Kesan Pertama Tak Berbeda

by - 06.59.00


BDK Manado

Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung, pepatah ini sangat berlaku sekali dengan keadaan seorang perantau yang berada di daerah orang dan ia diharuskan untuk menaati aturan-aturan dimana ia berada. Berlaku pula bagi saya yang saat ini resmi berstatus sebagai perantau. Sebagai orang Jawa yang sekarang menempuh pendidikan di kawah candradimuka namun kawah itu berada di negeri nyiur melambai. Yaa,,,, saya saat ini menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang kebanyakan orang tahu jika kampusnya berada di Jakarta, namun saya berkesempatan menyandang status sama seperti mahasiswa STAN yang lain, namun bedanya tahun kali ini pedidikan dilaksanakan tersebar di dua belas Balai Diklat Keuangan di seluruh Indonesia, dan beruntunglah saya mendapat kesempatan menempuh pendidikan di Balai Diklat yang paling jauh daru pusat pendidikan STAN, tak lain dan tak bukan adalah di Kota eksotis dengan seribu keindahan “MANADO”. Mendengar nama kota ini, pasti yang terbayang pertama adalah Bunaken. Tak diragukan lagi memang keindahan Bunaken sudah tersohor seantero negeri bahkan sampai ke mancanegara. Kembali ke pepatah awal yang bisa disimpulkan pula bahwa saya juga mau tidak mau harus menjunjung dan menaati peraturan yang ada di daerah perantauan saya ini. Entah sama atau tidak anggapan baik menurut orang Jawa dan yang dianggap baik oleh orang Manado, saya harus mempelajarinya dahulu. Agar selama perantauan saya tidak dianggap sebagai pelanggar aturan setempat yang mungkin sudah saya anggap benar namun ternyata belum.
                Pada suatu senja pada tanggal 22 November 2011 sampailah saya di bandara Sam Ratulangi Manado dan terhitung mulai saat itulah saya akan menyandang gelar baru yaitu sebagai perantau. Yang entah sudah ada berapa ratus orang pendahulu saya yang jejaknya saya ikuti dan semoga nanti bisa bertemu disini. Karena dengan bertemu orang yang senasib sepenanggungan akan terasa selayaknya sudah menjadi suatu keluarga yang bisa mengobati rasa rindu akan keluarga asli di Jawa.  Sesampainya di pintu keluar bandara dengan teman seperjuangan yang berangkat bareng dari daerah asal, kami merasa masuk ke dunia lain yang amat sangat jauh  karena  dari angin-anginnya saja sudah terasa berbeda. Perasaan apapun itu yang berkecamuk dalam hati tetap dalam hati saya berkomitmen untuk berusaha menerapkan peribahasa yang di awal sudah disinggung.
                Jadilah saya sebagai penghuni rumah di Jalan Anggur 2 no. 4 Perumnas Paniki Dua Manado, tapi hanya sebagai mahasiswa yang selama setahun akan ngekos dirumah itu. Tentu hanya setahun saja sebab saya akan menempuh pendidikan D1 Perpajakan dengan lama study kurang lebih setahun. Dan saya ingat, saya hanya sebagai orang yang istillah kasarnya numpang saja sehingga saya akan berusaha untuk menjaga perilaku tidak seperti saat berada di rumah sendiri. 
                Hari demi hari berlalu yang hanyut akan rutinitas yang membuat saya belum menemukan sesuatu yang berbeda dan menarik di tempat baru saya ini. Namun sampai pada suatu saat setelah hidup disini beberapa waktu, saya menemukan sesosok hewan yang tidak asing lagi namun yang berbeda adalah jumlahnya yang terlampau banyak, yaitu anjing. Hampir di setiap rumah di kompleks memiliki hewan itu yang dijadikan sebagai hewan peliharaan yang memang saya tahu kalau hewan itu tipe peliharaan yang setia. Karena kesetiannya itu pula yang membuat saya agak enggan berurusan dengan hewan itu yang berarti bila bertemu orang baru hewan itu akan menganganggap sebagai musuh dan akan mengeluarkan gonggongan maut yang membuat bulu kuduk rontok. Mulai yang putih imut sampai yang hitam garang ada disini.  Saking tidak mau berurusannya dengan hewan itu sampai terbelesit pertanyaan, “Anjing takutnya sama apa yaa?”, sampai saat ini saya belum tau jawabannya. Hingga terceletuk pikiran untuk membuat percobaan dengan menciptakan racun anjing. Tapi sepertinya yang satu ini sudah termasuk tindakan kriminal dan celetukan itu seketika saya tarik ulang. Ada salah seorang teman sekelas yang mengatakan kalau sebenarnya anjing itu lemah. Mereka hanya kuat pada gertakan awal. Dia juga berkata kalo anjing sebenarnya takut dengan kucing. Kalau yang satu ini sepertinya butuh pembuktian dulu baru saya bisa percaya. Ia sudah pernah melihat saat ada seekor anjing dengan kucing sedang beradu satu lawan satu, mereka sama-sama tak ada takutnya, dua-duanya saling mengeluarkan geraman yang menurut saya lumayan tidak biasa dipertontonkan oleh hewan itu. Keduanya sudah mencapai batas emosinya barulah geraman itu dikeluarkan. Lalu sang kucing dengan gagah berani mencakar muka sang anjing dan anjing pun langsung K.O.  Berarti benar juga ya kata teman saya itu kalau anjing sebenarnya takut dengan kucing.
Namanya sebagai manusia pasti tak lepas akan aktifitasnya keluar rumah dan pulang lagi, yang menjadi pertanyaan adalah selama di luar rumah sudah berapa anjing yang menggonggongi.  Diluar itu saya mendapat ilmu tentang perilaku hewan tersebut yaitu jangan berlari jika digonggong anjing, karena memang benar kalau kita ketakutan saat digonggong anjing dan kita secara reflek berlari, maka seketika itu pula anjing akan menganggap kita sebagai pencuri yang entah benar atau tidak harus digigitnya. Kata orang bijak,“Kalau benar jangan takut”, hal ini bisa diterapkan pada saat kita digonggong anjing. Harus tenang, jangan panik, dan tetap melihat kedepan dengan berjalan perlahan. Suatu hari pernah terjadi dan memang kalau kita tidak berlari, anjing tidak mengejar kita  tapi bukan jaminan juga ia berhenti menggonggong. Selagi ada orang baru yang lewat tentunya akan menstimulasi anjing untuk menggonggong. Saat kejadian itu terjadi saya ingat untuk tetap tenang dan jangan berlari sehingga membuat anjing kaget, namun tetap saja rasa was-was itu ada dan dengan melirik sedikit ke arah sang anjing, ternyata memang ia hanya menggonggong saja dan tidak mengejar apalagi menerkam.
Dari perbedaan keadaan lingkungan yang ada disini dengan segala kelebihan dan kekurangannya, jika kita datang sebagai perantau alangkah lebih baik kalau kita sebelum menuju tempat perantauan mencari informasi sebanyak-banyaknya tidak hanya hal yang sudah umum namun juga sampai hal yang paling kecil agar penyesuaian atau adaptasi yang kita lakukan bisa berlangsung tanpa hambatan dan yang terpenting adalah dengan menaati peraturan yang ada.

Beberapa Suasana di Manado





You May Also Like

2 komentar

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!