Memori Borobudur di Masa Kecil Kembali Muncul

by - 20:07:00



Masa kecil adalah masa-masa dimana itu merupakan waktu kita selalu dekat dengan keluarga. Berbeda ketika kini kita semakin tumbuh dewasa dengan kesibukan dan segala apapun itu yang menggelayuti diri yang menyebabkan waktu dimana bisa berkumpul bersama terlebih bisa ngetrip bareng keluarga makin berkurang atau bahkan sudah tidak ada kesempatan lagi untuk meluangkan waktu sebentar untuk melakukan satu perjalanan ke objek wisata bersama-sama.
Sejenak saya teringat satu waktu di masa kecil saya, dimana sekeluarga berwisata ke Borobudur. Saat itu dari rumah berangkat pagi dengan menggunakan bus menuju Magelang. Setelah sampai di Terminal Tidar Magelang ganti bus lagi menuju Borobudur lalu disambung dengan naik becak ke komplek Candi Borobudur. Seingat saya becak waktu itu dibayar dengan uang Rp 10.000,- dan kami merasa sedikit kecewa karena kami yang memang tidak begitu tahu seberapa jauh jaraknya dan akhirnya setelah tahu, ternyata tak terlalu jauh juga untuk sekedar jalan saja masih bisa sebetulnya. Tapi biarlah itu menjadi hiasan perjalanan kami dalam berwisata kala itu.
Sekarang dengan bergulirnya waktu hingga melebihi 5 tahun setelah perjalanan wisata menuju borobudur itu, saya pun seperti mendapat satu ketertarikan untuk kembali ke candi yang memiliki sejuta keindahan itu sampai-sampai menjadi satu dari Keajaiban Dunia dan menjadi warisan dunia UNESCO.
Sebenarnya pada satu pagi yang cerah di awal Maret 2013 itu saya mengeluarkan motor untuk mengetahui lokasi desa Wekas di kab. Magelang karena saya mau ada pendakian ke Merbabu lewat jalur tersebut, namun setelah tahu persisnya desa itu barulah rasa ingin bereksplorasi muncul hingga menarik saya untuk menuju candi megah itu. Mungkin ada paham aji mumpung juga saat itu. Mumpung ada di Magelang kenapa gak jalan-jalan aja ke Kotanya apalagi dengan domisili saya yang tak jauh dari Magelang saya lebih banyak melakukan perjalanan ke timur dari pada ke barat.
Setelah memacu motor berkeliling kota Magelang dan mulai paham kondisi dan tata kotanya, saya belum mau pulang hanya puas dengan sampai di pusat kotanya. Satu keputusan pun muncul untuk mengunjungi Candi Borobudur untuk kedua kalinya. Namun bedanya kali ini saya kesana hanya seorang diri dengan kamera yang kebetulan selalu menemani. Mantap dengan destinasi kali ini saya langsung ke arah Mungkid tanpa pikir panjang.
Menuju candi ini tidak terlalu sulit karena banyak banget petunjuk di pinggir jalan yang mengarahkan menuju Borobudur. Terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah candi ini mendapat predikat candi Buddha terbesar kedua setelah Ankor Wat di Kamboja. Setelah menebus tiket masuk sebesar Rp 30.000,- maka tanpa pikir panjang saya langsung masuk menuju tempat candi itu kokoh berdiri. Sebelum sampai di pelataran candi, pengunjung diwajibkan memakai selendang batik khas Borobudur yang disediakan gratis oleh pihak pengelola. Setelah memakai selendang tersebut langsung saja saya menuju pelataran candi dan membidikkan lensa kamera ke segala sudut Candi Borobudur.



Arti Borobudur

Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Ada juga yang mengatakan nama Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Selain itu penafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”. Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.
Masih berdasarkan prasasti Karang Tengah dan ditambah dengan prasasti Kahuluan, J.G. de Casparis dalam disertasinya tahun 1950 mengatakan bahwa Borobudur diperkirakan didirikan oleh Raja Samaratungga dari wangsa Sayilendra sekitar tahun Sangkala rasa sagara kstidhara atau tahun Caka 746 (824 Masehi) dan baru dapat diselesaikan oleh puterinya yang bernama Dyah Ayu Pramodhawardhani pada sekitar tahun 847 Masehi. Pembuatan candi ini menurut prasasti Klurak (784 M) dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya dan seorang pangeran dari Kashmir yang bernama Visvawarma.



Perjalanan Riwayat Borobudur

Candi ini baru ditemukan kembali pada awal abad ke-18 setelah beberapa abad ditinggalkan dan telah tertutup oleh semak belukar. Waktu itu (1814) Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, menerima laporan tentang keberadaan sebuah bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Raffles kemudian mengutus salah seorang perwiranya yang bernama H.C. Cornelius untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan oleh Cornelius selama dua bulan dengan bantuan sekitar 200 orang penduduk setempat, maka tampaklah bangunan candi yang selama ini telah tertutup oleh semak belukar.
Pada tahun 1825 diadakan pemugaran kembali pada bangunan candi sehingga bentuknya menjadi semakin jelas. Sembilan tahun kemudian, saat Belanda berkuasa, Residen Kedu yang bernama Hatmann membersihkan candi ini lagi. Dan, setelah diadakan tinjauan untuk penelitian lebih lanjut pada tahun 1842, maka pada tahun 1873 monografi pertama tentang Candi Borobudur diterbitkan. Namun sayang, pada tahun 1896 pemerintah Hindia Belanda, melalui Residen Kedu, mengambil beberapa patung Buddha, 30 relief, dua patung singa, tangga dan gerbang dari candi ini untuk dihadiahkan kepada Raja Siam Chulalangkorn. Benda-benda tersebut saat ini tersimpan di Museum Bangkok, Thailand.


Pada tahun 1900 pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah panitia pemugaran dan perawatan Candi Borobudur. Setelah panitia terbentuk, pada tahun 1907 hingga 1911 Borobudur direstorasi besar-besaran. Pimpinan restorasi tersebut adalah Ir. Theodorus van Erp, seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu yang kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai dari bentuk bangunan hingga falsafah dan ajaran-ajaran yang dikandungnya. Bahkan, ia sempat melakukan studi banding selama beberapa tahun di India dan Sri Lanka untuk melihat susunan bangunan stupa Sanchi di Kandy dan membandingkannya dengan Borobudur.
Hasil kerja panitia yang dipimpin oleh Theodorus van Erp sebenarnya memuaskan, namun karena karena proses alam yang tidak bisa dicegah (hujan dan panas), maka bangunan candi menjadi rusak kembali dan bahkan ada beberapa bagiannya yang mulai miring, renggang dan amblas. Untuk itu, pada tahun 1926 pemerintah Hindia Belanda memugarnya kembali. Sayangnya, pada tahun1940 terjadi krisis malaise dan Perang Dunia II sehingga proses pemugaran Borobudur terpaksa dihentikan.


Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956 pemerintah meminta bantuan UNESCO untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur. Usai diteliti oleh seorang utusan UNESCO dari Belgia yang bernama Dr. C. Coremans, pada konferensi-15 di Perancis tahun 1968 UNESCO setuju untuk memberi bantuan bagi pemugaran Borobudur. Pemerintah Indonesia kemudian membentuk International Consultative Committee (badan pemugaran Borobudur) yang diketuai oleh Prof. Ir. Roosseno. Selanjutnya, pada tahun 1972 UNESCO mengucurkan dana sebesar 5 juta dollar Amerika sebagai biaya pemugaran Borobudur. Sisanya sebanyak 2,750 juta dollar lagi berasal dari pemerinah Indonesia.
Pemugaran Candi Borobudur dimulai pada tanggal 10 Agustus 1973 yang peresmian pemugarannya dilakukan oleh Presiden Soeharto. Pemugaran tersebut berlangsung hingga tahun 1984 dengan hasil yang hampir sempurna. Namun, satu tahun kemudian terjadi serangan bom yang dilakukan oleh kelompok Islam ekstrem yang dipimpin oleh Habib Husein Ali Alhabsyi. Serangan itu membuat beberapa stupa pada candi harus diperbaiki. Dan, pada tahun 1991 Candi Borobudur ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia.


Konstruksi Candi Borobudur

Candi Borobudur terbuat dari 2 juta potongan batu berukuran rata-rata 25x10x15 sentimeter dengan tinggi 34,5 meter. Bangunannya berbentuk punden berundak berukuran 123x123 meter yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk lingkaran dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatnya melambangkan tahapan kehidupan manusia hingga mencapai Buddha, sesuai dengan mashab Mahayana.
Bagian kaki candi melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh “kama” atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga. Cerita Karmawibhangga memberi gambaran tentang segala perbuatan manusia beserta ganjaran yang akan diberikan bagi perbuatan-perbuatan tersebut dalam sebuah lingkaran lahir-hidup-mati (samsara) yang tidak pernah berakhir. Sebagai catatan, setiap panel pada Candi Borobudur bukanlah merupakan sebuah cerita serial, melainkan masing-masing menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab-akibat. Cara membaca panel-panel relief tersebut sesuai dengan arah jarum jam (mapradaksina) yang dimulai dari pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang.


Empat tingkat di atas kaki candi dinamakan Rupadhatu yang berarti manusia yang telah dapat melepaskan diri dari hawa nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Relief-relief yang terdapat pada bagian Rupadhatu ini diantaranya adalah: 
Laitawistara yang merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita dan berakhir dengan wejangan pertamanya di Taman Rusa dekat Kota Banaras, 
Jataka dan Awadana. Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan penonjolan perbuatan baik yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain. Sedangkan, Awadana pada dasarnya hampir sama dengan Jataka, namun pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, dan 
Gandawyuha yaitu cerita tentang Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari “pengetahuan tertinggi tentang kebenaran sejati”. Penggambaran cerita Sudhana ini didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha dan untuk bagian penutupnya berdasarkan kitab Bhadracari. Sebagai catatan, selain relief pada bagian Rupadhatu ini juga terdapat patung-patung Buddha yang diletakkan terbuka pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar. 


Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief dan lantainya berbentuk lingkaran. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud. Arupadhatu melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa dan bentuk, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha yang berada di bagian Arupadhatu ini ditempatkan di dalam stupa yang berlubang-lubang seperti kurungan.



Tingkat paling atas disebut Arupa yang melambangkan ketiadaan wujud untuk mencapai nirwana. Di tempat ini hanya terdapat sebuah stupa besar tanpa diberi “kurungan berlubang”. Pada stupa besar tersebut pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang dahulu dianggap sebagai patung Adibuddha. Namun, setelah diadakan penelitian lebih lanjut, para arkeolog berpendapat bahwa tidak pernah ada patung pada stupa utama. Patung yang tidak selesai itu diperkirakan merupakan patung yang tidak sempurna yang ditinggalkan begitu saja, sebab ada kepercayaan bahwa patung yang salah dalam proses pembuatannya tidak boleh dirusak. Jenis-jenis patung yang tidak sempurna ini banyak ditemukan di sekitar candi pada saat diadakan eskavasi.

Pelataran Candi Borobudur

Candi Borobudur

Arca Budha di Candi Borobudur

Arca Budha

Kompleks Museum di Candi Borobudur

Kapal Samudraraksa di Museum Kapal - Borobudur

Dikelilingi oleh Pegunungan Menoreh, candi ini makin terkesan sengaja diciptakan untuk sebuah kesempurnaan mahakarya. Selain itu juga berada di sebelah barat Gunung Merbabu dan Merapi juga berada di sebelah selatan Gunung Sindoro dan Sumbing membuat semakin menakjubkan saja peninggalan sejarah ini. 
Menikmati keindahan Borobudur tak hanya dengan datang langsung ke kompleks candinya, kita bisa menikmatinya dari kejauhan dengan mendaki bukit di sebelah selatan yang dikenal dengan Punthuk Setumbu yang dipadukan dengan pemandangan hangatnya sunrise. Namun yang satu ini belum pernah saya coba, semoga satu hari bisa kesampaian mengabadikan momen sunrise dengan dipadukan mahakarya luar biasa Candi Borobudur.









*semua foto di atas adalah dokumentasi pribadi


You May Also Like

4 komentar

  1. keren banget fotonya..
    eh pake kamera apaan sih..pake filer jg yaa...
    pas banget ...
    iso, f, speed pake ukuran berapa...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pake filter CPL om...

      Settingan cuma sekitar f/7an sama 1/80an iso 100 terus...

      Yang paling pengaruh cuacanya om, beruntung dpt pas cerah keren...

      Delete
  2. Thanks infonya min :)
    Semoga aja warisan nenek moyang ini tetap terjaga.

    Agan-agan juga bisa melihat Kemegahan Candi Borobudur dengan foto virtual. Lihat di sini:

    http://indonesiavirtual.com/index.php?option=com_jumi&fileid=11&Itemid=109&id_img=499

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin-amin semoga anak cucu masih bisa menikmati keindahan dan kemegahannya...

      sip-sip virtual 360 degreenya yahud bro...

      Delete

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!