Tak Sengaja Mampir Bukit Cinta

by - 18.18.00


Rencana utama mengerjakan suatu hal memang terkadang akan terselip rencana-rencana dadakan yang tak terduga bisa dilakukan, tentunya yang merupakan hal menarik dong. Sama halnya dengan yang terjadi pada saya di hari Jumat selepas Ashar kurang dari dua minggu yang lalu. Saat itu saya pingin mengunjungi Candi Dukuh yang ada di sekitaran Rawa Pening. Saat hampir melewati gapura desa tempat candi itu berada yang ada di Jalan Raya Salatiga-Banyubiru terbelesit keinginan untuk menikmati Rawa Pening dari dekat terlebih selama ini belum pernah melakukannya, hanya bisa melihat dari jauh atau pun hanya sekedar lewat saja. Saya putuskan saat itu untuk menuju Objek Wisata Bukit Cinta dulu sebelum ke Candi Dukuh. Sering banget sih lewat tempat ini, tapi ya lagi-lagi cuman lewat. Mumpung ada kesempatan dan biar gak dibilang kuper karena objek wisata di dekat rumah sendiri masak belum pernah mengunjunginya. 
Masuklah saya ke Bukit Cinta melalui gerbang masuk yang sedang direnovasi. Setelah memarkirkan motor saya langsung menuju loket masuk yang bentuknya sangat unik yaitu menyerupai mulut naga raksasa yang menganga. Kalau pas beli tiket rasanya seperti masuk mulut naga beneran jadinya. Karena saat itu hari jumat maka dikenakan tarif hari biasa sebesar Rp 6.000,-. 


Bentuk naga yang ada di loket wisata tersebut tidak semata-mata hanya sekedar variasi bentuk bangunan saja, namun Rawa Pening menyimpan satu legenda yang mungkin sudah banyak yang tahu. Legenda terjadinya danau ini tak lepas dari sebuah naga raksasa yang merupakan jelmaan seorang anak kecil bernama Jaka Baru Klinthing. Karena cacat yang ada pada dirinya dan penyakit kulit yang menjijikkan, oleh penduduk sekitar dia dicemooh, dihina, dan diusir, namun dia tetap tersenyum tanpa ada amarah dihatinya. Dari legenda yang berkembang, diceritakan bahwa karena kesombongan penduduk sekitar maka Baru Klinting mengambil sebuah lidi lalu ditancapkannya ke tanah dan menyuruh satu-persatu dari penduduk sombong itu untuk mencabutnya. Tidak ada seorang pun yang bisa hingga akhirnya Baru Klinthing sendiri yang mencabutnya. Seiring dengan lidi tercabut maka keluarlah sumber air yang memancar deras tanpa henti yang akhirnya menenggelamkan satu desa dan desa yang tenggelam itulah yang akhirnya membentuk satu danau cantik yang bernama Rawa Pening. Kisahnya memang menarik, hingga satu program malam di salah satu stasiun tv "Dua Dunia" yang ingin menggali informasi mengenai kebenaran legenda yang berkembang tersebut melalui proses mediumisasi di lokasi ini. Setelah melihat tayangan ulangnya saya menyimpulkan bahwa legenda yang sudah tersebar luas tersebut memang terjadi sesungguhnya yaitu menurut narasumber yang tak lain adalah penjaga objek wisata tersebut mengatakan bahwa pada tahun 708 Saka atau menjelang abad 8 M ada seorang gadis cantik cantik bernama Dewi Ari Wulan yang sedang mengandung tetapi dengan status tanpa suatu ikatan pernikahan. Sebelum ia mengandung sempat satu hari dia meminjam pisau kepada seorang resi. Namun karena kelalaiannya pisau tersebut sempat dipangkunya, ternyata memang akan mendatangkan satu peristiwa yang tidak disangka yaitu pisau tersebut masuk ke dalam perutnya dan akhirnya dia hamil. Setelah waktunya tiba ia bukan melahirkan seorang bayi, yang ada malah seekor naga yang sedari lahir saat itu sudah bisa langsung berbicara. Saat beranjak besar naga tersebut menjelma menjadi seorang anak kecil seperti yang saya sebutkan tadi. Pada akhirnya ia mengadakan sayembara dengan menancapkan satu lidi yang bernama "Sadha Lanang" (sadha = lidi , lanang = laki-laki). Di mata umum pusaka itu berbentuk lidi namun sebenarnya pisau itu adalah pusaka pinjaman ibunya dari seorang resi. Lalu Baru Klinthing pun berkata kepada penduduk setempat bahwa siapa saja yang bisa mencabut lidi ini dari tanah berarti orang itu sakti. Tak seorang pun yang mampu, hingga dia sendiri yang mencabutnya. Karena kesombongan mereka, maka turunlah azab dari sang kuasa melalui Baru Klinthing lalu terjadilah Rawa Pening. 

Lain ceritanya dari hasil mediumisasi, bisa saya simpulkan bahwa cerita itu hanya sebuah kiasan saja karena tidak mungkin seorang manusia melahirkan seekor ular naga. Disebutkan oleh makhluk yang merasuk di salah seorang medium bahwa ular naga tersebut bagi tetua dulu merupakan suatu aib, maksudnya anak yang dilahirkan tetaplah manusia. Namun anak yang dilahirkan dari orang tua yang tidak memiliki satu ikatan pernikahan adalah sebuah aib. Maka ular lah yang dipakai sebagai perumpamaan suatu aib dari peristiwa tersebut. Sedangkan cerita asli tanpa ada kiasannya makhluk itu bercerita bahwa memang ada seorang gadis yang meminjam pisau pada resi atau tokoh yang ada. Dan ada suatu "hal" yang terjadi diantara mereka berdua. Namun seorang resi tidak boleh melakukan suatu ikatan dengan wanita. Memang sifat manusia yang penuh hawa nafsu, akhirnya wanita itu pun akhirnya mengandung. Dan pisau pusaka itu hanyalah perumpamaan dari kejadian tersebut. Karena malu, akhirnya sang resi pergi tidak tau rimbanya berada hingga kini, yang diketahui adalah keberadaan anak hasil hubungan meraka tersebut. Cacat fisik dan penyakit kulit itu juga merupakan gambaran dari keburukan suatu perbuatan yang hanya didasari oleh hawa nafsu belaka oleh orang tuanya. 
Di akhir percakapan sang medium berkata kalau ada satu kunci yang bisa diambil dan dipelajari untuk diterapkan di kehidupan yaitu kebaikan dan kesabaran dari seorang anak yang bernama Baru Klinthing itu. Sedang air yang keluar dari lidi yang dicabut itu juga memiliki makna, yaitu bahwa air adalah sumber kehidupan yang dibutuhkan setiap makhluk hidup. Dikiaskan pada sikap Baru Klinting yang sabar dan tanpa amarah menghadapi caci makian, maka kesabaran itulah yang menjadi sumber kehidupan bagi setiap manusia seperti layaknya air. Air yang menenggelamkan seluruh desa juga merupakan akibat dari kesombongan yang tentunya azab itu terjadi bukan karena kehendak Baru Klinting, melainkan itulah hukuman dari sang pencipta. 
Sejatinya memang Rawa Pening adalah sebuah pedesaan, sedang nama Rawa Pening itu hanya pemberian manusia jaman dulu. Tapi nama Baru Klinting adalah nama pemberian ayahnya yang sebelum pergi memberikan suatu benda yang bisa mengeluarkan bunyi-bunyian.
Jadi cerita Baru Klinthing dan Rawa Pening memang benar adanya, tapi bukan dari manusianya itu sendiri melainkan dari Tuhan agar bisa diambil suatu pelajaran. Dulunya memang ada sebuah mata air yang karena perubahan alam, maka akhirnya mata air itu mulai meluas dan jadilah Rawa Pening. 
Makhluk yang merasuki medium pun berpamitan dan dia mengaku kalau dia merupakan pertapa yang juga mengenal ayah dan ibu dari Baru Klinting.
Dari cerita yang berkembang atau pun dari penelusuran tim Dua Dunia kita sebagai orang beriman sebaiknya mengembalikan semua itu kepada Allah SWT, hanya Dia yang mengetahuinya karena Dia lah pencipta seluruh jagad raya ini. Cerita Baru Klinthing dibuat memang ditujukan untuk bisa diambil hikmah dan kebaikannya bagi manusia. 
Legenda tetaplah sebuah legenda.....

Rawa Pening penuh enceng 

Lepas dari legenda terjadinya Rawa Pening ini saya ingin segera masuk ke objek wisata dan menikmati keindahannya. Setelah mengantongi karcis, lalu naiklah saya melalui anak tangga menuju sebuah bukit yang ditumbuhi banyak pohon pinus. Pertama kali yang saya lihat adalah sebuah bangunan kecil yang di dalamnya terdapat sepasang Lingga dan Yoni yang tak lain adalah petilasan Ki Godho Pameling, mungkin dari bentuk arca lingga yang menyerupai bentuk "gadha" sejenis senjata untuk memukul musuh maka dinamakan demikian.



Di atas bukit saat itu sedang ada pembangunan suatu bangunan di tengahnya, mungkin nantinya dipakai sebagai tempat pementasan seni. Selain itu ada juga warung-warung milik masyarakat setempat yang menjual berbagai makanan dan minuman untuk pengunjung. 
Ada pula kursi-kursi untuk bersantai menikmati sejuknya udara dan tentunya keindahan Rawa Pening yang mistis sekaligus eksotis. Jika pergi kesana dengan anak-anak ada juga arena bermain untuk mereka. Kurang lengkap kalau ke Rawa Pening tidak berlayar ke tengah danaunya. Disana terdapat dermaga kapal motor khusus untuk mengantar pengunjung untuk menikmati rawa pening dengan berkeliling sampai tengahnya dengan tarif Rp 35.000,- per setengah jamnya maximal 8 orang untuk satu kapal.


Dermaga Kapal Rawa Pening

Rawa pening selain mendatangkan berkah bagi warga sekitar dari sektok wisatanya, ternyata dari enceng gondok yang tumbuh subur di permukaan airnya, yang semula dianggap pengganggu, ternyata juga bisa menjadi sumber rejeki. Dengan bermodal keterampilan dan ketelatenan penduduk maka batang enceng gondok bisa disulap menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomis yang lumayan. Dengan mengeringkan batangnya dan mengepangnya, tumbuhan air tersebut bisa dijadikan kursi, meja, dan berbagai kesenian lain yang bisa dijadikan cinderamata khas Rawa Pening.

Batang Enceng Gondok Rawa Pening

Mulai mengering

dikepang selanjutnya bisa dijadikan ornamen kursi, meja, dll

Selain itu ada pula cerita mistis mengenai Rawa Pening yang memakan korban  tenggelam saat memancing atau naik perahu, tapi kembali pada keimanan masing-masing apakah itu ada faktor "X" dari Rawa Pening atau memang dari kecerobohan manusia itu sendiri. Di sisi lain tempat inilah yang menjadi bukti betapa besarnya kuasa Allah SWT yang menciptakan sesuatu pasti ada hikmah dan manfaatnya. Seperti cerita legenda yang berkembang mulai menasional, dapat diambil hikmah bahwa sebagai manusia kita tak sepantasnya sombong.










You May Also Like

7 komentar

  1. mas, fotonya enak dimata :)
    salam mbolang :)

    BalasHapus
  2. mas salam kenal ya...
    klo ke bukit cinta dari arah semarang gimana ya? klo dari kampung rawa mananya ya? thx infonya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukit cinta itu sebelah selatannya rawa pening, kalo Kampung rawa itu kan di utaranya rawa pening. Jadi berseberangan.
      Kalo mau ke bukit cinta lewat banyubiru Mbak.

      Hapus
  3. keren nih... saya kalo dari pekanbaru kira2 kesasar gak ya mas?

    BalasHapus

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!