Dekat Salatiga Ada Candi Lho....!!!

by - 19.08.00



“Keluarlah maka akan kamu temui sesuatu yang baru disana” 
kutipan  inilah yang membuat saya menemukan banyak tempat-tempat yang belum pernah saya ketahui baik dari sumber lisan maupun tulisan. Ibarat orang belajar fotografi maka yang seperti inilah yang dinamakan otodidak. Tak perlu menunggu untuk mendapat ajaran dari seseorang yang sudah makan asam garam. Namun dengan kerap berlatih dan yang penting adalah praktek, maka dengan sendirinya akan menemukan sesuatu yang tidak didapat oleh sebagian orang yang hanya berdiam diri menunggu datangnya kesempatan. 

Sejalan dengan yang saya alami ketika berencana mengunjungi beberapa air terjun di sekitar Kopeng sampai perbatasan Magelang. Saat perjalanan pulang ke rumah, saya mengambil jalan berbeda dari yang dilewati saat berangkat yaitu dengan melewati jalan Magelang-Semarang yang nantinya akan berbelok menuju Sekolah Polisi Negara di Ambarawa.

Saat itu sedang hujan deras sehingga kendaraan pun saya pacu dengan kecepatan sedang. Di suatu ujung jalan setelah melewati objek wisata Bukit Cinta di pinggir Rawa Pening saya melihat satu papan penunjuk yang bertuliskan “Candi Dukuh” dan mengarah memasuki suatu desa. Tapi karena hari itu hujan dan sudah mulai sore saya memutuskan untuk hanya sekedar tahu saja bahwa di sekitar Rawa Pening ada satu peninggalan sejarah. Saya berniat suatu hari nanti bisa kesana tentunya saat hari sedang cerah.


Kembali ke Candi Dukuh

Suatu sore tepatnya seminggu yang lalu terhitung penulisan postingan ini, saya memacu motor menuju Banyubiru dari Salatiga sembari menunggu adik yang sedang ekskul Pramuka. 
Lokasi Candi Dukuh tepatnya ada di Desa Rowoboni, Kec. Banyubiru, Kab. Semarang. 
Dari objek wisata pemandian mata air Muncul masih sekitar seperempat jam lagi ke arah Bukit Cinta. Jalan menuju lokasi candi ini sudah beraspal dengan pemandangan bukit dan sawah yang indah. Saya yang hanya bermodal ingatan saja berusaha memutar kembali memori mengenai letak penunjuk lokasi candi yang tertancap di pinggir jalan. 

Tak lama kemudian akhirnya saya temui kembali papan penunjuk itu, namun saya masih terus saja memacu motor hingga sampai di depan gapura Bukit Cinta. 
Sampai disitu rasa penasaran kembali muncul mengingat selama hidup belum pernah memasuki tempat yang katanya sering digunakan untuk pacaran menikmati keindahan Rawa Pening yang penuh legenda itu. Saya putuskan untuk mampir sebentar sekedar berburu foto di Bukit Cinta.


Cerita di Bukit Cinta ada disini. 

Setelah puas hunting foto di Bukit Cinta saya langsung menuju lokasi tujuan awal yaitu Candi Dukuh. Setelah keluar gerbang Bukit Cinta dan melaju sekitar lima menit, saya belok kiri di gerbang desa. 
Ternyata masih harus menempuh jalan di tengah desa dulu untuk sampai di lokasi Candi Dukuh berada. Saya jalan lurus terus sampai ada penunjuk lagi ke arah kiri. Beberapa menit kemudian akan terlihat gapura kecil dengan jalan menuju candi yang terlihat menanjak tajam. 
Ternyata lokasinya benar-benar ada di pinggir Rawa Pening sehingga jika kita jalan lurus terus ke barat maka kita bakal menemukan kapal-kapal di pinggiran rawa.


Pintu Gerbang menuju Candi Dukuh
Tak banyak berpikir saya langsung memarkir motor di sebelah rumah warga dan segera mulai masuk gerbang candi. Jalan menuju kompleks candi memang agak sedikit melelahkan karena berupa anak tangga. Memang candi ini sengaja dibangun di atas satu bukit dengan tujuan tertentu. 
Karena berada di atas bukit ini jugalah yang membuat suasana menuju kompleks candi tersebut sangat teduh. Saran saja kalau memang benar-benar pengen kesana harus sedia air minum deh, karena bakal ngos-ngosan saat menaiki anak tangga itu. 

Setelah terlihat area candinya, yang membuat saya sedikit kecewa adalah gerbang masuk area candi digembok dan tak terlihat satu orang pun disana. Sebenarnya sih pagar yang membatasi candi tidak terlalu tinggi, dilompatin pun sebenarnya bisa tapi rasa was-was bakal terjadi hal yang diluar dugaan menghentikan niatan saya tersebut. Terlebih candi ini merupakan peninggalan masa lampau yang kental dengan aura mistis, hehehe *-*. 

Candi ini erat kaitannya dengan pelarian Prabu Brawijaya V menuju Gunung Lawu untuk menghindari peperangan dengan anak kandungnya yang bernama Raden Patah. Beliau juga merupakan Raja Demak yang berniat mengajak ayahnya memeluk keyakinan sama dengan dirinya yang beragama Islam. 
Karena latar belakang sejarah tersebut juga, kadang candi ini disebut juga dengan Candi Brawijaya.



anak tangga menuju kompleks Candi Dukuh

cukup lumayan sangat menanjak


Satu lagi yang membuat saya kecewa adalah keadaan candi yang hanya tinggal reruntuhan saja dan tidak diketahui bagaimana bentuk dan rupa candi ini sebelumnya. 
Tapi semoga hal ini sudah merupakan upaya paling maksimal dari pemerintah dalam melestarikan peninggalan sejarah dengan menjadikannya sebagai objek wisata. Namun upaya tersebut dirasa kurang tanpa disertai adanya pemeliharaan yang berarti, sehingga perhatian yang lebih banyak saya rasa sangat diperlukan untuk menjaga keutuhan bangunan candi tersebut.
Sekarang candi ini dibawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng. Terdapat pula pos penjagaan serta juru kunci yang bertugas merawat candi dan juga memberi penjelasan kepada pengunjung yang datang. Namun saat saya datang tidak ada seorang pun disana, padahal saya penasaran dengan latar belakang sejarah dibangunnya candi tersebut di pinggir Rawa Pening.

 kompleks Candi Dukuh yang pagarnya digembok 

tampak yoni di tengah bangunan utama candi

difoto dari luar pagar....  *-*


Semoga cagar budaya peninggalan sejarah ini masih tetap terjaga agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati bukti betapa negara ini penuh sejarah yang patut diketahui. Jika anda sedang ada di Salatiga atau main-main ke pemandian mata air Muncul atau pun objek wisata bukit cinta, mampir lah mengunjungi Candi Dukuh ini.


Tak hanya candi ini saja yang ada di Kabupaten Semarang dan sekitaran Salatiga tapi masih ada candi-candi lain yang sama eksotisnya yaitu Candi Ngempon yang ada di Kecamatan Bergas dan Candi Klero yang ada di Kecamatan tengaran.









You May Also Like

11 komentar

  1. salam kenal mas, anak stan yah ...

    aku lulusan prodip 1 2007

    salatiganya mana :D

    BalasHapus
  2. @isna saragih:

    Iyaa... Salam kenal juga...

    Wah satu SMA jg kah???

    Sy jg Prodip 1 lulus 2012, tapi dr BDK Manado...

    Getasan kok, atasnya Salatiga...

    BalasHapus
  3. ow ... getasan sebelah mana

    aku sma tengaran :)

    BalasHapus
  4. @isna saragih:

    oh Tengaran to...

    Skrg di KPP mn mas?

    BalasHapus
  5. Terima kasih ya Mas Yanta, postingan yang mengantar saya ke puncak punthuk Candi Dukuh. Selamat terus berbagi keindahan budaya dan alam. salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sama2 mbak... senang bisa berbagi...

      jadi uda ke candi dukuh nih... gmn kondsinya?
      bisa masuk ke kompleks nya gak mbak?
      semoga ga digembok deh pagarnya... hehe

      Hapus
  6. coba di postingkan candi klero mas...biar tambah komplit peninggalan2 di sekitar salatiga

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah saya posting jg tentang candi Klero mas...

      http://ardiyantaa.blogspot.com/2013/04/menengok-persembunyian-candi-klero.html

      Hapus
  7. gara-gara baca novel Nagasasra Sabuk Intennya SH. Mintarja, saya jadi penasaran dengan daerah seputaran Banyubiru ini. Di novel itu dideskripskan secara indah tempat ini. Ada lagi tempat lain yang saya duga tidak jauh dengan Banyubiru seperti Pamingit (Pingit?), Pangrantunan, Pegunungan Telamaya dll. nah, kalau mas Ardi belum baca, cobalah baca sampai habis buku ini buat memperkaya wawasan tentang masa lalu Banyubiru dan sekitarnya. saya jamin anda akan jatuh cinta dengan kisah itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih infonya mas... langsung saya cari nih novelnya...
      saya baca dulu...

      Hapus

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!