Kaki Siap Melangkah ke MAHAMERU

by - 23.54.00


Semalaman ditemani dinginnya Ranu Kumbolo saatnya perjalanan yang masih panjang dilanjutkan. Perjalanan itu tak lain menuju Mahameru (3.676 mdpl), puncak Semeru yang diyakini menjadi tempat bersemayamnya para dewa. Tak hanya itu, puncak tersebut juga berpredikat sebagai tanah tertinggi di Pulau Jawa. Luar biasa kan....  *-*
Tempat itu juga disakralkan oleh sebagian masyarakat sekitar yang beragama Hindu, hingga masyarakat Bali pun juga demikian.


Masih beberapa pos lagi yang harus dilewati. Setelah menaiki Tanjakan Cinta dengan mitosnya tersendiri, kami dihadapkan pada hamparan savana luas yang bernama Oro-oro Ombo dan memang nama itu pantas disandangnya karena hamparan ilalang dan lavender yang saat itu mengering tumbuh di dataran yang sangat "ombo" dalam Bahasa Jawa yang berarti luas.

Turunlah kami di hamparan rumput yang ternyata kalau sudah berjalan diantaranya baru tersadar kalau tumbuhan itu lumayan tinggi. Sampai-sampai teman yang masih berjalan di belakang hanya terlihat seperti topi yang berjalan  *-* hehehe.

Setelah melewati Oro-oro Ombo kami pun singgah di Pos Cemoro Kandang. Disitu terdapat pohon tumbang yang bisa dijadikan tempat duduk. Sesuai namanya, tempat tersebut dipenuhi pepohonan cemara rindang yang lumayan menaungi pendaki.

Oro-oro ombo

Oro-oro Ombo setelah turun tanjakan


Cemoro Kandang

Kaki yang sudah melangkah berkilo-kilometer rasanya begitu tak terasa lelahnya karena terobati  dengan pemandangan ciptaan Sang Kuasa di setiap  langkah demi langkah kami. 

Pos selanjutnya yang kami singgahi adalah Jambangan yang berupa tanah lapang dengan rumput yang seperti ijuk khas pegunungan dan mulai tampak pohon Edelweis yang bunganya terkesan sudah lama sekali mekar karena warnanya sudah mendekati coklat tua. Selain itu di tanah lapang ini kami mulai melihat puncak yang akan kami datangi esok hari. 

Ya Allah betapa masih tampak sangat jauh disana puncak Semeru berdiri. Namun langkah kami tetap harus kuat melangkah hingga sampai titik akhir, hingga puncak para dewa tanah tertinggi Pulau Jawa  "Mahameru".
Beberapa meter melangkah  jalan masih terasa datar-datar saja. Hingga mulai mendekati Pos Kalimati jalan mulai naik turun.
Akhirnya sampailah di pos dengan ketinggian kurang lebih 2700 mdpl itu dengan hamparan tanah lapang dan beberapa pepohonan rindang. Disitu sebenarnya sudah bisa mendirikan tenda. Sudah banyak pendaki yang memutuskan untuk mendirikan tenda di Kalimati, terlebih disini terdapat sumber mata air yang terus mengucur. Mata air tersebut letaknya lumayan jauh. Perlu berjalan selama 30' dulu sebelum menemui mata air yang dinamakan Mata Air Sumber Mani itu.
Tak seperti sumber air sebelumnya yakni Ranu Kumbolo, mata air Sumber Mani tidak berupa kubangan  sehingga lebih jernih sejernih Akua   *-*.
Sayangnya kami tak sempat melihat sumber itu karena kami tidak berencana camp di Kalimati.

Kami lanjutkan perjalanan ke Arcopodo, tempat kami akan ngecamp sekaligus sebagai tempat persiapan ke puncak di pagi buta nanti. Jalur menuju Arcopodo kami rasakan mulai berat karena mulai menanjak dan harus menggapai akar-akaran pohon untuk bisa sampai ke atas.

Setelah melalui segala halang rintangnya, sampai lah kami di pos Arcopodo. Sejauh itu, medan menuju Arcopodo inilah yang paling berat dan melelahkan di sisa tenaga yang kami miliki.
Kami pun menentukan lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda, sempat terfikir untuk memilih lokasi yang lebih dekat dengan puncak, tapi akhirnya kami putuskan ngecamp di dekat tulisan papan Arcopodo padahal kami sempat menemukan tanah lapang lain di atas, dengan segala pertimbangan kami memilih lokasi itu saja.


Tidak lupa setelah tenda berdiri dan memasak air, kami bergegas menunaikan kewajiban kami yang sempat terlewat yaitu sholat dhuhur disambung sholat ashar karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 15.30.
Sholat sudah, saatnya makaaannn...  *-*
Masih dengan menu yang sama, yaitu mie campur sarden, diselingi dengan telur asin, plus abon, dan sedikit colekan sambel bajak.  Hmmm  komplit banget yak....

Perut sudah kenyang dan kami putuskan untuk tidur sejenak untuk meregangkan otot, terlebih hujan juga turun cukup lebat. Syukur alhamdulillah hujan turun setelah tenda kami dirikan. 

Tak terasa di luar tenda sudah terdengar keramaian. Setelah melihat jam ternyata sudah hampir jam 8 malem. Apaaah terlewat lagi dong kewajiban kami......
Niatnya tidur siang malah jadi keblabasan sampai malam....

Dingin semakin terasa saat kami terbangun. Kami memilih sholat di dalam tenda saja dengan posisi duduk karena keadaan yang kurang memungkinkan untuk sholat di luar.

Sebagai persiapan summit attack yang kami rencanakan berangkat pukul setengah satu pagi, maka kami akhiri aktifitas malam itu dengan makan malam secukupnya. Pukul 10 malam kami tidur dengan alarm siaga membangunkan kami di jam 12 nanti.

Next Day (24 Desember 2012)

Tak begitu nyenyak tidur saat itu karena dingin yang terasa semakin menusuk. Akhirnya alarm pun berdering dan kami segera bangun lalu mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa. Cukup dengan 1 daypack saja dalam satu tim untuk ke puncaknya.
Pukul setengah satu tepat kami mulai menyusuri dinginnya malam menuju puncak. Pendaki lain pun mulai ramai berjalan di depan tenda kami. Kami pun juga mulai melangkahkan kaki dengan diawali dengan berdoa terlebih dulu agar semuanya lancar.

Setelah berjalan beberapa saat kami sudah ada di akhir vegetasi dan hanya gundukan pasir maha tinggi yang kami hadapi saat itu. Sinar-sinar senter sudah mulai menyinari di atas sana yang tak lain berasal dari pendaki yang sudah jalan terlebih dulu nanjak. Kami pun mulai menginjakkan kaki ke pasir yang sangat labil karena disaat kami melangkah saat itu juga pasir yang kami injak melorot, sehingga rasanya percuma saja berjalan di atasnya. Semacam menapakkan kaki di atas trade mill saja. Namun hal itu tak menyurutkan niat kami untuk sampai di tanah tertinggi Pulau Jawa itu.

summit attack

pendakian dini hari

Sudah berjam-jam lamanya kami masih bergelut dengan pasir dengan batu-batu yang berukuran kecil hingga besar di kanan kiri jalur. Batu itu tentunya bisa kapan saja meluncur ke bawah dan mengenai pendaki di belakang.
Badan pun sampai ngesot di pasir Semeru namun rasanya kok tidak sampai-sampai di tujuan. Kaki pun terasa makin gempor. Sesekali beristirahat di bebatuan yang agak kompak untuk sedikit memulihkan tenaga. Bukannya capek yang hilang, tapi makin lama berdiam diri malah dingin makin sampai ke tulang.

Setengah lima saya sudah hampir mencapai puncak setelah melewati batu besar tanda Mahameru makin dekat.
Beberapa saat kemudian akhirnya saya sampai di puncak. Tapi saat itu saya sampai duluan sedangkan empat teman lain masih di bawah, saya putuskan menunggu mereka dengan duduk di balik batu karena angin saat itu lumayan kencang dan sangat dingin.
*Maap ya tak tinggal, tak kirain kalian deketan di belakang ku, ternyata lumayan jauh.....   *-* 

Saat sampai puncak saya menghampiri bendera di tiang dengan papan kecil bertuliskan Mahameru 3.676 mdpl. Saat itu juga di sebelah timur, gradasi langit mulai memerah tanda matahari mulai menyingsing. 
Tak berapa lama kami berlima bertemu di puncaknya dan segera menunaikan sholat subuh pertama kami di tanah tertinggi Pulau Jawa dengan atribut masih lengkap termasuk sepatu dan kupluk.
Subhanallah, maha besar engkau ya Allah telah menciptakan alam semesta seindah ini. Dari berbagai penjuru di puncak Mahameru tak hentinya mata ini memandang sekaligus mengabadikannya dengan kamera.

Dan Inilah Keindahan Mahameru


langit mulai terang

tanda puncak Mahameru

gradasi cantik langit Mahameru

di Mahameru

sunrise di Mahameru

Kawah Jonggring Saloko
ada yang galau tuh di puncak
Ketemu Mas Tyo "Jejak Petualang Survival" juga

di atas awaannn

saya turun, dia naik

gaya-gayanya bikin crop circle,
alien dari planet mana tuh yaa

Tabel Waktu Pendakian


PERPINDAHAN
LAMA WAKTU
Basecamp Ranu Pani – Pos 1
1 jam
Pos 1 – Pos 2
30 menit
Pos 2 – Pos 3
1 jam 15 menit
Pos 3  – Ranu Kimbolo  (Pos 4 ada di atas Ranu Kumbolo)
3 jam
Ranu Kumbolo  – Cemoro Kandang
45 menit
Cemoro Kandang – Jambangan
1 jam
Jambangan – Kalimati
30 menit
Kalimati – Arcopodo
2 jam
Arcopodo – Mahameru
4 jam
Ranu Pani - Mahameru
14 jam


Turun Gunung... *-*

Setelah puas menikmati keagungan kuasa-Nya yang menciptakan gunung sebagai paku Bumi, maka kami pun turun melalui jalur yang sama dengan kebanyakan kaki kami hentakkan dengan cara berlari menuruni jalur berpasir. Sehingga waktu 4 jam yang kami habiskan saat naik Mahameru seakan sangat kontras dengan setengah jam yang kami pakai untuk sampai di batas akhir trek berpasir dan mulai masuk ke daerah bervegetasi cemara. 
Kami duduk sejenak karena sepatu yang kami pakai terisi penuh oleh pasir gunung dan kerikil kecil. 
Dirasa istirahat cukup, kami kembali ke camp untuk beres-beres dan turun.

Kami berencana singgah sebentar di Ranu Kumbolo (lagi) untuk memasak dan makan siang sekaligus menunaikan sholat dhuhur dilanjutkan ashar tanpa mendirikan tenda. 
Suasana Ranu Kumbolo saat itu tampak masih cerah. Tapi saat kami menanak nasi, kabut tebal mulai bergerak ke tengah perairan yang pertanda akan turun hujan. 
Benar saja tak lama kemudian hujan deras mulai turun dan untunglah kami sudah mencium tanda hujan turun sebelumnya. Sehingga saat hujan benar-benar sudah menjadi deras, barang-barang kami sudah berpindah di teras bangunan sebelah barat di pinggir danau. 

Acara masak memasak pun kami lanjutkan di tengah kerumunan para pendaki lain yang juga ikut berteduh di bangunan yang sama. Setelah menu makan siang matang, kami pun mengisi perut kosong ini dengan semangkok nasi dengan lauk mie instant, sarden, dan telur asin. 
Karena perjalanan kami akan kami sudahi, maka sebagian perbekalan kami yang tersisa kami berikan saja kepada pendaki lain agar beban di tas makin ringan.

Hujan pun mulai reda, kami siap melanjutkan perjalanan turun dengan berdoa terlebih dulu. Kami mengambil rute yang berbeda dengan saat naik kemarin, yaitu dengan menyusuri pinggiran Ranu Kumbolo hingga sampai di camp area di sisi utara, kemudian berjalan ke kiri terus tanpa menaiki pos 4, sehingga kami menemukan padang rumput plus bukit kecil yang menyerupai bukit Teletubies. 
Rute yang kami lewati ini dinamakan rute Ayek-ayek karena nanti akan menaiki Gunung Ayek-ayek lalu menuruni bukit hingga sampai di pos lapor Ranu Pani.



Dari atas bukit dekat Gn. Ayek-ayek

Jadi inget Teletubies yaa......

Padahal ini perjalanan turun gunung tapi kok malah naik gunung lagi ya.....
Ya itulah memang jalur ini mengharuskan kami untuk menaiki Gn. ayek-ayek dahulu dengan sisa tenaga yang telah kami pakai untuk ke puncak Mahameru.

Langkah demi langkah kami pijakkan kaki ini untuk sampai di tanah paling atas dari Gunung Ayek-ayek. Dengan pinggiran jurang, mewajibkan kami untuk selalu waspada.
Akhirnya sampailah kami di puncak Ayek-ayek yang berkabut. Tapi ada sesuatu yang spesial. Di puncak itu kami disambut oleh suara mengaji dari speaker masjid di bawah sana dan kami pun mengucap Alhamdulillah karena kami akan segera sampai di daratan Ranu Pani.

Langit mulai gelap dan adzan Magrib pun sayup-sayup mulai terdengar di tengah perjalanan ini maka kami keluarkan senter yang kami bawa untuk menerangi perjalanan. Sudah hampir satu jam perjalanan menuruni dataran tinggi ini namun hingga adzan Isya pun berkumandang belum juga ada tanda-tanda keberadaan perkampungan.

Beberapa saat kemudian kami mulai menemukan titik terang dengan adanya kebun-kebun yang ditanami sayuran yang berjejer rapi dan juga lampu redup di kejauhan yang mulai kelihatan. Kami pun tersenyum karena ini sudah hampir masuk perkampungan. Kami sempat salah jalan dengan mengikuti jalan beraspal tanpa bebelok. Seharusnya saat ada belokan ke kanan kami berbelok. Namun inilah saat dimana salah jalan yang membawa berkah, karena kami yang bermaksud hanya meminta air putih di salah satu rumah warga malah ditawari untuk makan malam. Kami pun sempat sungkan, namun karena ajakan dari sang tuan rumah sekaligus fisik kami yang perlu diistirahatkan, kami pun masuk ke rumah tersebut dengan sambutan yang sangat hangat. Yap, hangat dalam arti sebenarnya, sebab kami saat itu langsung dipersilahkan masuk di tempat tungku perapian (dapur red.).
Ditemani kehangatan perapian atau "pawon" dengan tungku penanak nasi di atasnya, kami berbincang-bincang dengan pemilik rumah sembari sang istri memasak makanan untuk kami semua.
Beliau menceritakan banyak mengenai Semeru dan suka dukanya menjadi porter bagi pendaki yang memanfaatkan jasanya. Hingga cerita tentang saat-saat gunung cantik itu digunakan untuk syuting salah satu film yang termasuk sangat laris di penghujung tahun 2012 itu tuh...

Setelah kami kenyang dan mengucapkan terimakasih sebagai salam perpisahan, kami kemudian ditunjukkan jalan menuju pos lapor Ranu Pani dari rumah bapak itu. Kami diberi jalan pintas dengan melewati tengah kebun warga.
Akhirnya sampailah kami di jalan plesteran yang masih harus kami tempuh sekurangnya lebih dari satu km lagi untuk sampai Ranu Pani. Hujan kembali menemani kami di tengah perjalanan malam itu. Jas hujan pun kami pakai hingga kami sampai di pos lapor Ranu Pani. Segera kami melaporkan kedatangan dengan menyerahkan amplop coklat yang kami dapatkan saat perijinan serta menunjukkan sekantong besar sampah yang membuktikan bahwa sampah yang dihasilkan tidak kami buang di kawasan gunung.


Setelah pendakian Gunung Semeru yang pertama ini, saya juga melakukan pendakian yang kedua dengan teman mendaki yang berbeda... Ceritanya ada disini nih (click)




You May Also Like

3 komentar

  1. wah, endingnya sama banget dgn perjalananku ke semeru yg ke-2: turunnya lewat ayek2. pas di jalur itu rombongan kami udah kepayahan banget n ngeluh: nyesel lewat sini! haha. Tapi yg ngeselin selalu berkesan :"

    BalasHapus
  2. Seru mas, saya baca dari awal hingga akhir. semoga saya bisa ke semeru

    BalasHapus

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!