Bantimurung Adventure - The Kingdom of Butterfly
12/17/2014



Perjalanan kali ini adalah kali kedua trip bersama rekan sekantor. Kalo sempat sih kami rencanakan jadi agenda tiap bulan, pergi ke tempat-tempat asik dengan pemandangan alam yang menakjubkan untuk sekedar melepas penat setelah berkutat dengan kerjaan.Trip pertama kami snorkling-an ceria di perairan Pulau Karampuang, Mamuju sukses terlaksanan membuat kami ketagihan untuk merencanakan trip bareng selanjutnya. Awal November 2014 kali ini kami berencana untuk mengeksplore sebagian keindahan yang ada di sekitaran Makassar, tepatnya Kabupaten Maros yang tersohor dengan barisan karstnya yang megah dan indah. Kenapa kami bilang cuma sebagian, ya tentunya karena kami hanya punya waktu libur Sabtu & Minggu doang, apalagi dengan wisata yang ditawarkan yang sangat banyak. Bikin kami bingung saja mau kemana-mana selama dua hari itu. 

Dari pada bingung mending kami langsung fix-kan saja destinasinya. Yah, kami mau ke Bantimurung dan Karst Rammang-rammang kalau sempat di tambah Taman Purbakala Leang-leang di hari pertamanya, sedangkan di hari kedua kami mau melihat keramaian Kota Makassar dengan segala gemerlapnya yang tidak bisa setiap hari kami rasakan di kota penempatan kami. Kalau jadi ke Rammang-rammang dan Leang-leang berarti ini adalah kali kedua saya kesana, tapi kalau Bantimurung inilah yang perdana. 

Dari Majene kami berangkat usai sholat isya dengan mobil sewaan berharap tengah malam nanti sudah sampai Makassar lalu bisa beristirahat sejenak agar di trip hari pertama kami nggak kecapekan duluan. 


Akhirnya pagi menjelang dan kami bersiap menuju destinasi pertama kami yaitu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terkenal karena merupakan surganya Kupu-kupu. Tapi entah lagi musimnya atau enggak yang penting kesana dulu deh.

Menuju Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

papan info spot-spot menarik yang masuk
dalam wilayah TNBB.
Buseeettt, banyak bener...!!!

Taman Nasional ini masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mudah saja kalau mau kesana, asalkan sudah sampai di Makassar dulu. Dari kota yang dulu bernama Ujung Pandang itu kita perlu menempuh sekitar setengah jam perjalanan mengarah ke Maros atau pun Pangkep. Kalau sudah sampai di Kantor Bupati Maros kita pelan-pelan saja karena sudah mau belok kanan tepat di pom bensin yang ada di pertigaan. Petunjuk arahnya disitu juga bisa terlihat jelas. Jalan yang dilewati ini sama persis dengan jalan kalau mau ke Taman Purbakala Leang-leang, yaiyalah secara masih dalam satu kawasan taman nasional. Kalu sudah belok kanan tinggal ngikutin jalan saja sampai ketemu tebing besar dengan bertuliskan “TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG” setelah itu akan menemui gerbang dengan hiasan Kupu-kupu raksasa dah kita nyampe deh.

Tiket masuk lumayan terjangkau lah, saat itu dengan Rp 100.000,- sudah bisa membawa empat orang masuk ke area lebih dalam taman nasional. Banyak yang bisa dinikmati di Bantimurung, lihat saja spot menarik yang tertera di papan berikut...


papan petunjuk spot-spot menarik yang ada di T.N. Bantimurung Bulusaraung

ini salah satunya,
museum kupu-kupu

ada juga Gua Mimpi dengan segala mitosnya,
tapi kami memasukinya setelah tahu lokasinya yg cukup jauh dan sulit dijangkau.
Faktor utamanya karena kami tak memiliki banyak waktu sih...


ini dia yang melengkapi keindahan Taman Nasional Bantimurung,
Air Terjun Bantimurung
saat itu airnya tidak terlalu deras mengingat masih di peralihan ke musin hujan

naik anak tangga di sebelah kiri air terjun,
kita akan melewati jalanan seperti ini yang menuntun kita ke sebuah danau cantik

ini dia danau cantik itu
Danau Toakala

Tak jauh dari danau terdapat sebuah goa yang dinamai Goa Batu,
di dalamnya sangat gelap, wajib membawa penerangan.
Disediakan persewaan petromak (lampu) sekaligus guide yang
yang bakal memandu perjalanan menuju ujung goa yang tak terlalu dalam sebenarnya.
Saya sendiri sih sudah persiapan senter dari rumah, jadi tak perlu keluar uang lagi

ornamen-ornamen di dalam Goa Batu
ada saja vandalisme, terlihat coretan" ???
padahal tempatnya udah serem gitu, masih ada aja yg corat-coret
Ingat... itu salah satu perbuatan TERKUTUK...!!!

setelah puas menikmati bagian dalam taman nasional,
saatnya berbelanja souvenir.
Di luar gerbang loket, berjejeran frame-frame yang membingkai
kupu-kupu cantik yang sudah terbujur kaku.
huhuuu poor butterflies...

cantik yaa, tapi lebih cantik kalu bisa melihatnya beterbangan di alam bebas.
Lumayan bisa ngebayangin sih gimana cantiknya mereka kalau terbang di alam bebas
meski saat kami kesana belum musimnya kupu-kupu.
Menurut abang"nya, musim kupu-kupu adalah bulan Mei-Agustus...
hmmm, ntar taun depan coba kesana lagi deh...
ada yg mau ikut ???


Keluar dari tempat wisata andalan Sulawesi Selatan ini, kami melanjutnkan jalan-jalan kami ke Dusun Berua. Sebuah dusun kecil yang terisolasi tebing-tebing karst yang memukau. 

Pengen tau ceritanya ???

Sabar dulu yaaa...
0 comments

Terlempar ke Masa Silam di Taman Purbakala Leang-leang
11/13/2014




Sebuah perjalanan dinas membawa saya kembali ke Makassar selama beberapa hari. Seperti biasa setiap pergi ke tempat atau kota yang lumayan jauh dari tempat tinggal dan jarang-jarang saya datangi, diusahakan sekalian mampir ke tempat-tempat eksotis yang ada disana. Peribahasanya “Sekali dayung dua, tiga, bahkan banyak pulau bisa terlampaui”. Meski sudah ada beberapa postingan mengenai tempat menarik di Sekitaran Makassar, tapi masih ada lagi dan lagi tempat lain yang tak kalah menarik dari yang pernah saya datangi sebelumnya.

Kali ini saya yang ditemani seorang rekan satu kantor berencana mengunjungi salah satu situs yang berada di sekitaran deretan Karst Maros. Taman Batu Rammang-rammang dan DusunBerua sudah sempat saya kunjungi beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya kalau mau dieksplore lebih jauh, bakal nemu sangat banyak banget spot menarik di sepanjang deratan karst terbesar di Indonesia itu. Dan kali ini kami bakal menyambangi “Taman Purbakala Leang-leang”.



Leang kalau tidak salah berarti Goa. Memang tepat kalau di tempat tersebut yang menjadi daya tarik adalah goa-goanya. Sama dengan karts yang ada di Gunung Kidul, DIY yang memiliki potensi wisata goa seperti Goa Pindul, Goa Jomblang, Goa Grubug, dan banyak lagi. Oiya, “leang” yang merupakan bahasa daerah di Sulsel yang berarti goa ternyata punya kemiripan juga dengan sebutan goa bagi goa-goa yang ada di Gunung Kidul. Kalau di sana menyebut goa itu “luweng”, kayak Luweng Jomblang, Luweng Grubug. Antara Leang dan Luweng, punya kemiripan yang tidak kebetulan karena sama-sama untuk menyebut goa yang berada di deretan pegunungan karst namun berada di dua daerah di dua pulau yang terpisah jauh. Hmm, tak heran sih karena keduanya sama-sama ada di Indonesia. Proud to be Indonesian.
11 comments

Pendakian "JAVABEST" Gunung Lompobattang
10/28/2014


GUNUNG LOMPOBATTANG

Anak muda jaman sekarang memang sukanya kumpul-kumpul dengan yang punya kesukaan yang sama, termasuk kami yang punya minat lebih dengan yang namanya mendaki. Kami yang awalnya adalah sekumpulan perantau dari Tanah Jawa yang ditempatkan sama-sama di Pulau Sulawesi dan disatukan lagi dalam suatu pendakian Bawakaraeng Agustus 2014 silam, membuat kami memutuskan untuk memberi nama pada perkumpulan kami ini. Dan dalam pendakian kedua menuju Puncak Lompobattang yang punya ketinggian sekitar 2.870 mdpl pada tanggal 11-12 Oktober 2014 lalu, barulah tercetus satu nama yang begitu mewakili masing-masing dari kami. Cuman lucu-lucuan saja lah, biar kalau bikin grup di WhatsApp ada nama kerennya gitu hahah. "JAVABEST" yang kepanjangannya "Orang Jawa Penempatan Celebest" adalah nama yang akhirnya kami pilih yang begitu merepresentasikan kami semua.

Pendakian kedua setelah mendaki GunungBawakaraeng (±2.830 mdpl) yang tak sampai ke puncaknya karena terhalang badai dengan 14 orang dalam satu tim bakal kami susul dengan pendakian ke Gunung Lompobattang yang berada di sebelah selatan Gunung Bawakaraeng. Kali itu kami mendaki dengan anggota tim setengah dari jumlah personil pendakian yang lalu.


GUNUNG LOMPOBATTANG (±2.870 mdpl)

Gunung tidak berapi ini terletak masih dalam satu deretan dengan Gunung Bawakaraeng dan juga sama-sama berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung dengan nama yang berarti "Perut Besar" ini tak kalah pamornya dengan Bawakaraeng, termasuk yang menjadi favorit para pendaki. Saat musim haji atau menjelang Idul Adha pun ramai. Selain pendaki, penduduk sekitar pun yang masih menganut suatu kepercayaan tertentu turut meriuhkan gunung tersebut.

Mengenai jalur pendakian, menurut info yang kami dapat bisa melewati Malino yang berdekatan dengan jalur pendakian Bawakaraeng namun berbeda dusun. Jalur pendakian Lompobattang sisi utara diawali dari Dusun Lengkase. Dari Basecamp Bawakaraeng (Dusun Lembana) masih naik lagi. Kami belum tahu letak tepatnya sih karena kami saat itu melewati jalur yang lain yaitu Desa Malakaji yang merupakan jalur selatan.

Jalur selatan pendakian Gunung Lompobattang diawali dari Dusun Lembang Bu’ne. Memang masih termasuk wilayah Kab. Gowa, namun untuk menuju basecamp Dusun Lembang Bu’ne kita perlu melewati 2 kabupaten yang lain yaitu Takalar dan Jeneponto. Sangat jauh memang, saat itu kami yang menyewa mobil pick up menghabiskan 5 jam berada di atasnya sebelum akhirnya sampai ke basecamp. Dari Kota Makassar pukul 07.00 pagi menuju Kab. Gowa via Sungguminasa lalu melewati Kab. Takalar selanjutnya Kab. Jeneponto hingga masuk lagi di Kab. Gowa.

saat kami melintasi sebuah pasar di Kab. Jeneponto
Melewati jalanan aspal yang terlihat masih baru dan tentunya mulus, akhirnya kami sampai juga di wilayah Kecamatan Tompobulu. Mulai dari situ jalanan mayoritas berbatu dan banyak genangan air karena memang mulai masuk ke dusun-dusun menuju Desa Malakaji. Bagitu menemukan desa tersebut, saatnya mencari letak dusun dimana titik awal pendakian akan dimulai, yaitu Dusun Lembang Bu’ne. 

Kami cukup kesulitan saat hendak mencari basecampnya, padahal dusun yang dimaksud sudah kami temukan. Gampangnya, titik awal pendakian punya patokan yaitu sebuah masjid yang bernama Masjid Al-Ikhlas dan perijinan bisa dilakukan di kediaman Tata Juma. Perlu masuk ke jalan kecil berbatu di depan sebuah rumah tembok atau warga setempat menyebutnya rumah batu untuk sampai kesana. Rumah itu sangat mudah menjadi patokan karena di sekitarnya mayoritas rumah penduduk berbentuk panggung dan terbuat dari kayu. Mobil bisa melewati jalan berbatu yang cukup menanjak tersebut untuk menuju basecamp, namun tentunya mobil yang punya tenaga ekstra yaaa. 

kami ber-7 di depan Masjid Al-Ikhlas, Parambintolo

Kami tiba di Masjid Al-Ikhlas tepat sebelum kumandang adzan dhuhur. Karenanya kami sempatkan dulu untuk sholat dhuhur sekaligus ashar di masjid tersebut. Meski saat itu cuaca sangat panas terik, namun merasakan berwudhu dengan air disana serasa berwudhu dengan air es, brrrr.

Kami pun siap mendaki Lompobattang di tengah terik matahari siang itu. Gunung bisa terlihat jelas di depan kami namun tanah tertinggi yang nampak saat itu bukan puncaknya, tapi Pos 7. Dari bawah terlihat pendek memang, karena yang tampak bukan puncaknya. Puncak masih berada di sebaliknya yang entah masih sejauh apa kami harus melangkah. Usai berdoa kami mulai melangkah sedikit demi sedikit menuju puncaknya.

jalanan berbatu awal pendakian,
tapi jangan mengikuti jalan ini terus ya...


6 comments

Memukaunya Bawah Laut Pulau Karampuang, Mamuju
9/23/2014



Bukan hanya saya saja ternyata yang perlu menyegarkan pikiran setelah semingguan memandang layar  komputer dan mencium aroma berkas-berkas yang menumpuk, beberapa rekan sekantor pun senada dengan saya. Kali ini bakal menjadi trip pertama bareng teman-teman sekantor. Kami merencanakan trip ke Pulau Karampuang setelah mendengar dari kawan yang penempatan di Kota Mamuju sana kalau ada satu pulau di seberang kota yang punya keindahan bawah laut yang tak kalah dengan taman laut yang sudah tersohor. Biasa lah teman-teman memang pada suka menebar racun di dinding facebook berupa foto-foto keindahan di sekitar kota penempatannya. Nggak hanya yang di Mamuju, teman-teman yang di kota-kota lain di seluruh penjuru Indonesia pun sama. Penempatan pertama memang seru dan yang tak kalah seru adalah penempatan yang bagitu jauh dari rumah, termasuk saya.

Di kota penempatan sendiri sih sudah beberapa yang dieksplor keindahannya. Kali ini kami mau yang agak ke luar kota gitu. Jadilah Mamuju dengan Pulau Karampuangnya yang dipilih, apalagi banyak teman juga yang penempatan disana jadi ga perlu repot masalah inap-menginap.

Berangkat dari Majene pada pukul 9 malam menuju Ibukota Provinsi Sulbar tersebut,  kami menggunakan mobil sewa dengan tarif Rp 300.000,- per hari. Selama tiga jam kami akan mengarungi jalan poros Sulawesi Barat yang mayoritas berada di dekat garis pantai. Oiya, jalan poros menuju Mamuju bagi orang sekitar sini termasuk ekstrim karena jurang menjadi teman akrab selama perjalanan. Tak hanya itu, kontur unik daratannya yang berbukit-bukit meski memang dekat dengan laut menjadikan jalanannya berkelok-kelok tajam yang tak jarang membuat beberapa orang bakal mengeluarkan isi perutnya, tidak terkecuali beberapa dari kami pun ada yang muntah juga.
0 comments

Pendakian "REUNI" Bawakaraeng
8/27/2014



Sebagai seseorang yang ngakunya adalah pendaki gunung rasanya “gelar” itu lagi pantas tersemat lagi, pasalnya sudah kurang lebih 4 bulan tidak menyusuri jalan setapak panjang menanjak yang mengkontraksikan otot dengkul dan membelah dinginnya kabut di ketinggian. Semua itu karena kesempatan yang kian mahal harganya. Tanah yang ku injak sekarang pun bukan tanah Jawa lagi yang teramat banyak terpancang paku bumi buruan pendaki. Kini tanah yang ku pijak adalah tanah Celebes, tanah perantauan yang begitu dekat dengan laut. Ada yang mengatakan kalau saya sudah menyandang predikat baru yaitu “anak pantai” yang dulunya banyak teman tahu kalau saya adalah “anak gunung” yang kerap kali memposting foto keindahan puncak-puncak gunung di sosial media.

Meski “anak pantai” sekarang menjadi predikat baruku namun dinginnya angin gunung yang kerap membuat rindu selalu saja berat untuk ditinggalkan. Sulawesi Barat tempat ku kini berdiri memang tak ada gunung yang mudah dijangkau. Banyak sih bukit-bukit yang berjejer membentuk barisan perbukitan indah, tapi itu belum disebut gunung sepertinya. Sekalinya ada gunung disini perlu 14 hari untuk mendakinya, Gunung Gandang Dewata, pernah dengar?

Oleh karena itu gunung di Sulbar di-skip­ dulu, beralih ke provinsi sebelah yaitu Sulsel sepertinya cukup untuk meluapkan rasa rindu pada pendakian. Ada beberapa pilihan gunung yang bisa didaki, terlebih tak perlu belasan hari untuk mendakinya. Salah satunya yaitu Gunung Bawakaraeng yang lumayan menarik untuk dicoba. Dan gunung inilah yang menjadi pilihan untuk didaki setelah 4 bulan tidak mendaki.

Gunung inilah yang akhirnya menjadi pilihan untuk didaki. Pendakian di awal bulan Agustus 2014 ini menjadi pendakian reuni bagi saya dan teman-teman alumni STAN, selain itu juga menjadi gunung kedua yang ada di Pulau Sulawesi yang saya daki setelah Gunung Klabat di Minahasa Utara, Sulut di tahun 2012 lalu saat masih berstatus sebagai mahasiswa.

Oke, setelah berdiskusi membahas persiapan pendakian sekaligus ajak-mengajak teman lewat dunia maya akhirnya terkumpul 14 teman yang fix ikut mendaki Bawakaraeng. Jumlah yang cukup banyak memang, serasa pendakian masal saja. Hal itu memang karena Sulawesi Selatan menjadi lokasi penempatan yang lumayan banyak menampung teman-teman seperjuangan.

GUNUNG BAWAKARAENG

Gunung ini berada di Kab. Gowa, Sulawesi Selatan. Terdapat beberapa jalur pendakian untuk mencapai puncaknya. Diantaranya Jalur Dusun Lembana yang berlokasi dekat dengan objek wisata Malino dan Jalur Tasoso yang termasuk wilayah administrasi Kab. Sinjai. 

Gunung yang menjulang dengan ketinggian 2.830 mdpl ini berada pada posisi ke-5  di Prov. Sulsel jika dilihat dari ketinggiannya setelah Gunung Latimojong 3.440 mdpl, Gunung Tolangi Balease 3.016 mdpl, Gunung Kambuno 2.950 mdpl, dan Gunung Lompobattang 2.871 mdpl.
Dalam bahasa setempat “Bawakaraeng” mempunyai arti Bawa = Mulut,  Karaeng = Tuhan/Raja sehingga “Bawakaraeng” bisa diartikan sebagai “Mulut Tuhan”. Dibalik keindahannya, gunung ini ternyata menyimpan cerita mistis yang dipercayai masyarakat sekitar. Masyarakat percaya bahwa gunung ini merupakan pertemuan para wali. 

Selain itu terdapat pula ritual semacam ibadah haji yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha yang tentunya membuat jalur pendakian gunung ini menjadi ramai. Ritual tersebut dianggap menyamai dengan ibadah haji di Mekah, sehingga setelah berhasil mendaki gunung ini akan mendapat gelar Haji Bawakaraeng. Cukup menarik memang, bisa menjadi khasanah budaya yang dapat memperkaya nilai kebudayaan Indonesia. Sempat pula kami berpapasan dengan penduduk sekitar yang mendaki dengan membawa ayam dan makanan yang cukup banyak. Entah dibuat apa, tapi kata teman mendaki yang asli Sulsel bahwa ayam-ayam tersebut nantinya bakal dilepas di puncak. Mereka sangat ramah sekali, saat berpapasan dengan kami meski dengan nafas tersengal, mereka tetap tersenyum dan bahkan berjabat tangan dengan kami sambil mendoakan. Sungguh ini merupakan kesempatan langka dan baru pertama kali saya alami setelah sekian kali naik gunung.

bawa ayam tuh...

yang ini bawa apa yaa???
kambing kah???

semangat mbok...
Puncak tinggal 5 cm lagi

ramah banget lho, setiap dari kami disalami

yang ini ayamnya dikurungin,
eh ayamnya harus yg bulunya putih yak???

JALUR PENDAKIAN DUSUN LEMBANA

Dari beberapa jalur yang ada, kami memilih untuk menuju puncak Bawakaraeng melewati Dusun Lembana karena jalur ini yang paling mudah diakses dari pusat Kota Makassar. Rombongan kami yang sebagian besar dari pusat kota, rencananya bakal menuju Dusun Lembana dengan mencarter satu angkot atau dalam bahasa setempat disebut pete-pete dan ada juga beberapa yang menggunakan sepeda motor.
kebun di Dusun Lembana
Perjalanan menuju Dusun Lembana menghabiskan waktu cukup lama yaitu 3 jam dengan melewati Sungguminasa, Bendungan Bili-bili yang sangat luas, dan juga objek wisata Malino. Namun perjalanan selama itu tidak akan membosankan karena pemandangan di sepanjang jalan akan sangat memanjakan mata.
Begitu sampai di Dusun Lembana kami disambut dengan gumpalan awan kelam yang menutupi gunung. Kayaknya sih bakal turun hujan padahal tadi panas terik banget. Di dusun tersebut tak ada bascamp khusus yang dijadikan pos lapor dan perijinan. Hampir di setiap rumah bisa dijadikan basecamp. Biaya retribusi yang seperti kebanyakan gunung yang pernah saya daki pun tidak ada. Jadi begitu sampai kami langsung packing ulang sejenak, lalu langsung saja memulai pendakian.

Basecamp – Pos 1

Sebelum memulai langkah pertama, kami awali terlebih dulu dengan berdoa bersama agar setiap jengkal kaki mendekati puncak akan selalu dilindungi dan tak ada halangan satu apapun. Baru beberapa langkah berjalan, gerimis mulai jatuh membasahi kepala kami. Keluar dari Dusun Lembana kami menemui satu gapura yang seolah menyambut kami yang akan mendaki Bawakaraeng. Alih-alih reda, hujan malah makin mejadi hingga sepatu dan pakaian kami basah kuyup.

Melewati bak penampungan air yang pertama kami mulai dibingungkan dengan percabangan jalan. Kami saat itu memilih yang ke kiri. Jalan yang lebih menanjak itu bukannya salah, bisa kok sampai ke pos 1 tapi ternyata jalur yang benar adalah yang ke kanan. Pantas saja jalur yang kami lewati itu masih sangat rimbun bahkan sempat kita temui pohon tumbang yang melintang di tengah jalur yang seakan memberi petunjuk pada kami kalau jalur yang kami ambil bukan yang biasa dilewati. Sempat punya keputusan untuk berbalik arah, tapi sudah lumayan jauh pula kami berjalan. Bayu yang punya feeling kalau kami tidak salah jalan mencoba menerobos ranting-ranting pohon tumbang tersebut. Benar saja kami mendapat jalan setapak yang skhirnya bisa membawa kami ke Pos 1. Di perjalanan menuju pos 1 kami masih menemukan sapi yang digembalakan namun sang penggembala tidak tampak di dekatnya, mungkin sapi itu dilepas begitu saja memakan rumput segar Gunung Bawakaraeng. Jarak basecamp menuju Pos 1 menurut catatan kami adalah 1 jam perjalanan. Di pos pertama ini juga terdapat percabangan jalur yang mengarah ke Lembah Ramma yang juga merupakan tempat favorit para pendaki Gunung Bawakaraeng.

Pos 1 – Pos 2

Menuju Pos 2 jalur masih tak berbeda jauh dan belum ditemui tanjakan yang berarti. Hingga 45 menit perjalanan kami sampai di Pos 2 yang tempatnya cukup datar dan terdapat satu aliran sungai yang jernih. Kami memutuskan beristirahat di pos tersebut sekaligus sholat. Namun udara dingin dan hujan yang belum reda membuat kami enggan untuk mengambil air wudhu. Tapi dingin yang kami rasakan sudah tak kami indahkan lagi, sudah kepalang basah gitu soalnya. Begitu semua selesai kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Pos 3.

Pos 2 – Pos 3

Jarak Pos 2 ke Pos 3 cukup dekat, cukup 15 menit untuk sampai. Pos ini adalah pos yang cukup luas dan terdapat aliran sungai yang bisa digunakan untuk mengisi cadangan air. Kami tak singgah di pos ini karena masih belum terlalu jauh kami berjalan. Kami lanjut saja berjalan menuju Pos 4.

sungai yang ada di Pos 3

jernih dan seger banget

Pos 3 – Pos 4

Perjalanan menuju Pos 4 kami dimanjakan dengan pemandangan vegetasi yang begitu menakjubkan dimana terdapat pepohonan yang ditumbuhi lumut yang menempel di seluruh permukaan batangnya yang mengesankan bahwa kami sedang berada di tengah-tengah hutan lumut. Pos 4 ditandai dengan adanya satu tumpukan batu-batu ukuran tanggung yang tersusun menyerupai sebuah makam lengkap dengan nisannya. Kami menempuh perjalanan menuju Pos 4 selama 1 jam dari pos sebelumnya.

ini salah satu bagian dari hutan lumutnya

Pos 4 – Pos 5

Berjalan 45 menit melewati jalur yang masih datar sedikit tanjakan kami sampai di Pos 5, pos dengan tanah datar paling luas sehingga cocok untuk beristirahat. Kami pun menyempatkan rehat sejenak sambil mengisi perut dengan bekal yang kami bawa. Disitulah kami mulai bertemu dengan rombongan pendaki lain. Kami sempat diberi tahu kalau mereka tinggal disitu sejak tadi pagi dan tak berani naik karena menurut kabar pendaki yang turun tadi katanya di atas anginnya sangat kencang hampir menyerupai badai. Kami pun sempat merasakan sisa-sisa badainya di Pos 5, secara pos tersebut sangat terbuka.
  
indahnya Pos 5
ini dicapture saat perjalanan turun
saat naik mah hujan badai
  

Pos 5 – Pos 6

Kami memantapkan diri untuk melanjutkan perjalanan meski tadi ada pendaki yang mengabarkan bahwa sempat terjadi badai di atas. Tapi kami rasa keadaan sudah membaik sehingga kami beranikan diri untuk melangkahkan kaki kembali setelah rehat dan ngobrol sejenak dengan sesama pendaki. Trek di antara Pos 5 dan Pos 6 sudah mulai dijumpai tanjakan yang menguras tenaga. 

mirip pemandangan di gunung apa hayo ???
mirip dikit sama Hutan Mati-nya Papandayan kan...

Hujan ternyata sedang berpihak pada kami sehingga dia selalu setia mengiri perjalanan kami. Keadaan makin diperparah dengan banyaknya hewan penghisap darah yang bernama Pacet yang kadang bisa sampai masuk baju hingga kaus kaki. Dengan sabar kami pun akhirnya sampai di Pos 6 setelah melewati jalur becek dan licin selama sekitar 45 menit dari pos sebelumnya. Pos 6 ini cukup luas sebenarnya, bisa untuk mendirikan tenda namun karena hujan alhasil pos itu menjadi empang dadakan.

Pos 6 – Pos 7

Tak berlama-lama di Pos 6, kami segera lanjut ke Pos 7 yang ternyata kondisi dan kekuatan kami mulai diuji disitu. Trek makin berat dengan beberapa tanjakan curam dan licin. Gelap sepertinya hendak datang namun redanya hujan sepertinya masih jauh dari harapan. Pepohonan sekitar sungguh sangat rapat dengan ranting-rantingnya penuh lumut. Tak heran jika ada yang menyebut Bawakaraeng adalah salah satu gunung dengan hutan lumut yang termasuk yang paling indah.

hutan lumutnya asik buat poto-poto

Sebelum benar-benar gelap akhirnya kami sampai di Pos 7. Kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di hari pertama di pos ini dengan mendirikan tenda. Kami belum punya keputusan hendak melanjutkan lagi di jam berapa yang jelas hujan disertai angin kencang makin terasa di pos ini padahal termasuk pos yang tertutup. Tidak kebayang gimana keadaan di puncaknya.

Dini hari beberapa dari kami sempat terbangun dan melihat ke luar tenda. Ternyata bulan terlihat bulat sempurna dengan ditemani bintang-bintang bertebaran, namun sayang angin badai masih berhembus kencang yang menjadikan kami masih enggan untuk melanjutkan pendakian meski hujan sudah reda. Akhirnya pun hingga pagi menjelang kami hanya habiskan di Pos 7.

Keputusan terakhir yang kami ambil adalah tidak melanjutkan pendakian dan mencukupkan sampai di Pos 7 dari 10 pos yang ada mengingat nanti bisa terlalu siang sampai puncak dan nggak tahu jam berapa bisa sampai di basecamp lagi. Padahal ada beberapa dari kami yang dikejar waktu agar tidak tertinggal bus untuk kembali ke posisi masing-masing.

Pagi itu kami langsung turun dan beruntungnya kami masih diberi secercah harapan menikmati pendakian dengan cuaca cerah meski hanya saat perjalanan turun. Kami sempatkan mengabadikan pemandangan yang terhampar dengan jelas saat itu. Puncak yang ingin kami tuju pun terlihat, tapi kami hanya bisa melambaikan tangan ke arahnya. Insyaallah pendakian Bawakaraeng hingga puncaknya masih bisa dilanjutkan di lain waktu semoga mendapat cuaca cerah dari naik sampai turun lagi.


Sampai jumpa lagi Bawakaraeng…

Tunggu kami di puncakmu dan biarkan kami bisa merasakan segarnya udara pagi di Lembah Rama…





















12 comments

Menunggu Pesawat di Air Terjun Parang Loe
6/30/2014



Menunggu kata orang adalah hal yang paling membosankan, tapi bagi saya membosankan atau tidaknya tergantung bagaimana cara mengisinya. Setiap orang pasti punya cara masing-masing untuk menghibur dirinya sendiri di tengah saat-saat yang membosankan itu. Biasanya  gadget-lah yang bisa menjadi penghiburnya. Chatting, browsing, update status, nge-game, atau apa pun itu bisa dilakukan dengan gadget yang kian lama makin canggih saja.  Namun, bingung juga kalau jadwal penerbangan jam 5 sore sedangkan jam 5 pagi sudah sampai Makassar setelah perjalanan malam dari Majene itu mau dikemanakan 12 nya. Nunggu di bandara selama itu? Sudah nggak membosankan mungkin ya, tapi jadi mati gaya kekeringan “plonga-plongo” gak jelas. Jadilah rencana ngetrip singkat saya susun jauh-jauh hari setelah tahu kalau masih punya waktu luang 12 jam di Makassar sembari menunggu keberangkatan pesawat ke Jawa.

Sebelum itu sepertinya perlu juga kontak-kontakan sama teman yang ada di Makassar, siapa tahu bisa dapet tumpangan gratis atau tempat selonjoran sementara. Kali itu saya menghubungi Agung yang dulu juga sempat ngetrip 3 hari di Makassar bareng. Kebetulan juga waktu itu dia lagi ada motor, jadilah saya tak perlu susah-susah naik pete-pete beberapa kali untuk sampai di kantornya di Sungguminasa, Kab. Gowa. Sebab dia bersedia menjemput di sekitar Terminal Daya Kota Makassar. Okelah sip, trip kali itu makin lancar saja dengan adanya motor tersebut.

Singgah sejenak di KP2KP Sungguminasa, kami berpikir hendak kemana hari itu. Sekiranya tempatnya keren tapi nggak jauh-jauh amat dari lokasi kami saat itu. Hmm, tik tok tik tok… Pura-pura mikir padahal tempat yang dituju sudah saya pikirkan sejak lama dan bahkan menjadi dream destination. Air Terjun Parang Loe lah yang menjadi tempat pilihan yang pas untuk menunggu waktu keberangkatan pesawat saya. Lumayan dekat juga dengan Sungguminasa, berada di satu kabupaten yang sama malah. Menurut info yang saya dapat, lokasi air terjun berada di daerah yang namanya sama dengan nama air terjunnya yaitu Parang Loe, Kabupaten Gowa.

Menuju Air Terjun Parang Loe – Gowa

Saya sendiri buta daerah Makassar dan sekitarnya, apalagi daerah Kab. Gowa. Secara kami hendak menuju air terjun tersebut dengan motor, berarti mau tidak mau kami harus sedikit banyak tahu arah kemana-kemananya motor hendak dipacu. Kata Agung sih dia sedikt tahu arahnya. Hmmm, sedikit? Okelah, tak mengapa dari pada nggak sama sekali.

Air Terjun Parang Loe berada di kompleks Perhutani Kab. Gowa yang bisa dicapai dengan menyusuri jalan Poros Sungguminasa-Malino. Tau dong Malino? Malino merupakan kawasan wisata tersohor pula di Sulawesi Selatan. Berupa hutan wisata dengan beberapa spot menarik, termasuk ada beberapa air terjun disana. Tapi tujuan kami saat itu cukup ke Air Terjun Parang Loe saja, mengingat keterbatasan waktu yang saya miliki.
12 comments

Mencari Jodoh di Air Terjun Kalijodo - Pinrang
6/26/2014




Lebih dari sebulan sudah hidup menyatu bersama etnik Suku Mandar di Kota Majene, kalau dihitung-hitung mungkin lebih dari 5 pantai yang sudah saya kunjungi. Begitu banyak pantai disini, secara memang Majene merupakan kota pesisir. Satu hari pengen juga eksplore-eksplore keindahan alam lain yang ada, semisal pemandian air panas, air terjun, atau apa lah selain yang sudah mainstream yaitu pantai. Tapi bukan berarti sudah bosan dengan pantai loh ya. Sama seperti mendaki gunung yang meski sudah belasan kali mendakinya, saya tidak mungkin bisa bosan. Pantai pun demikian tak akan membosankan.

Satu pagi di akhir pekan, Pak Sute yang tak lain Kepala Seksi saya mampir ke kantor setelah hunting-hunting foto gembala kerbau di lapangan rawa pinggiran Majene. Beliau memang tengah tergila-gila dengan fotografi. Sejak perkenalan beberapa waktu silam beliau pun juga sempat cerita tentang hobinya itu pada kami. Pagi itu, setelah ngobrol-ngobrol sambil menunjukkan hasil jepretannya, saya pun juga cerita kalau sebenarnya saya juga punya hobi yang sama. Entah memang beliau lagi nyari teman hunting atau emang pengen ngajak kami yang nggak bisa jalan-jalan karena ga ada kendaraan, tiba-tiba nawarin untuk jalan-jalan ke air terjun. Bagai kejatuhan durian saja kalau saya diajakin jalan-jalan hehe. Saya oke-kan saja ajakan beliau. Tak lupa ngajak temen-temen yang lain sekalian, biar rame.

Rencananya kami mau ke Air Terjun Kalijodo di Kota Pinrang, Sulsel. Wew, sudah beda profinsi aja. Majene yang berada di Sulawesi Barat dan menuju Pinrang yang ada di Sulawesi Selatan. Emang jauh sih, tapi kalau beliau saja bela-belain mau kesitu berarti memang air terjunnya memang WOW.

14 comments

Sandeq, Perahu Khas Mandar yang Tangguh
5/20/2014




replika sandeq disamping Kantor Bupati Majene

Sandeq merupakan perahu tradisional Mandar yang juga menjadi perahu khas Majene dan sebagian besar wilayah Sulbar yang lain seperti Polewali Mandar dan Mamuju. Tak heran jika banyak monumen-monumen di tengah kota yang menggunakan bentuk miniatur sandeq. Kalau sekilas melihat perahu ini memang terlihat tidak asing, karena bentuknya mirip perahu bercadik dengan dua bambu di samping kiri dan kanan yang berfungsi sebagai penyeimbang. Tapi tentu sandeq bukan perahu bercadik biasa. Bentuk sandeq sesuai namanya sendiri yang berasal dari Bahasa Mandar yang berarti runcing. Bagian depan (haluan) dan bagian belakang (buritan) perahu ini berbentuk runcing dengan badan yang ramping. Sehingga memungkinkan bisa membelah ombak dengan mudah dan meluncur di lautan dengan cepat. Jangan meremehkan bentuknya yang mungil dan terlihat rapuh karena dibalik fisik perahu tersebut yang imut tersimpan ketangguhan yang luar biasa.

Kemampuan sandeq mengarungi lautan tentunya tak perlu dihiraukan lagi. Secara perahu ini sudah tercipta sejak masa silam (sekitar tahun 30an) dan telah banyak mengajarkan para pelaut Mandar untuk menjadi pelaut ulung. Pelaut yang bisa memprediksi kapan waktu yang tepat untuk melaut dan kapan waktunya untuk hanya memarkirkan sandeqnya di pantai atau di kolong rumahpanggung mereka. Waktu yang tepat bisa mendatangkan hasil tangkapan ikan yang lumayan melimpah. Sedangkan jika cuaca buruk, demi keselamatan biasanya para nelayan membiarkan sandeq-nya beristirahat dulu.

Dulunya perahu berlayar segitiga ini digunakan untuk pengangkut dagangan menuju pasar. Disinilah pengaturan waktu perlu direncanakan matang-matang, jika terlambat sedikit saja dagangan terancam tak laku karena pembeli biasanya akan memilih dagangan yang segar tentunya yang datang lebih pagi.

Di masa sekarang perahu yang dicat putih ini selain masih dipergunakan sebagai alat mobilitas perdagangan dan transport nelayan, sandeq mulai menjamah ranah wisata. Terbukti dengan banyak sandeq-sandeq yang sengaja dibuat untuk disewakan pada wisatawan yang ingin menjajal betapa cepatnya sandeq meluncur di lautan.

lepa-lepa (perahu bercadik kecil) yang disewakan di sekitaran Taman Kota Majene

kalau ini bisa disewa kalau lagi main ke Pantai Dato

ini sandeq yang bisa kita naiki saat acara Sandeq Race 2014
saat rombongan sandeq samapai di Pantai Bahari Kota Polewali
saya pun berkesempatan untuk mencoba sensasi menaikinya
2 comments