendakian di Dusun Sembalun, lalu menjemput di Basecamp Pendakian di Desa Senaru untuk diantar ke Pelabuhan Bangsal. Selanjutnya kami akan menyebrang ke Gili Trawangan. Jujur sebenarnya saya tidak terlalu antusias dengan Trawangan. Membayangkan saja sepertinya tempat itu bukan “gue banget”. Banyak hal yang sudah saya tahu tentang Trawangan, dari TV dan internet yang pasti. Baru kali itu saya melihat aslinya. Yah, sekedar menggugurkan ke-afdol-an yang katanya belum ke Lombok kalau nggak ke Gili Trawangan. Boleh lah...

Tertidur di angkutan yang kami carter selama lebih dari satu jam akhirnya kami terbangun dan ternyata sudah sampai di Pelabuhan Bangsal. Pelabuhan itu merupakan salah satu tempat penyebrangan menuju 3 gili, yaitu: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Dua gili yang lain sebenarnya lebih sepi dari Trawangan, tapi ke Trawangan aja dulu deh.

Tak hanya kami yang turun Rinjani lalu ke Trawangan. Ada banyak puluhan pendaki juga yang demikian. Terlihat dari tas carrier yang masih bau Rinjani berkeliaran di pelabuhan itu.

Menurut info, kapal yang menyebrang ke Trawangan nggak sampai malam, bahkan hanya sampai sore saja. Jadi sebagai antisipasi, jangan terlalu sore sampai di Pelabuhan Bangsal. Maksimal jam 4 sore lah biar aman. Setelah itu tinggal beli tiket kapalnya saja di loket. Disitu juga bisa milih untuk menyebrang ke Trawangan, Meno, atau Air. Tiketnya pun saat itu nggak sampai Rp 15.000,00 untuk sekali jalan.

Melalui speaker super kencang, pengumuman keberangkatan diumumkan. Kami lalu naik ke kapal dan tak lupa buru-buru agar dapat tempat paling depan agar nanti bisa maju ke haluan kapal untuk menikmati perjalanan ditemani matahari yang hendak tenggelam dengan leluasa.


menuju Gili Trawangan

Kurang lebih dua puluh menit kami terombang-ambing di tengah selat tiga gili itu. Lalu sampai lah kami di daratan dengan hamparan pasir putih namun seketika seperti merasakan lagi ada di mana gitu. Sementara dalam hati saya membatin masak hanya dalam 20 menit saya sudah sampai ke luar negri. Hmmm, yah begitu lah Trawangan. Tempat lokal dengan rasa internasional. Serasa menjadi TKI di negara sendiri. Pulau ini dipenuhin bule-bule coy, lebih banyak bulenya dari pada orang Indobnesia.

Begitu ada yang turun kapal, calo-calo penginapan langsung menyerbu dan nawarin penginapan-penginapan dengan harga yang bervariatif. Tanyakan saja harga dan fasilitasnya dulu, kalau cocok bisa diambil. Kecuali kalau udah tahu mau nginep dimana, jadi bilang saja sudah booking penginapan sama mereka. Hmmm, menurut pengalaman sih penginapan yang terjangkau itu lokasinya ada di tengah pulau. Jangan harap dapat harga murah di penginapan yang letaknya di pinggir jalan utama Trawangan. Berkelas semua kalau yang di dekat jalan utama. Kami sih serombongan nginep di penginapan Rp 150 ribuan aja. Itu pun sekamar diisi 3 orang. Untung aja abangnya ngasih setelah memohon-mohon dengan muka memelas. Dan kami berencana menghabiskan dua malam di Trawangan. Yeah...

warning

bisa sewa sepeda sama beli jamur

Bukan apa-apa sih, itu karena kami pengen merasakan sunset di Trawangan yang katanya termasuk spot yang direkomendasikan untuk menikmati matahari tenggelam, soalnya di hari pertama kan pas masih ribet-ribetnya ngurus barang-barang yang berantakan setelah turun dari Rinjani, jadi nggak sempet ngejar sunset romantis disana deh di hari pertamanya. Okey...

sunset istimewa di sunset Point

bisa main ayunan ala ala anak TK
sambil basah-basahan ala ala anak SD

romansa-romansaan sambil nunggu sunset

bule-bule lagi leyeh-leyeh nunggu matahari tenggelam

menjelang sang surya tenggelam

Satu lagi yang unik lagi di trawangan yaitu perda setempat yang melarang adanya kendaraan bermotor di dalam pulau tersebut, jadi alternatifnya ya pake sepeda atau naik cidomo, sejenis dokar/delman gitu. Bisa kita kelilingin pulau dengan sepeda, paling 20 menit bisa kembali ke tempat asal. Cuman ntar bakal ada bagian yang harus dorong sepeda karena ngelewatin pasir pantai dan juga ada bagian yang harus mlipir-mlipir di halaman hotelnya orang. 

view Rinjani dari Trawangan

keliling pulau ntar bisa ketemu tempat penangkaran penyu

sunrise bersama Rinjani

Kalau isinya bule-bule gitu,rasanya disana itu everyday is party. Tiap malam ada party dimana-mana. Makin malam makin rame, makin malam makin menjadi. Kontras dengan suasana saat pagi harinya. Kayak kampung-kampung biasa gitu, sepi dan sunyi. Disana tetap ada penduduk lokalnya, malah ada pondok pesantren dan sekolah. Tapi sepertinya nggak semua jenjang pendidikan didirikan sekolahan disana.

Kesimpulannya, Trawangan emang keren sih dengan segala apa yang ada di dalamnya, yang kata temenku orang Lombok asli, “Trawangan sebentar lagi kayaknya bakal tenggelam”. Haha emang sih makin kesini tempat hura-hura nya makin diperbanyak. Dibangun, dibngun, dan dibangun lagi tempat baru. Dari segi konsepnya saya akui lumayan keren. Kerennya gini, tempat hura-hura, hedon-hedon, party-party, dsb nya di pusatkan di satu titik dan bagusnya lagi di satu pulau. Ibukota provinsinya saja saya lihat nggak ramai-ramai banget, moll aja cuma satu. Bisa dibanyangkankan kan kalau hiburan yang ada di Trawangan tersebar di seluruh Pulau Lombok. Wah, mungkin yang seneng alam udah ogah-ogahan ke Lombok tuh. Dah cukup deh Trawangan yang dijadikan pusat hedonnya NTB. 




2 comments

Turun Rinjani, Kita ke Sendang Gile & Tiu Kelep Waterfall
7/23/2015



Rinjani sungguh paket keindahan yang super komplit. Sudah saya ceritakan secara lengkap di postingan pendakian Gunung Rinjani sebelumnya mengenai apa saja yang dimilikinya. Sudah sekomplit itu tapi masih ada lagi loh ternyata secuil serpihan surga yang masih berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Adalah Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep. Dua air terjun ini bisa kita nikmati setelah keluar dari Pintu Pendakian Senaru atau jalur sebelah utara. Itu pula kenapa dari awal sudah saya rencanakan memilih jalur naik Sembalun dan turun lewat Senaru. Tak lain karena di Senaru ada dua air  terjun tersebut.

Saat itu, sekitar hampir pukul 11 siang kami sudah tiba di RTC (Rinjani Treking Center) atau basecampnya  yang berada di Desa Senaru setelah 4 hari mendaki Rinjani. Sembari menunggu mobil jemputan kami pun leyeh-leyeh di bale-bale depan RTC. Tersedia juga kamar mandi, jadi sekalian kami mandi dan ganti baju bersih setelah beberapa hari hanya mandi keringat saja. Tak lama kemudian mobil jemputan datang dan kami langsung saja bilang sama pak sopirnya untuk mampir dulu ke dua air  terjun di kaki Rinjani itu sebelum sorenya diantar ke Pelabuhan Bangsal untuk nyebrang ke Gili Trawangan.

Sayangnya baterai kamera utama sudah ko'it sedari di Danau Segara Anakan. Terpaksa harus puas dengan hasil kamera cadangan saat nanti di air terjun. Nggak bisa slow speed-an deh. Harap maklum yah, hasil fotonya kurang membahana...

Loket

Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep bisa kita nikmati sekaligus dengan satu pintu gerbang saja. Letaknya di Desa Senaru, Kec. Bayan, Kab. Lombok Tengah sekitar 25 km dari pusat kota Mataram. Saat itu tiket masuk seorangnya Rp 5.000,- saja. Cukup murah kan, secara duit segitu bisa dapet dua air terjun keren yang airnya dari Gunung Rinjani.

Saat di loket, kita bakal ditawari apakah mau pakai jasa pemandu atau nggak. Kalau pakai tentunya bakal ada ongkos tambahan untuk jasa pemandunya. Enaknya kalau pemandu tentunya bakal dijelasin seluk beluk dua air terjun ini. Tapi saat itu kami pilih untuk jalan sendiri saja tanpa pemandu. Jadinya kami cuma bisa menikmati keindahannya saja tanpa tahu cerita dibaliknya. Arti namanya saja kami nggak tahu. Hanya saja kami diberi pesan oleh bapak di loket untuk hati-hati saat berada di air terjun, khususnya di Air Terjun Tiu Kelep. Khusus untuk air terjun tersebut kalau mau mandi harus dalam pengawasan pemandu. Beberapa waktu sebelum kami datang, pernah ada kejadian seorang wisatawan yang entah bagaimana ceritanya bisa tenggelam di kolam terjunan Tiu Kelep. Yaaa, berita itu sempat saya dengar persis setelah kejadian karena almarhum adalah pegawai pajak yang penempatan kerjanya di Mataram, seangkatan dengan kami. Sedikit banyak bapak penjaga loket cerita pada kami kalau Air Terjun Tiu Kelep memang berbahaya karena kadang di waktu yang tidak disangka, ada pusaran air di kolam tempat air terjun Tiu Kelep itu. Pesan saya hati-hati aja sih, nggak Cuma di Air Terjun Tiu Kelep. Dimanapun kita datang berkunjung ke suatu tempat jangan nekat menguji nyali kalau nggak pengen kejadian yang nggak diharapkan terjadi. Memang segala sesuatu sudah ditakdirkan yang kuasa, namun sebagai manusia tentunya kita sepantasnya merendahkan hati kita dan jangan menuruti ego.


Air Terjun Sendang Gile


6 comments

Pedakian Penuh Senyuman "Gunung Rinjani" (The End)
6/21/2015



Mendaki ke puncak gunung dengan puncak berpasir seperti Semeru, Merapi, Rinjani, dan beberapa gunung lain yang setipe memang jadi hal yang sungguh melelahkan. Jalur pendakian yang seperti itu memang jadi sensasi tersendiri. Naik sekian langkah bisa jadi merosot turunnya lebih dari langkah naiknya. Sebagai contoh jalur pendakian ke Mahameru, bayangkan dengan jarak 1,5 km saja bisa menghabiskan waktu 4-5 jam bergelut dengan jalur pasirnya.

Cerita ini adalah kelanjutan dari cerita pendakian di hari pertama yang bisa dibaca disini nih.

Dulu sempat saya share mengenai tips mendaki di jalur yang seperti itu yaitu dengan menginjak bekas kaki orang lain. Bekas jejak kaki orang di depan kita tentunya sudah lebih padat ketimbang pasir  yang belum terinjak, sehingga kemungkinan merosotnyapun bakal berkurang.

Nggak melulu trek berpasir itu ngeselin, ada enaknya juga. Enaknya itu pas turun. Kita bisa prosotan di pasirnya. Satu langkah turun bisa berarti tiga langkah di jalur biasa. Karena itu biasanya kalau turun bisa lebih cepat beberapa kalinya waktu naik. Saya waktu itu naik ke Puncak Mahameru dari batas vegetasi sampai puncak perlu 5 jam. Turunnya bisa cuma setengah jam saja. Namun, Rinjani kan nggak semua berpasir kayak Semeru. Di satu bagian ada yang jalurnya dipenuhi pasir  yang bercampur pecahan-pecahan batu yang lumayan gede-gede, jadi buat prosotan juga kasian kakinya. Selain itu, ada juga yang berupa tanah keras yang bercampur pasir yang sangat licin, jadi perlu pelan-pelan pas melewatinya. Tapi pas prosotan jangan keasikan yah, harus tetap jaga keselamatan.
16 comments

Pendakian Impian Gunung Rinjani
6/10/2015




Nama Rinjani sudah menggema lama di telinga saya. Banyak yang mempredikatkan gunung tersebut sebagai gunung terindah di Indonesia. Pantas saja lah, gunung yang juga menjadi gunung berapi yang tertinggi kedua di Indonesia itu punya banyak keistimewaan. Mulai dari keindahan savana Sembalun yang dimilikinya yang selalu saja membuat mata terpesona, disamping itu sejarah panjangnya hingga terbentuklah Danau Segara Anak yang begitu cantik di kalderanya, sampai cerita-cerita unik tentang keramahan porter-porter Rinjani yang  jago masak dan punya langkah seperti kuda serta kekuatan seperti unta. Semua bakal dibahas secara tuntas dalam catatan perjalanan ini berdasarkan fakta dan pengalaman yang telah saya dapatkan setelah akhirnya kesampaian juga mendaki gunung dengan sejuta pesona itu.
savana Sembalun


Butuh waktu yang tak sebentar untuk merealisasikan keinginan untuk mendaki Rinjani. Perlu nentuin waktu yang selain ngepasin sama kerjaan, juga nyari yang bener-bener tepat jangan sampai sudah sampai sana ternyata cuaca malah lagi nggak besahabat. Hal lain yang perlu persiapkan matang yaitu fisik, sebab dengar-dengar treknya ada yang namanya bukit penyesalan yang bikin kaki gempor karena dibikin nggak sampai-sampai olehnya. Karena tempat dimana gunung itu berdiri jauh dari homebase makanya perlu beli tiket pesawat jauh-jauh hari biar dapet promo, dan yang penting siapin duit agak lumayan banyak siapa tahu pas di Lombok khilaf mau beli apa-apa. Banyak yang perlu dipersiapkan pokonya. Dihitung-hitung dari awal pengen kesana sampai keinginan itu kesampaian perlu 3 tahun lamanya. Pas ada waktu, nggak ada duit. Pas sudah ada duit, giliran waktunya yang susah banget dicari.
primadona gunung Rinjani, Danau Segara Anak


Akhirnya di awal Mei 2015 ini saya bersama 7 teman berhasil merencanakan satu trip panjang ke Lombok dengan target utama adalah Mendaki Gunung Rinjani.Pernah juga ngeposting satu ajakan semacam Open Trip di blog ini, ternyata yang daftar temen-temen deket juga. Ada sih yang sempet daftar dari sebagian penjuru Indonesia namun cancel semua dengan berbagai macam alasan yang sebenarnya tidak bisa diterima. Memang kayaknya trip itu sudah ditakdirkan untuk kalangan sendiri saja. Posting-an Open Trip Pendakian Ceria Rinjani bisa dilihat disini, siapa tahu bisa jadi referensi teman-teman kalau sewaktu-waktu mau naik Rinjani (lagi) via Sembalun turun Senaru.
22 comments

Pendakian Kedua Gunung Bawakaraeng "Akhirnya Menggapai Puncak"
5/29/2015


Seperti hutang yang harus dibayar dan janji yang harus ditepati, pendakian Gunung Bawakaraeng yang pertama kalinya dulu di tahun 2014 yang hanya menghasilkan pijakan kaki sampai di tanah Pos 7 saja, kayaknya rasa penasaran masih menggelayut di dada tentang bagaimana rupa dan rasa kalau kaki ini ini benar-benar berhasil memijakkan puncaknya, disamping adanya kepercayaan warga setempat yang konon kalau sampai di puncak sama saja dengan berhaji di tanah suci sana. Gelar Haji Bawakaraeng pun bakal disandang bagi yang berhasil sampai puncak. Hmmm pengen juga punya gelar begituan sebelum gelar haji beneran didapat.

Sebenarnya gunung tersebut pernah saya daki untuk dua kali, namun saat itu beda tujuan. Lembah Ramma lah yang kepengen didatangi, bukan puncaknya. Seperti yang telah dibahas tuntas di postingan yang lalu mengenai perjalanan menuju lembahnya Gunung Bawakaraeng, kalau jalur ke puncak dan ke lembahnya berbeda sehingga saat itu memang tak ditargetkan untuk sampai di puncaknya.
Sudah di alokasikan sendiri kapan waktu yang tepat untuk kembali menjajal keberuntungan hingga pendakian bisa sampai ke puncak. Ya, memang keberuntungan lah yang menjadi salah satu faktor penting. 
Kalo ngomongin cuaca kan berarti ngomongin keberuntungan juga kan. Nah, yang sebenarnya ditekankan disini adalah faktor cuaca sebetulnya. Pendakian pertama dulu yang hanya sampai di Pos 7 saja lalu turun, itu juga karena faktor cuaca yang berhasil menghajar kami habis-habisan di gunung. Hujan badai dan angin ribut berhasil menciutkan semangat kami untuk sampai ke puncak. Namun, semua itu nggak ada gunanya kalau akhirnya kita nggak bisa sampai rumah lagi. Makanya saat itu diputuskan untuk turun lagi setelah bermalam di Pos 7.

Cuaca di Gunung Bawakaraeng menurut saya susah di prediksi. Pas musim hujan dulu wajar lah kalau hujan plus ada badai-badainya sebagai bonus, tapi itu pas naiknya. Nah saat turun kok cerah ceria pake banget. Beruntung sekali mereka yang naik pas kami turun. Sedangkan pendakian ke Lembah Ramma waktu itu yang sebetulnya sudah masuk musim kemarau malah sepanjang pendakian naik dan turunnya kami diguyur hujan super deras.

Alhamdulillah saya ada kesempatan lagi buat menyapa Bawakaraeng. Semoga kali ini cuaca bersahabat. Oiya, pendakian kali ini sebagai trip kedua bersama sahabat baru yang baru saja kenalan saat ke Pulau Kodingareng Keke sebulan sebelumnya. Asik juga bisa kenalan sama teman baru yang bisa diajak ngetrip ke pulau sekaligus ke gunung.

Menuju Basecamp

Seperti biasa kami berkumpul di Kota Makassar sebelum touring hampir 3 jam menuju basecamp Gunung Bawakaraeng di Dusun Lembana, Malino, Kab. Gowa. Cuaca memang sangat cerah saat kami di perjalanan, namun mendekati Malino cerahnya langit mulai dipenuhi awan kelam yang menggantung. Sempat juga di perjalanan terjadi satu insiden. saya yang ngantuk dan beberapa kali mengeluh dengan teman yang saya bonceng akhirnya kami jatuh juga dari motor karena rasa ngantuk yang sudah tak tertahan. Padahal niatnya mau berhenti sejenak di warung pinggir jalan buat minum kopi. Belum sampai warung, eh sudah jatuh duluan. Lutut pun terluka hingga berdarah-darah, entah saya bisa mendaki atau tidak dengan keadaan seperti itu. Tapi saya mantap saja lanjut lagi menuju Malino untuk mampir ke masjid menunaikan Sholat Jumat sambil mengobati luka itu.

Usai sembayang, akhirnya hujan turun juga. Kayaknya memang cuaca Bawakaraeng nggak berjodoh dengan saya. Padahal kemaren ada dua temang yang baru saja mendaki katanya dapat cuaca yang cerah pas naik sekaligus turunnya. Mereka berdua malah nggak pake ngecamp, mendaki "Tek Tok", naik langsung turun. Beruntungnya mereka. Tapi, kami yang belum sampai di basecamp saja sudah disambut dengan hujan yang deras yah mau gimana lagi. Akhirnya kami mendaki dengan aurat tertutupi jas hujan.

Memulai Pendakian


Pos 1, Pos 2, Pos 3 akhirnya kami lewati dan akhirnya hujan reda. Mulai Pos 3 keatas kami sudah mendaki tanpa jas hujan lagi. Serasa terbebas dari belenggu. Jalan juga jadi nyaman, nggak gerah, dan nggak nyangkut-nyangkut.
Rencananya kami akan membuat camp di Pos 5 karena diperkirakan kami tiba disana saat hari mulai gelap dan terlebih lagi tempatnya memang cocok untuk camp. Bentuknya dataran yang luas dengan mata air yang tak sebegitu jauh namun juga nggak dekat-dekat amat dari lokasi bangun tenda. Sebelum sampai di Pos 5 kami sempat mendapat hiburan sunset yang teramat manis, tapi sayang pepohonan tinggi nan lebat menghalangi pandangan. Kalau bisa segera sampai Pos 5 kemungkinan bisa menikmatinya tanpa halangan. Hmmm, pas sampai di pos tersebut, sunset tinggal sisa-sisa keindahannya saja. Namun alhamdulillah masih kebagian dikit sih.

4 comments

Sahabat Baru di Pulau Kodingareng Keke
5/20/2015



Tak pernah direncanakan sebelumnya saya bersama seorang teman bisa akhirnya sampai di Pulau Kodingareng Keke. Ini adalah Plan B kami untuk mengobati kekecewaan batalnya rencana utama kami untuk berlayar ke Pulau Kapoposan. Ceritanya hampir sama dengan bagaimana saya bisa sampai ke Pulau Lanjukang, yaitu karena saya join di salah satu ajakan trip di salah satu grup di FB, beda orang sih yang ngajakin.

Seperti awal perjalanan ke Pulau Lanjukang dulu, trip ke Pulau Kapoposan ini sempat pula diadakan pembicaraan lewat FB, lalu diteruskan dengan meet up di tempat minum kopi, hingga akhirnya diputuskan hari apa dan dengan rincian seperti apa. Sungguh terasa bahwa perencanaannya begitu sangat matang. Hingga tiba hari H kami menunggu rombongan yang lain di depan Pelabuhan Potere, Kota Makassar. Janjiannya sih jam 8 berangkat. Saat itu kami sudah ditempat itu sejak jam 7.30  pagi. Singkat cerita meski sebenarnya sangat terasa lama dijalani, ternyata yang ditunggu nggak nongol-nongol sampe skitar jam 10-an. Kami berdua mengira kami sudah ditinggal rombongan menyeberang pulau. Karena mau dihubungi juga nggak bisa makanya kami simpulkan demikian.

Pulau Kapoposan memang letaknya cukup jauh dari pelabuhan penyebrangan, yaitu sekitar 3 jam naik jolorro atau kapal motor tempel. Disini kami merasa sangat sedih sekali, semacam dikucilkan dari pergaulan hehehe. Sempat kami berpikir memutar otak lama banget, mau kemana rencana selanjutnya ini. Apalagi saya yang jauh-jauh dari Majene ke Makassar hanya untuk trip itu, kalau batal kan sangat mubadzir sia-sia.

Kami putuskan untuk masuk ke area pelabuhan mencari rombongan lain yang mau nyebrang ke pulau. Ke pulau mana pun lah, yang penting saya pulang tidak dengan tangan hampa. Secara di seberang Makassar itu tersebar pulau-pulau cantik yang masuk dalam gugusan Kepulauan Sermonde, jadi kalau ada rombongan yang bisa ditebengi untuk nyebrang ke pulau kami ngikut saja deh.


Pelabuhan Paotere, Kota Makaasar
Pelabuhan bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo

Kami masuk ke pelabuhan dan muter-muter dari ujung sampe ujung. Harapan hampir pupus sebenarnya, karena memang hari sudah terlampau siang untuk orang-orang menyebrang pulau. Tapi untungnya kami dipertemukan dengan satu rombongan anak muda yang sepertinya sedang menunggu anggota yang lain. Yaaa, merekalah yang akhirnya menjadi sahabat baru kami sampai detik ini dan trip bersama terus berlanjut di trip kedua kami naik Gunung Bawakaraeng akhir April 2015 ini. Sepertinya masih ada trip-trip seru selanjutnya bareng mereka. Tunggu saja tanggal mainnya.

Oiya, mereka adalah alumni dari satu universitas di Kota Makassar jurusan Keperawatan. Mereka mengadakan reuni kecil-kecilan ke pulau, tapi berbeda dengan pulau yang menjadi tujuan awal tadi. Pulau yang akan mereka jadikan tempat menghabiskan malam minggu adalah Pulau Kodingareng Keke.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan mereka, kami akhirnya diperbolehkan join dengan mereka. Ikut berlayar ke pulau sekaligus ikut acara bakar-bakar ikan. Hmmm, tapi sebenarnya ada rasa nggak enak juga sih ganggu acaranya mereka. Namun akan lebih menyesal lagi kalau pulang ke Majene tanpa membawa apa-apa. Sudahlah rasa nggak enak itu kami buang, toh mereka juga sangat welcome dengan kami. Dan akhirnya pun kami menuju Pulau Kapoposan eh salah Pulau Kodingareng Keke untuk menikmati malam minggu dengan suara debur ombak dengan beratap langit bertabur bintang.


Pulau Kodingareng Keke

pulaunya imut kan...???

Pulau ini tak sejauh Lanjukang atau pun Kapoposan yang harus ditempuh berjam-jam. Hanya berjarak sekitar 14 km saja dengan waktu tempuh kurang dari 1 jam dengan jolorro. Saat itu kami berangkat dari Pelabuhan Paotere, namun opsi lain bisa lewat Pelabuhan Popsa yang ada di seberang Benteng Rotterdam atau satu lagi via Pelabuhan Kayu Bangkoa di Jalan Penghibur dekat Pantai Losari. Biaya sewa berkisar 300-550 ribu rupiah tergantung bagaimana pintarnya negosiasi dengan bapaknya. Kalau kapal yang kami pakai saat itu katanya milik om salah satu sahabat baru kami, jadinya dapat harga yang murah meriah. Memang enak perginya rame-rame karena bisa patungan ongkos kapal yang bisa diisi 10-15 orang itu.

4 comments

Menggapai Atap Tertinggi Sulawesi "Rante Mario, Latimojong"
4/25/2015



Tak hanya di level dunia yang punya 7 summits, di Indonesia pun ada. Dari sekian gunung di Indonesia, tentunya ada 7 puncak yang menjadi puncak tertingginya. Salah satu yang pernah saya daki adalah Semeru (3.676 mdpl) yang merupakan puncak tertinggi Pulau Jawa. Di awal bulan April 2015 ini saya berkesempatan mendaki salah satu yang lain dari 7 Summits dari Indonesia yaitu Puncak Rante Mario (3.478 mdpl) yang merupakan bagian dari Pegunungan Latimojong yang menjadi pucak tertinggi Pulau Sulawesi. Insyaalah Mei 2015 nanti saya berencana mendaki Puncak Tertingi Kepulauan Nusa Tenggara, Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Hmmm asik kan... Ntar mendaki mana lagi yaaa...???

Menuju Puncak Tertinggi Pegunungan Latimojong ini, saya mendaki bersama dua rekan sesama anggota STAPALA STAN yaitu Samin dan Primbon. Nggak perlu panjang lebar lagi, mari kita kenalan dengan Latimojong.

PEGUNUNGAN LATIMOJONG

Pegunungan yang juga mendapat predikat Big Mountain ini punya batas-batas yaitu sebelah baratnya adalah Kabupaten Enrekang, sebelah utara Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan adalah daerah Kabupaten Sidenreng Rappang dan bagian timur seluruhnya wilayah Kabupaten Luwu sampai ke Teluk Bone. Semuanya masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Pegunungan ini punya beberapa puncak yang mempunyai elevasi yang cukup tinggi untuk ukuran gunung di Indonesia, karenanya predikat Big Mountain pantas disandangnya.

Berikut nama puncak-puncak yang ada di Pegunungan Latimojong:

Puncak-puncak yang membentang dari Barat ke Timur yaitu:

·        Gunung Pantealoan 2.500 mdpl
·        Gunung Pokapinjang 2.970 mdpl

Puncak-puncak yang membentang dari Utara ke Selatan adalah:

·        Gunung Sinaji 2.430 mdpl
·        Gunung Lapande 2.457 mdpl
·        Gunung Sikolong 2.754 mdpl
·        Gunung Rante Kambola 3.083 mdpl
·        Gunung Rantemario 3.478 mdpl
·        Gunung Nenemori 3.397 mdpl
·        Gunung Bajaja 2.706 mdpl
·        Gunung Latimojong 3.305 mdpl

Jalur pendakian menuju puncak-puncaknya ada beberapa alternatif pilihan, diantaranya:

·        Kec. Mingkendek, Kab. Tanah Toraja,
·        Kec. Baraka, Kab. Enrekang, dan
·        Ranteballa Kec. Latimojong, Kab. Luwu.

Dari ketiga jalur yang sering dilalui itu, kami memilih melewati jalur yang paling favorit yaitu melalui basecamp Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kec. Buntu Batu, Kab. Enrekang, Sulawesi Selatan.

Sekitar jalur pendakian masyarakatnya didominasi oleh Suku Duri, yang sehari-hari berinteraksi menggunakan Bahasa Duri. Jangan kaget kalau ada beberapa warga yang jika disapa akan menjawab dengan bahasa yang tidak kita ketahui. Begitu pun yang saya alami waktu itu. Sempat bertemu dengan anak-anak yang usai memancing di sungai dan iseng kami tanya dimana mereka mencari ikan malah mereka seperti bingung dengan apa yang kami tanyakan, padahal kami menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi memang dengan kondisi mereka yang bertempat tinggal sangat jauh dari kota, mungkin hal demikian bisa dimaklumi.

Suku Duri  mendiami daerah pusat Kecamatan Baraka hingga Dusun Karangan pada jalur pendakian Latimojong. Mayoritas mereka merupakan petani kopi. Mereka meyakini bahwa arwah nenek moyang mereka bersemayam di tempat – tempat tertentu di Latimojong. Begitu pula dengan berbagai tempat disana dianggap memiliki penunggu. Hiii serem... Tapi selama saya mendaki bersam 2 orang teman nggak ada sesuatu apa pun yang mengganggu kok. Lagi pula mereka tidak bakal menganggu kalau kita tidak macam-macam. Satu macam saja cukup, hehehe...

Yaaa, Dusun Karangan sangat jauh memang. Sudah pernah dengar cerita pendaki-pendaki Latimojong bagaimana mereka bisa mencapai Dusun Karangan yang merupakan basecamp pendakian dan dusun terakhir sebelum trekking ke puncak?

Hmmm, belum mendaki saja butuh perjuangan ekstra loh. Untuk menuju basecampnya butuh kesiapan mental menghadapi medan-medan yang off road.
Biar lebih enak, gimana kalau cerita selanjutnya dalam bentuk time line saja???

Simak terus yaaa cerita kami sampai ke puncaknya dan bisa bersujud syukur di tanah tertinggi Pulau Sulawesi itu hingga bisa turun lagi sampai basecamp dengan selamat sentosa, adil, dan makmur !!!

6 comments

Lembah Ramma, Tak Selamanya ke Lembah Jalurnya Menurun
3/27/2015



Kenalnya saya dengan Lembah Ramma ini bersamaan dengan perkenalan saya dengan Gunung Bawakaraeng. Bagaimana nggak barengan, secara dua spot tersebut merupakan satu paket keindahan alam istimewa yang ada di Kab. Gowa, Sulsel. Kabupaten tersebut bersebelahan dengan Kota Makassar, sehingga yang dari dalam kota maupun luar kota bahkan luar provinsi bisa dengan mudah menapaki dua spot tersebut. Karena lokasinya yang strategis itu pula, tempat tersebut menjadi destinasi yang difavoritkan.

Oiya ngomong-ngomong sepaket, jangan dibayangin kayak Rinjani sepaket dengan Danau Segara Anak, Semeru dengan Ranu Kumbolo, beda dengan Bawakaraeng dengan Lembah Rama. Beda banget setelah tahu kemarin secara langsung. Tapi awalnya memang saya kira itu sepaket bener-bener sepaket kaya Rinjani dan Semeru. Di tulisan ini pula bakal saya ceritakan bagaimana jelasnya bisa beda begitu. “ Tetap mi di tempat dudukta’...!!! “

Begini singkatnya...

Kalau kita mendaki Gunung Rinjani tentunya kita bakal singgah di Danau Segara Anak, karena itu merupakan salah satu spot yang istimewa yang dimiliki Rinjani. Biasanya kalau sudah dari Puncak Anjani, pendaki Rinjani biasanya turun sekaligus mampir di danau vulkanik tersebut karena masih dekat dengan jalur utama pendakian. Tapi belum tahu juga sih persisnya kayak apa yang di Rinjani itu, sebatas info-info dari pendaki lain. Soalnya saya baru awal Mei 2015 ini berencana mendaki Rinjani sekaligus membuktikan statemen saya tadi. Mau gabung? Jadwal pendakian bisa dilihat disini nih.



Setali tiga uang dengan Rinjani, Semeru pun demikian. Kalau kita mau mendaki sampai Puncak Mahameru, pastinya bakal melewati Ranu kumbolo, entah pas naik atau turunnya. Asal nggak motong jalan loh, tetap di jalur yang benernya. Kalau yang Semeru kebenarannya terpercaya. Soalnya sudah dua kali lho saya kesana. Hehe.... (yang baca pada mbatin : “Aku aja udah 5 kali ke Semeru gak pamer, Ardiyanta baru dua kali aja pamer). Hahahahahah....

Oke, balik ke Gunung Bawakaraeng dengan Lembah Ramma-nya. Paket ini jangan dibayangkan seperti dua contoh gunung sebelumnya. Kalau yang ini, dengan terpaksa kita harus memilih mau ke Puncak Bawakaraeng atau ke Lembah Ramma. Karena apa? Jalurnya pendakiannya terpisah pake banget.
7 comments

Pendakian Ceria Gunung Rinjani & Explore Lombok (7 Mei - 16 Mei) - DONE...!!!
3/12/2015




"TRIP DONE"

Naik Jalur Sembalun – Turun Jalur Senaru

#ShareCost

DAY 1 (7 Mei 2015)

Semua peserta berkumpul di LOP Int. Airport kemudian dilanjutkan menuju basecamp pendakian Gunung Rinjani di Sembalun. Bermalam disitu untuk persiapan pendakian esok hari.

DAY 2 (8 Mei 2015)

05.00 – 07.00 : PERSIAPAN PENDAKIAN
07.00 – 12.00 : PERJALANAN SEMBALUN – POS 3 
13.00 – 17.00 : POS 3 – PLAWANGAN SEMBALUN
17.00 – XX.XX : BERMALAM DI PLAWANGAN SEMBALUN

“Plawangan Sembalun berada di pertengahan badan Gunung Rinjani dengan ketinggian 2639 meter. Bermalam Plawangan Sembalun”
  

DAY 3 (9 Mei 2015) 

01.00 – 02.00 : BANGUN, PERSIAPAN SUMMIT!!
02.00 – 06.00 : SUMMIT ATTACK, PLAWANGAN – PUNCAK MT. RINJANI 
01.00 – 02.00 : BANGUN, PERSIAPAN SUMMIT!! 
02.00 – 06.00 : SUMMIT ATTACK, PLAWANGAN  PUNCAK MT. RINJANI

”sharing  sewa jasa porter atau guide akan mengantar ke puncak dan di bayar Rp 150,000 untuk satu orang porter. Bilamana ada yang ingin ke puncak Gunung Rinjani 3726 mdpl, di harapkan bangun sekitar jam 02.00 pagi, perjalanan ke puncak Gunung Rinjani memakan waktu kurang lebih 3 atau 5 jam, Medan perjalanan menuju puncak berat dan cukup melelahkan, padang pasir, kawah, dan jurang yang seolah tanpa dasar, akan memaksa berpacunya adrenalin selama 4-5 jam perjalanan, maka dianjurkan memakai kacamata, masker dan lip gloss. Untuk menghindar hempasan angin dingin, pasir, dan debu dan menggunakan baju hangat yang tebal, bilamana bagi pemula ke puncak harus berjalan secara perlahan, setelah kita sampai di puncak Gunung Rinjani 3.726m kita akan dapat melihat pemandangan sangat menakjubkan, karena anda dapat melihat seluruh bagian dari Pulau Lombok secara menyeluruh, bahkan anda bisa melihat Gunung Tambora, Agung, dan juga beberapa pulau kecil yang di sebut Gili di sekitar pulau .”

08.00 – 10.00 : TURUN, PUNCAK – PLAWANGAN SEMBALUN
11.00 – 15.00 : PERJALANAN PLAWANGAN SEMBALUN – DANAU SEGARA ANAK
15.00 – XX.XX : BERMALAM DI DANAU SEGARA ANAK

“Di pinggir Danau Segara Anak, terlihat Gunung Baru Jari yang cantik masih aktif, bisa juga ke  pemandian Air panas. Mandi di kolam air panas dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit, terutama penyakit kulit, rematik dan lain sebagainya, sambil menikmati suasana keindahan Air Terjun Aik Kalak kita kembali ke danau, hidangan makan siang sudah siap di sekitar danau, sambil menikmati aktivitas memancing pada jam 16.00 sore, Anda dapat menikmati keindahan matahari tengelam dan pemandangan sekitarnya, aktifitas malam hari, buat api unggun, menikmati Bintang, bernyanyi serta kegiatan lainnya, dinner telah tersedia dan bermalam di tenda danau Segara Anak.”

DAY 4 (10 Mei 2015)

ENJOY DANAU SEGARA ANAK FULLDAY

DAY 5 (11 Mei 2015)

05.00 – 09.00 : SARAPAN, PACKING
09.00 – 13.00 : PERJALANAN DANAU SEGARA ANAK – PLAWANGAN SENARU 
13.00 – 14.00 : ISTIRAHAT 
05.00 – 09.00 : SARAPAN, PACKING 
09.00 – 13.00 : PERJALANAN DANAU SEGARA ANAK – PLAWANGAN SENARU 
13.00 – 14.00 : ISTIRAHAT
20.00 – 22.00 : BERISTIRAHAT DAN MAKAN MALAM DI BASECAMP
14.00 – 20.00 : PERJALANAN PLAWANGAN SENARU – SENARU

DAY 6 (12 Mei 2015)

Menuju Air Terjun Sindang Gile dan Tiu Kelep, ke 2 air terjun air terjun ini terletak di Senaru setelah aktivitas mendaki ke gunung Rinjani, untuk pergi ke air terjun, Anda dapat membayar tiket di pintu masuk, biayanya hanya Rp 5.000 per orang.



Jarak Tempuh pendakian dan transportasi: 

Sembalun -  Kawah Plawangan Sembalun (2639m) = 7 jam
Kawah Plawangan Sembalun - Puncak Gunung Rinjani = 3-4 jam
Kawah Plawangan Sembalun -  Danau Segara Anak = 3 jam
Danau Segara Anak -  Kawah Plawangan Senaru (2641m) = 3 jam
Kawah Plawangan Senaru - Desa Senaru = 6 jam
Desa Senaru -  Mataram ATAU Senggigi area = 2,5 jam

16 comments

Terombang-ambing Menuju Serpihan Surga "Pulau Lanjukang"
2/23/2015



Beruntungnya saya yang punya FB dan selalu bisa menemukan hal-hal yang kadang tidak ditemukan orang lain disana. Satu hari, seperti biasanya saya yang selalu tidak bosan memandangi tulisan-tulisan di dinding facebook yang isinya macem-macem mulai dari curhatan, makian, iklan, foto-foto selfie dengan bibir yang dimonyong-monyongin, sampai ajakan-ajakan piknik di grup-grup yang makin kesini makin rame saja dengan orang-orang yang pengen piknik, termasuk saya. Kalau dimanfaatkan untuk hal positif, media sosial sangat banyak manfaatnya. Nah, itu pula yang membuat saya makin berterimakasih sama yang namanya FB karena dia bisa jadi sarana bertukar info hingga akhirnya saya bisa menemukan ajakan trip yang sangat menggugah selera.

Yap, dari sekian open trip yang nongol di wall FB saya, mata saya tertujukan pada ajakan seorang member dari grup “Makassar Backpacker” yang ngajak trip ke Pulau Lanjukang plus bonus 2 pulau lain yaitu Pulau Langkai dan Badi. Dari foto yang dishare mengikuti postingannya membuat saya makin ngiler saja. Pake kuota lagi tripnya. Sudah, tanpa pikir panjang saya pun langsung meregistrasikan nama saya dalam list peserta trip. Satu hal lagi yang bikin makin semangat adalah ongkos alias iuran per orangnya Rp 100.000,- doang uda dapet tiga pulau keren.

Menuju 3 Pulau Eksotis

Pada hari H, kami berkumpul di depan Pelabuhan Paotere Makassar. Pelabuhan ini adalah pelabuhan tua peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang sudah ada sejak abad ke-14. Pada masa Raja Tallo ke-2, sebanyak 200 armada Phinisi diberangkatkan dari pelabuhan ini untuk menyerang Malaka. Sampai saat ini kita bisa melikat kapal-kapal phinisi yang bersandar di Pelabuhan Paotere. 
Namun, kami nggak naik kapal Phinisi juga kali ke Pulau Lanjukangnya, kami cukup naik perahu bermesin motor tempel (jolloro) dengan dua deck sudah cukup. Satu kapal itu diisi 42 orang belum termasuk nahkoda dan rekannya. Dengan segitu banyak orang kami nggak bersempit-sempitan kok, pokoknya pas.

Kalau Papua punya kepulauan Raja Ampat, Jakarta punya Kepulauan Seribu, Sumatra punya Kepulauan Anambas, Kalimantan punya Kepulauan Derawan, maka Sulawesi Selatan punya Kepulauan Spermonde yang kurang lebih mencakup 120 pulau dari Takalar sampe Pangkep termasuk tiga pulau tersebut. Ketiga pulau yang bakal kami datangi berada di wilayah yang sama yaitu Kelurahan Barrangcaddi, Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar, kecuali Pulau Badi yang masuk dalam wilayah administrasi Kab. Pangkep.


sumber: SAC Makassar

Urutan pulau yang kami datangi adalah Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, lalu Pulau Badi. Pulau Lanjukang jadi pulau yang diprioritaskan, karenanya kami bakal menghabiskan malam minggu dengan camping di pulau tersebut. Meski yang terdekat dengan Makassar adalah Pulau Badi tapi pulau ini yang kami datangi terakhir.

14 comments

Exotic Toraja Trip "Lovely December 2014"
1/29/2015


Tongkonan Toraja
L
ovely December termasuk salah satu event adat terbesar di Indonesia yang diselenggarakan di Tana Toraja dan sayang banget untuk dilewatkan bagi kalian yang doyan banget sama hal-hal yang berbau etnik dan kultur. Dari namanya saja pastinya even tersebut digelar pada bulan Desember, tepatnya menjelang perayaan Hari Raya Natal dan sifatnya tahunan. Banyak acara yang digelar dan semuanya seru-seru, hanya bisa dilihat di Toraja deh. Salah dua upacara yang paling tenar di Toraja adalah Rambu Solo' yang merupakan upacara kematian dan Rambu Tuka' yang tak lain adalah upacara pernikahan. Tapi dari keduanya yang paling keren diantara yang terkeren adalah upacara kematiannya. Banyak orang yang bilang orang Toraja cari duit buat mati. Upacara kematian selain bermakna kedukaan juga berarti pesta. Gak salah kok dan itulah yang terjadi di sana. Saat upacara kematian itulah duit keluar dengan gampangnya. Bisa sampai angka miliaran lho untuk upacara kematian saja. Lebih lagi upacara tersebut tak hanya dilakukan satu prosesi saja, banyak rangkaian upacara mulai dari sesaat setelah meninggal hingga akhirnya “dikubur”. Hal itu karena setelah mati mereka tak lantas langsung dikubur seperti kebanyakan orang mati, tapi diawetkan dulu selama beberapa waktu dan bahkan sampai tahunan. Wow, makanya Toraja terkenal pula dengan mummy-nya. Disamping itu ada pula upacara yang namanya Ma’nene’ yaitu upacara mengganti pakaian mayat yang sudah diawetkan dan kalau beruntung kita bisa melihatnya dari dekat upacara tersebut. 
Duit milyaran itu habis dimananya ya kira-kira, kok bisa-bisanya upacara kematian bisa memakan dana hingga angka “M”. Nah, itu pula yang menjadikan Toraja istimewa dan patut masuk Dream Destination kamu. Duit milyaran itu habis di kerbau. 



Yap, KERBAU sodara-sodara, hewan yang dalam bahasa setempat disebut “Tedong” itu memang sangat bernilai lebih. Orang Toraja nggak tanggung-tanggung bisa mengorbankan ratusan kerbau dan harga tiap kerbaunya bisa mencapai ratusan juta, ckckckck. Belum kalau yang dikorbankan adalah kerbau yang warnanya belang pink coklat, hmmm harga satu ekor saja bisa semilyaran. Kerbau belang di Toraja ada berbagai jenis, yang membedakan cuman keadaan belang serta tanduknya. Ada Tedong Salekko, ada Tedong Bonga, ada yang tanduknya panjangnya dua meter punya nama sendiri, ada yang tanduknya melengkung ke bawah punya namanya sendiri, banyak deh. Bagi kalian yang pernah melihat kerbau belang seperti yang saya gambarkan itu apakah berarti kalian melihat kerbau yang harganya semilyaran juga? Sayangnya tidak bro, kerbau belang semilyaran itu cuma berlaku bagi kerbau Toraja. Bagi kerbau-kerbau belang dari daerah lain, maaf yaaa kalian tidak berharga dimata orang Toraja.
Oh iya... cerita sedikit ya tentang masa kecil saya. Masih inget banget saat SD dulu ada pelajaran menggambar. Suatu hari Bu guru nyuruh buat menggambar salah satu rumah adat yg ada di daerah-daerah di Indonesia. Saya yg saat itu tinggal di Jawa Tengah tak lantas menggambar Rumah Joglo yg jadi rumah khas provinsi saya itu.
Kebetulan saya punya Buku Atlas yg isinya lengkap, tak hanya gambar peta-peta tapi komplit dengan kebudayaan dan wisatanya.
Saya buka bagian rumah adat karena memang sedang ada tugas untuk menggambar rumah adat. Setelah pikir-pikir lama, biasa lah anak SD susah menentukan pilihan. Sampai akhirnya mata saya tertuju pada satu rumah adat yang bentuknya sangat unik, disitu tertera namanya yaitu “Tongkonan”. Hingga akhirnya entah mengapa saya putuskan untuk menggambar rumah adat Suku Toraja itu.
10 comments