Berburu Keindahan Kawah Ijen

by - 17:26:00



Perpisahan dengan Baluran diakhiri dengan diantarkannya kami berempat dengan ojek menuju pintu gerbang keluar taman nasional tersebut. Hari itu Jumat, 25 Januari 2013 jam sudah menunjuk pada pukul 10.45 tapi kami belum tahu lokasi masjid terdekat dengan tempat kami berada saat itu untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Kata bapak petugas yang mengantar saya, di desa sebelah timur taman nasional yang bernama Desa Sumber Anyar ada sebuah masjid, lalu kami pun menuju desa tersebut yang tak jauh dari pintu gerbang. Kami pun melangkah lurus mengikuti jalan desa dan akhirnya menemukan masjid di Desa Sumber Anyar.

Kami pun menunaikan Sholat Jumat di masjid itu. Selama khotbah dibacakan khotib, saya berusaha terjaga dan mendengarkan apa isi khotbah tersebut. Namun apa daya, karena keadaan yang melelahkan, mata ini pun terpejam dan yang saya tangkap dari khotbah itu intinya mengenai Maulid nabi Muhammad SAW yang memang karena sehari sebelumnya merupakan peringatan Maulid Rasulullah 12 Rabiul Awal 1434 H. 
Mungkin juga karena lokasi Situbondo yang hampir memasuki waktu Indonesia bagian tengah maka Sholat Jumat saat itu terasa sangat singkat karena pukul 12.15 sudah diakhiri. Biasanya saya mengalami kebanyakan Sholat Jumat yang diakhiri pada jam setengah satu. 

Setelah usai berberes terutama Uul yang melipat mukena dan memakai lotion dulu, saatnya kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya yaitu Kawah Ijen yang terletak di Banyuwangi bagian barat.

Kenalan dulu yuk dengan Kawah Ijen....    *-*

Kawah Ijen

Kawasan wisata ini masuk dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen dengan luas 2.560 hektare dan hutan wisata seluas 92 hektare. Gunung Ijen sendiri merupakan gunung api yang masih aktif yang tegak berdiri di ketinggian sekitar 2.384 mdpl. Terletak pada deretan gunung api di Pulau Jawa bagian timur yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. Kaldera Ijen merupakan kaldera terbesar di Pulau Jawa dengan diameter 6 km dan terbesar kedua di Indonesia setelah kaldera Gn. Tambora di Pulau Sumbawa NTT yang diameternya 7 km. 

Daerah pembuangan air kawah terletak sebelah barat yang merupakan hulu sungai Banyu Pahit dan Banyu Putih. Danau Kawah Ijen memiliki luas 45 hektare (3X luas Ranu Kumbolo) dengan garis tengah 950 meter dan memiliki kedalaman 176 meter. Letusan Gunung Ijen yang tercatat dalam sejarah hanya terjadi empat kali yaitu tahun 1796, 1817, 1913, dan 1936. 

Untuk melihat indahnya kawah yang diberi predikat kawah paling asam terbesar di dunia dengan tingkat keasaman atau pH mendekati 0 itu kita bisa melewati pintu gerbang sekaligus basecamp bagi wisatawan yang bernama Pos Paltuding

Menuju Kawah Ijen

Setelah berjalan meninggalkan masjid menuju jalan raya tak berapa lama kemudian bus jurusan Banyuwangi pun kami hentikan. Saya duduk di kursi paling depan dengan harapan bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Ternyata benar, pemandangan yang disajikan cukup mamanjakan mata. Dengan sebagian besar didominasi pemandangan bahari, saya sempat terpesona pada sebuah daratan di seberang Kota Banyuwangi yang berupa pantai pasir putih dengan garis pantai yang sangat luar biasa panjangnya. Setelah melihat peta ternyata memang Banyuwangi memiliki sebuah pulau kecil tak berpenghuni di perairan Selat Bali. Namun saya juga belum bisa memastikan kalau yang saya lihat itu apakah Pulau Tabuhan atau malah Pulau Bali bagian barat. Sepertinya sih kalau diterawang secara seksama saya lebih yakin kalau itu Pulau Tabuhan. 

Selain itu juga terlihat penunjuk objek wisata Watu Dodol. Saya pun juga belum tau ada apa di dalamnya. Dari namanya bisa ditebak kalau di objek wisata tersebut ada batu-batunya dari kata "watu" dalam Bahasa Jawa yang berarti batu dan "dodol" yang berarti berjualan. Tapi setelah saya browsing ternyata "Watu Dodol" adalah nama sebuah pantai berpasir hitam di Banyuwangi. Tempat itu memiliki tanda penunjuk dengan adanya sebuah batu besar di pinggir jalan, mungkin dari situ namanya menjadi Watu Dodol. Selain batu besar, objek wisata tersebut juga ditandai dengan sebuah patung gandrung yang bertuliskan Selamat Datang di Kabupaten Banyuwangi. 


Kami diturunkan di Terminal Ketapang pada pukul satu tepat. Setelah menginjakkan kaki di terminal itu, kami yang berencana pulang ke Jawa Tengah dengan kereta api dengan maksud agar lebih menghemat biaya, maka tujuan selanjutnya adalah Stasiun Banyuwangi.  Kami pun naik angkot menuju stasiun. 
Sesampainya di depan gerbang  Stasiun Banyuwangi kemudian kami turun dan berjalan menuju loket. Di tengah perjalanan, kami dihampiri sebuah angkot berwarna kuning dengan supir berkacamata dan berpenumpang hanya dua orang ibu-ibu berjilbab. Lalu kami ditanyai pak supir itu dengan logat Maduranya yang kental hendak kemanakah kami berempat. Kami pun menjawab mau ke Sasak Perot karena rangkaian perjalanan yang ada di itinary memang harus melewati tempat tersebut dulu. Pak sopir itu pun menawarkan jasanya untuk mengantarkan kami menuju tempat yang tersebut dan sekaligus membandrolnya dengan tarif Rp 8.000,-. 
Setelah kami pikir-pikir dibandingkan dengan yang ada di catatan perjalanan yang kami bawa  ternyata tidak terlalu berbeda jauh. Lalu kami ditanya lagi oleh pak sopir itu dimana tujuan akhir kami sebenarnya, kami pun menjawab serentak bahwa kami mau ke Kawah Ijen. Pak Sopir itu menawarkan lagi kepada kami untuk mengantarkan sampai Jambu yang merupakan lanjutan rangkaian rute menuju Kawah Ijen sebelum Paltuding. Tak lupa tarif yang ditawarkan disebutkan, yaitu Rp 20.000,- sampai Jambu yang kata beliau jaraknya memang jauh sekali dan tidak ada angkutan umum lagi. Menurut catatan perjalanan yang kami pegang memang dari Sasak Perot dilanjutkan dengan ojek yang tentunya lebih mahal. Kami pun memutuskan menerima tawaran bapak itu. Kami langsung masuk ke dalam angkot dan lebih dulu diantarkan ke stasiun sekaligus ditunggu sampai kami mendapat tiket. 

Sampai di stasiun ternyata loket baru buka pukul 2 siang padahal saat itu baru menunjukkan 13.30. Alhamdulillah, setelah bernegosiasi dengan dua ibu-ibu tadi akhirnya mereka bersedia menunggu sampai loket buka karena mereka jua tidak terlalu terburu-buru. 

Saya memilih menunggu di dalam angkot menjaga barang-barang, sedangkan tiga teman yang lain masuk ke stasiun. Saya didalam angkot banyak sekali melakukan percakapan dengan salah satu ibu di dalam angkot yang ternyata asli dari Jember hendak mengunjungi kerabatnya di Banyuwangi. Pembicaraan diawali dengan saling berkenalan hingga sampai dengan wejangan ibu itu kepada saya dan teman-teman untuk selalu berhati-hati dan berdoa selama perjalanan. 


Setelah menunggu hampir 5 menit saya mendapat kabar dari teman-teman kalau tiket untuk Hari Minggu sudah habis. Kami pun menuju Indomaret terdekat untuk memastikan lagi apakah tiket untuk Hari Minggu masih tersedia atau tidak. 

Yah, memang kami sudah ditakdirkan untuk memanfaatkan moda transportasi roda empat dari awal hingga akhir perjalanan. Di Indomaret pun kami juga mendapat hasil nihil....  *_*

Kami lanjutkan perjalanan menuju tujuan dengan sepanjang perjalanan kami mengorek informasi mengenai bapak sopir itu kenapa punya inisiatif menghampiri kami tadi. Umumnya kan penumpang yang mencari angkot, lha bapak ini malah yang menghampiri penumpangnya. Bahkan dikejar sampai  mendekati hampir stasiun. Beliau pun menjelaskan panjang lebar tentang betapa susahnya mencari penumpang di Kota Banyuwangi itu. Dengan perbandingan jumlah angkot yang lebih banyak dari kesempatan mendapat penumpang melalui trayek yang sudah ditentukan. Saat itu kami naik angkot bernomor trayek 6 dengan sekaligus diberi penjelasan mengenai kondisi tempat-tempat disekitar yang kami lewati dan spot-spot penting, termasuk menunjuk pada satu gunung yang memiliki status siaga yaitu Gunung Raung yang samar-samar terlihat di kejauhan. 

Pukul 14.10 kami ditunjukkan Pak Sopir kalau kami baru saja melewati Sasak Perot yang awalnya kami mau oper disitu. Ternyata benar adanya, setelah melewati terminal kecil itu kami tidak menemui angkot satu pun yang beroprasi kecuali satu angkot kuning yang berhasi kami dahului. Ternyata angkot tersebut ditumpangi lima anak muda yang Vandi dan Imam kenal. Mereka semua adalah mahasiswa di universitas yang sama dengan Vandi dan Imam. Kami pun lumayan bernafas lega karena dengan bertambahnya jumlah personil artinya nanti bisa share ongkos angkutan ke Paltuding     *-*. 

Pukul 14.45 kami sampai di Jambu dan kami pun saling bertegur sapa dengan rombongan itu yang nantinya kami akan bersatu menjadi satu rombongan bersembilan untuk menikmati keindahan Kawah Ijen yang eksotis. 
Kami direkomendasikan oleh penduduk setempat yang sedang duduk-duduk di warung untuk menyewa pick up saja karena truk pengangkut belerang kalau hari Jumat tidak beroperasi, sebab pada hari itu para penampang juga sedang libur tidak menambang belerang. 

Selang beberapa waktu ada sebuah pick up datang menghampiri kami. Setelah bernegosiasi akhirnya disepakati tarifnya sebesar Rp 350.000,- PP.
Kami pun diantar ke Paltuding ditemani sedikit mendung sesekali rerintikan gerimis terasa. Akses jalan menuju Paltuding dari arah Jambu sudah sangat bagus. Jalanan itu sudah beraspal dan tampak belum lama dibangun. Saya dengar jalan itu baru diaspal saat ada event Banyuwangi Tour de Ijen yang diadakan pada tanggal 7 – 9 Desember 2012 lalu. 

Tour de Ijen
sumber

@ Paltuding  ± 1850 mdpl
Kurang lebih pada pukul 15.30 kami sampai di gerbang pos Paltuding dengan disambut palang besi yang menutupi pintu masuk dan juga berspanduk “Temporary Closure….. bla bla bla”. Tapi semua itu tak menyurutkan niat kami untuk masuk ke dalam untuk menikmati keindahan Kawah Ijen di esok hari. 
Tak lupa kami kumpulkan uang untuk membayar setengah dari kesepakatan tadi dan sisanya kami bayar esok saat sudah diantar sampai Jambu lagi. 

Rp 350.000,- pulang pergi Jambu-Paltuding dibagi sembilan orang termasuk terjangkau dibandingkan kepuasan nanti yang akan kami dapatkan.
Kami masuk dengan menerobos palang besi yang melintang. Lalu kami menuju sebuah mushola untuk menunaikan sholat Ashar. Wow lantai musholanya dingin banget bro....   *-*

Usai sholat, kami mampir ke Warung Ijen Bu Im untuk membeli minuman hangat untuk  sekedar mengahangtkan badan di udara dingin Paltuding. 
Saat matahari mulai terbenam, terlihat rupa langit yang sangat indah disana. Kami pun terkagum-kagum akan keindahan sunset yang di tampakkan saat itu. Kami pun tak melewatkan moment itu untuk mengabadikannya. 


Keadaan sebenarnya tentunya lebih indah dari hanya sekedar foto....



Saat memotret sunset di atas kamera saya sudah dalam keadaan sekarat minta di charge namun kebetulan charger kamera lupa saya bawa. Tapi karena Vandi dan Uul masih memegang kamera dengan baterai yang masih memadai, maka saya biarkan saja kamera saya mati secara perlahan. Saat di atas nanti biar kamera mereka berdua saja yang bekerja. 
Setelah matahari benar-benar bersembunyi kami pun segera menunaikan sholat Magrib lalu mengisi perut dengan mie rebus di Warung Bu Im. 

Saat itu kami belum tau dimana kami akan tidur pada malam harinya, Vandi pun meminta ijin Bu Im untuk sekedar bisa tidur di warungnya yang buka selama 24 jam. Namun Bu Im menawarkan kami untuk tidur di sebuah pondok sebelah selatan warungnya yang tak berdinding. Bagi kami tidak masalah karena kami datang kesana untuk bangun di tengah malamnya untuk memulai perjalanan menuju puncak gunung, jadi tidak perlu tempat tidur yang terlalu nyaman.

Malam itu kami sempat ngobrol panjang lebar dengan salah satu penambang yang terasa sangat ramah kepada kami sejak kedatangan kami tadi sore. Pria yang kerap disapa Pak Yusuf itu menceritakan banyak tentang betapa keras kehidupannya beserta keadaan Kawah Ijen dari masa ke masa. Beliau yang sudah puluhan tahun menjadi penambang belerang tentunya sudah mengerti bagaimana keadaan di sekitar tempat itu secara detail. 

Beliau yang mengaku talah berusia lebih dari setengah abad namun lupa berapa tepatnya itu terdengar sangat kuat mengarungi kehidupan dengan cerita-ceritanya yang dituturkan kepada kami. Mulai dari kehidupannya sebagai penambang yang harus naik turun Paltuding-Kawah Ijen yang berjarak 3 km. Setelah sampai puncak gunung pun beliau dan penambang lain harus menuruni turunan curam ke dasar kawah untuk menggali "kepingan emas" dalam bentuk belerang yang mengalir dari perut bumi lalu memadat karena dinginnya udara. Sampai cerita lain mengenai kehidupan beliau dengan dilema untuk memilih "menggantung" sementara pikulan belerangnya untuk menjadi seorang guide bagi wisatawan. Pilihan antara menjadi penambang dan menjadi guide terasa kurang adil karena jelas-jelas usaha yang dikeluarkan lebih berat saat menjadi penambang, namun beliau mengaku pendapatan yang dihasilkan jika menjadi penunjuk jalan jauh lebih besar. 

Jika belerang satu kg dihargai Rp 780,- dan satu kali angkut beliau mengaku bisa memikul 80-100 kg belerang, namun kalau badannya sedang kurang fit hanya bisa memikul 50 kg. Namun di lain sisi jika menjadi guide, pendapatan yang bisa dihasilkan sebesar Rp 100.000,- untuk sekali mengantar wisatawan asing maupun lokal. 
Beliau menjelaskan kalau dirinya memang ditakdirkan untuk menjadi penambang belerang sehingga aktifitasnya lebih banyak dihabiskan untuk menambang belerang dari pada menjadi seorang guide

Cerita miris dari beliau yang mengaku hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SD itu adalah saat penimbangan belerang yang dilakukan sebanyak dua kali, di dekat pondok bunder (atas) dan di pos Paltuding (bawah) dengan peraturan yang dirasa kurang sportif. Penimbangan belerang yang menunjukkan berat lebih banyak saat ditimbang atas menyebabkan catatan selisih lebih hasil penambangan tidak dianggap. Lain halnya saat penimbangan akhir di Pos Paltuding jika menunjukkan angka yang lebih besar tapi anehnya catatan hasil penambangan tidak juga ditambah. 
Misalnya saat ditimbang di atas menunjukkan berat 85 kg dan saat ditimbang di bawah menunjukkan 80 kg, maka yang dianggap adalah seberat 80 kg. Namun, saat penimbangan di atas menunjukkan berat 70 kg sedang saat di timbang di bawah menunukkan angka 75 kg,  yang dianggap adalah yang 70 kg. Jadi penimbangan yang dicatat adalah hitungan penimbangan yang paling ringan di antara kedua tempat tersebut. 

Penambangan belerang di Kawah Ijen dikelola oleh PT. Candi Ngrimbi unit Banyuwangi dengan jumlah total penambang menurut Pak Yusuf sebanyak 500 orang yang silih berganti menambang.

Oiya, setiap penambang di Kawah Ijen harus terdaftar secara resmi lho... Dibuktikan dengan selembar kartu dengan nama, tanda tangan, dan masa berlaku yang tertera dan baliknya tercap tanggal dilakukan penambangan. Sehingga jika ada penambang yang tidak memiliki kartu tersebut belerang yang dibawanya tidak akan dihargai.







Pak Yusuf juga menawarkan kepada kami jika berminat menggunakan jasanya sebagai guide, namun beliau tidak ada sekalipun paksaan kepada kami. Kami sempat pikir-pikir sejenak, lalu kami memutuskan untuk naik tanpa guide saja karena memang ada salah satu dari rombongan yang sebelumnya pernah sampai kawahnya. 

Perbincangan malam itu pun kami akhiri karena sudah semakin larut. Beliau pun kembali untuk beristirahat dan begitu pula kami.


Next Day

Pukul satu tepat kami bangun untuk bersiap-siap trekking untuk menyaksikan secara langsung api biru atau blue fire yang berkobar di daratan dekat penambangan. Kabarnya fenomena alam itu hanya ada dua di dunia yaitu di Islandia dan di Kawah Ijen itu sendiri. 

Jam yang sudah menunjukkan pukul setengah dua menandai dimulainya langkah kami menuju Kawah Ijen yang berjarak 3 km dari tempat kami berada saat itu. Perjalanan menuju puncak kami awali dengan berdoa bersama. Pendakian dini hari tersebut kami tempuh dengan santai dan beberapa kali istirahat di tengah jalan karena rombongan kami memang lebih banyak ceweknya. 

Setelah berjalan menanjak 2 km yang didominasi jalan tanah berpasir yang licin, kami sampai di Pondok Bunder yang merupakan sebuah bangunan yang dibangun pada masa pemerintah Hindia Belanda. Bangunan itu berbentuk setengah lingkaran atau yang dalam Bahasa Jawa disebut bunder, sehingga dinamakanlah demikian. Fungsi utamanya untuk mengukur curah hujan per tahun. Disini kami beristirahat lagi mengumpulkan tenaga untuk menyelesaikan 1 km terakhir. 
Setelah total dua jam berjalan dimulai dari pos Paltuding, kami mulai melihat bibir kawah yang dipenuhi asap belerang yang mengepul dan menyesakkan dada. Terlebih angin saat itu mengarah ke tempat kami berdiri. Kami buru-buru memakai masker karena bau belerang makin tajam. Walau begitu, kepulan asap berbau khas belerang tersebut tak menghalangi kami untuk melanjutkan langkah mencari dimana letak api biru berada. Kami mengikuti rombongan turis di depan kami yang ditemani seorang guide menuju dasar kawah untuk melihat blue fire. Kami tidak langsung turun begitu saja, tapi harus menunggu beberapa saat hingga angin berhembus berlawanan arah dengan kami agar asap belerang tidak terlalu menusuk hidung.

Tak berapa lama angin pun berbalik arah membawa kepulan asap menjauhi kami sehingga kami bisa melihat dengan jelas api biru dari atas. Melihat dari jarak yang jauh saja tentunya belum memuaskan kami, sehingga kami memutuskan untuk turun ke bibir kawah untuk melihat secara langsung dalam jarak yang dekat. Dengan menuruni trek berbatu yang lumayan labil dan menuntut kewaspadaan ekstra, kami menuruni trek dengan jarak kurang lebih 900 m hingga bibir kawah yang juga dipakai para penambang. 

Waktu itu kami sudah mulai berpapasan dengan beberapa penambang yang hendak naik dengan pikulannya padahal hari masih gelap lho. Saat berpapasan dengan penambang sebaiknya kita mengalah dan memberi jalan kepada mereka. 

Kobaran api biru pun semakin dekat dan kami bisa melihatnya dengan jelas. Ternyata  blue fire itu secara alami keluar dari tanah lho, subhanallah sekali. Hal ini sangat luar biasa sehingga setelah kami mengabadikan kobaran api biru itu kami menunaikan sholat Subuh berjamaah di dataran agak lebih tinggi di dekat lokasi api biru tersebut. 

Di bibir kawah, kami juga ditawari souvenir yang terbuat dari belerang yang dicetak dengan berbagai bentuk yang unik dengan harga hanya Rp 2.500,- saja. Kami berempat membeli souvenir dengan bentuk yang sama yaitu kura-kura, karena saat itu memang yang sudah dicetak hanya bentuk kura-kura. Turis asal Jerman di dekat kami juga membeli souvenir dari belerang seperti yang kami beli namun berbentuk pesawat terbang, tentunya dengan harga yang berbeda dengan kami. 
Kata bapak yang menjualnya sih bisa buat mengobati penyakit kulit, di pakai buat sabunan mungkin yak..... *-*


oleh-oleh dari Kawah Ijen, Kura-kura Belerang


Setelah matahari mulai menerangi cekungan kawah, kami pun naik ke atas untuk menikmati pemandangan sekitar yang saat kami lewati tadi hanya gelap gulita saja yang terlihat. Memang sih kami melewatkan moment sunrise di puncak ijen saat itu, namun kami tak menyesal karena memang posisi matahari sedang ada di balik gunung di depan kawah. Gunung itu menghalangi keluarnya mentari pagi dari horizon, sehingga saat hari makin siang, barulah matahari mulai tampak. 

Sepanjang perjalan turun gunung kami pun menikmati pemandangan yang tak sempat kami nikmati saat naik.

Ternyata view saat matahari mulai meninggi sangat menakjubkan. Dihiasi perbukitan indah, gunung dengan bentuk lope lope, sampai Gunung Raung tegak menjulang di kejauhan dengan puncaknya yang khas gunung berapi yang aktif juga menambah sempurnanya pemandangan yang ada. 
Sepanjang perjalanan turun kami hentakkan kaki dengan berlari agar tak terlalu capek menahan beban tubuh dengan posisi tanah yang lumayan miring. 

Sampai di Paltuding kami beristirahat sejenak lalu sarapan nasi goreng di warung Bu Im  #lagi

Mobil pick up kemaren janjinya akan menjemput kami pada pukul 10 tepat. Namun baru sekitar jam 8 sudah terlihat sebuah mobil bak terbuka yang sama dengan yang kami naiki sehari sebelumnya diparkir di depan warung pinggir jalan. 
Karena semua rangkaian perjalanan saat itu sudah terselesaikan dengan beragam kepuasan dan kebanggaan pada Indonesia yang kami dapat, akhirnya kami semua berpamitan dengan pemilik warung yang sangat baik hati. Selanjutnya kami berjalan menuju jalan beraspal di depan pintu gerbang menghapiri pick up yang sudah siap mengantar kami. 


Sampai ketemu lagi Ijen semoga saat aku mengunjungimu lagi kelak, engkau masih seindah kini.....



Tabel Akses Transportasi, Lama Perjalanan, dan Tarif

*ongkos bisa saja berubah sewaktu-waktu


1
 T.N. Baluran – Terminal Ketapang
30 menit
Bus Jurusan Banyuwangi
Rp 5.000,-
2
 Term. Ketapang – Stasiun Banyuwangi  
5 menit
Angkot Kuning
Rp 5.000,-
3
 St. Banyuwangi  –  Jambu
1 jam
Carter Angkot kuning
Rp 20.000,-
4
 Jambu –  Paltuding
45 menit
Carter Pick Up
Rp 350.000,-
(Jambu – Paltuding – Jambu)
5
 Paltuding – Kawah Ijen
2 jam
Jalan kaki
GRATIS



Galeri Perjalanan kami di 


jalan yang masih anget-angetnya dibangun

Uul yang menikmati perjalanan di atas pick up

mak nyuossss...!!!

yang laper yang haus...  yang narsis #wew

keramahan pemilik warung....  cling cling **

galeri di dinding warung

blue flame yang WoW

sholat subuh yang luar biasa disamping subuh akhir Desember di Mahameru

semangat pak.....!!!

Terus mengepul tanpa henti

hati2 brooo...

Vandi, Uul, & saya

ukiran alamnya ajiibb

tosca tosca tosca exotic

view pegunungan dari Kawah Ijen

demi anak istrinya....

gak Bromo gak Ijen ketemunya bule Jerman

senyum semangat sebelum penimbangan, kali aja bisa menambah bobot


You May Also Like

11 komentar

  1. Kpn mau ngetrip mas?

    kabar2 yaaa

    ReplyDelete
  2. yantaaaaaaaaaaaaaa,,,,harus ya foto yang itu,,,haru juga ya lotion2 itu,,,hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
  3. @deean:

    :D
    hahahah lha emang lotionan dulu kan....

    ReplyDelete
  4. saya juga punya tuh kura-kura belerang :D

    Mahal juga ya dari Jambu ke Paltuding.

    Hoho jalannya dah dibangun, baguslah gak usah lewat jalan sengsara itu lagi kalau ke ijen :p

    ReplyDelete
  5. @El Cid:

    iya mahal siih, tapi bisa share ongkosnya kok.... makin bnyk orange bisa makin murah....

    ReplyDelete
  6. dulu pas ke sana ditawari naik pick up gratis, jadi ya ok ok aja, jadi gak ngrasain mahalnya ongkos transport ke Ijen :D

    Pengin balik ke Ijen lagi, sekalian pengin lihat kawah bulan sabit dan lapangan gypsum

    ReplyDelete
  7. @El Cid:

    weh, kok bisa gratis????

    kenal to sama yang punya pick up?


    kawah bulan sabit beda lagi tu sama kawah ijen????

    Lapangan gipsum yang kayak gimana? baru denger e

    ReplyDelete
  8. gak kok, pas itu karena jalannya masih jelek dan saking bingungnya saya buat lanjutin naik motor, saya mutusin jalan kaki. Nah pas jalan itu ada pick up yang kayaknya mau ke Sempol langsung bapaknya nawarin :D


    Kawah bulan sabit tu letaknya di gunung Merapi. Pas sampai di puncak Ijen kan ada gunung yang lebih tinggi kan di dekatnya, na itu gunung Merapi, aksesnya ya lewat Ijen

    Kalau Lapangan gypsum tu emang jarang fotonya di internet, cuma tahu lewat buku catper pendakian yang dibaca pas di toko buku -___-;)

    ReplyDelete
  9. Indahnya wisata "Kawah Ijen Banyuwangi".
    kunjungi juga http://www.ijentamansari.com layanan tour travel "Kawah Ijen - Bromo" dengan harga terbaik tour, Kawah Ijen Tour, Ijen Blue Fire Tour, Ijen Crater Morning Tour, Ijen - Bromo Tour,menikmati indahnya wisata jawa timur Kawah Ijen dan Bromo dengan Ijen Tamansari Tour. 

    ReplyDelete
  10. Travel ke Banyuwangi tidak lengkap jika tidak mampir ke Kawah Ijen. Wisata alam yang cukup membuat adrenalin dan energi terkuras. Jalur tracking yg cukup terjal antara start sampai pos 4 (pos warung). Rasa lelah saat mendaki terbayar lunas ketika tiba di kawah, pemandangan yang luar biasa.

    Travel Banyuwangi

    ReplyDelete

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!