I'Manado

by - 06.34.00




"Balai Diklat Keuangan Manado, Jalan Mapanget Raya Km 0,5 Manado, Sulawesi Utara".

Di tempat inilah selama setahun kedepan saya akan menempuh study spesialisasi perpajakan, yang tak lain merupakan cita-cita saya sedari dulu. Terimakasih kepada orang-orang terdekat yang sudah mendoakan sehingga saya sampai disini.
Yaa, kesampaian juga keinginan saya yang satu ini akhirnya setelah perjuangan keras meraih cita-cita untuk bisa menempuh perkuliahan di kampus impian. Tentunya kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan walau harus merantau ke tanah orang, Manado, yang notabene jauh banget dengan daerah asal saya Salatiga....

Manado???
Mimpi apa semalem yak sampai-sampai akhirnya bisa berada di kota tersebut... 
Tapi saya cukup bersyukur karena dengan lokasi pendidikan di luar pulau, membuat saya bisa merasakan naik pesawat untuk yang pertama kalinya *-*.
Selain itu Manado juga banyak tempat-tempat menariknya yang bisa jadi tempat menghilangkan jenuh setelah sepekan berkutat dengan pelajaran di perkuliahan nanti, pikir saya.
Apa pun yang bakal terjadi nanti, semoga saya bisa cepat menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang baru. Termasuk menyesuaikan diri dengan Kota Manado itu sendiri.
Sebelumnya kalau mendengar Manado, yang ada di pikiran saya sih Bunaken. Selebihnya belum ada bayangan mengenai kota tersebut selain jaraknya yang sangat jauh hampir mendekati Filipina.
Biar lebih afdol kenalan dulu kayaknya yaa dengan Kota Manado ini...

Manado

Manado seperti yang kita tahu merupakan ibukota Sulawesi Utara yang merupakan provinsi yang di sebelah selatannya berbatasan dengan Provinsi Gorontalo yang tak lain merupakan hasil pemekaran wilayah Provinsi Sulawesi Utara. 
Sementara Kepulauan Sangihe dan Talaud merupakan bagian paling utara dari provinsi ini berbatasan dengan Davao del Sur di negara Filipina. Provinsi ini menyimpan banyak keindahan alam, budaya, maupun rohani yang sangat beraneka ragam. Hal ini jugalah yang mendasari predikat Kota Manadosebagai kota “Tinutuan” yang berarti campur bawur tapi menyatu, seperti makanan khas Manado yang juga bernama Bubur “Tinutuan”. Makanan khas ini bahan dasarnya merupakan campuran berbagai macam sayuran dan rempah-rempah, antara lain labu kuning yang juga disebut sambiki, beras, singkong, bayam, kangkung, daun gedi, jagung, dan kemangi, tidak mengandung daging, sehingga makanan ini bisa menjadi makanan pergaulan antarmasyarakat Manado. Makanan ini biasanya disajikan untuk sarapan pagi beserta berbagai pelengkap hidangannya, seperti misalnya ikan asin perkedel nike maupun perkedel jagung, sambel ikan roa, cakalang fufu (cakalang asap). 
Tinutuan dipakai menjadi moto Kota Manado sejak kepemimpinan Wali Kota Jimmy Rimba Rogi dan Wakil Wali Kota Abdi Wijaya Buchari periode 2005-2010, menggantikan moto Kota Manado sebelumnya yaitu Berhikmat. 
Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisata setempat antara tahun 2004-2005 memutuskan kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado, sebagai lokasi wisata kuliner makanan khas tersebut.

Perkuliahan

Sejauh ini kuliah di tempat ini sangat menyenangkan, ditemani kawan-kawan seperjuangan yang walau berada di perantauan yang jauh dari keluarga, kami sudah saling menganggap satu dan yang lainnya sebagai sebuah keluarga besar. Apalagi mayoritas yang berkuliah sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara di Balai Diklat Keuangan Manado adalah sama-sama berasal dari Jawa, jadi ada perasaan tenang dan saling menjaga diantara kami.
Disini kami memulai dengan janji dimana kita masuk di kelas sama-sama dan kita berharap akan lulus bersama-sama pula di suatu saat nanti. Kami harap juga lulus tidak hanya lulus, namun juga lulus dengan nilai yang membanggakan karena dengan mendapat nilai yang memuaskan itu akan lebih menjamin kami nantinya bisa ditempatkan di Instansi Keuangan tarutama dalam naungan Direktorat Jenderal Pajak yang tersebar di seluruh Indonesia. 
Saya juga harapkan dan mungkin banyak diantara teman-teman yang lain pun demikian, dengan usaha keras dengan mendapat nilai lumayan akan membawa kami dalam penampatan kerja yang tidak jauh-jauh dari daerah asal. Tapi tentunya semua sudah ada yang mengatur, kami hanya bisa pasrah saja dan melakukan yang terbaik.

di depan BDK Manado
Terlihat wajah salah seorang mahasiswa yang masih kebingungan karena baru beberapa jam menginjakkan kaki di daerah orang dan pastinya masih nge-blank tentang daerah tersebut.  Apa lagi masih dalam pencarian tempat kos yang akan menaunginya dikala hujan maupun panas dikala senang maupun susah kedepannya nanti. 
Berbekal pengalaman merantau sebelumnya yang lumayan agak lama dimasa penantian menuju kampus impian ini, sempat saya singgah untuk kuliah di suatu Institut Teknologi di kota Kembang yang membuat saya tidak terlalu kaget lagi untuk merasakan hidup yang bener-bener harus dikerjakan sendiri. 

Pencarian kos-kosan pun dimulai, hilir mudik kesana kemari dan akhirnya pencarian itu membuahkan hasil. Dapatlah satu rumah penduduk di suatu perumahan (Perumnas) tepatnya di Jalan Anggur 2 bernomor rumah 4, ya not too bad lah... namanya juga bukan daerah kos-kosan seperti kebanyakan universitas dan juga dari pada ga dapet.... Deal deh ngekos disitu dan bayar langsung setahun. Berarti setaun juga bakal nongkrong di rumah itu pas lagi gak ada kuliah.
Oiya, bingung juga kan kenapa kampus STAN ada di Manado??? Saya pun awalnya bingung. Bukannya kampus STAN itu ada di Bintaro, Tangerang kan yaa....
Baru tahun ini tepatnya tahun angkatan saya (2011-2012) sistem penerimaannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sekolah tinggi kedinasan yang satu ini memang penerimaannya berdasarkan kebutuhan di instansi dan tentunya menurut keputusan sang Menteri Keuangan Pak Agus D.W. Martowardoyo. Itu pula yang menyebabkan tahun ini lokasi pendidikannya tersebar di 12 tempat di seluruh penjuru Indonesia yaitu: Medan, Pekanbaru, Palembang, Jakarta (STAN pusat), Cimahi, Jogjakarta, Malang, Denpasar, Pontianak, Balikpapan, Makassar, dan Manado. Beruntunglah saya mendapat lokasi pendidikan yang paling timur *-*. 
Hari berganti-hari terasa lama di depan tapi makin kesini terasa cepat, ehm itu kayaknya sudah biasa bagi perantau yang masih labil kayak saya.... Perkuliahan pun setelah dijalani dengan ikhlas pun terasa cepat berjalan, hingga saat tulisan ini saya post alhamdulillah saya masih diberi anugrah kesempatan menikmati hidup.
Saat di kelas tidak tahu kenapa virus ngantuk selalu hinggap di jiwa, apa karena ruangannya terlampau enak sampai ngantuk tak bisa tertahankan. Ternyata virus tersebut tidak hanya hinggap di jiwa saya, banyak teman-teman lain yang juga dihinggapi virus yang sama.

Mau tau gimana kalo di kelas?????

ni ada beberapa tangkapan kamera saat perkuliahan, tentunya kondisi aslinya lebih seru daripada yang yang terlihat di foto...



pada liatin apa yo


ada selingan ditengah perkuliahan


wah parah nii saking ga kuat nahan kantuk


salah seorang teman yang entah tidur entah merenung


presentasi, seperti kebanyakan kuliah-kuliah yang lain





You May Also Like

2 komentar

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!