Sepenggal Kisah Pendakian Merbabu

by - 08.26.00


Hasrat naik gunung makin menggebu setelah terakhir kalinya naik gunung di akhir desember tahun lalu ke Semeru. Kali ini saya mencoba untuk join trip di forum backpacker Indonesia yang kebetulan menemukan satu open trip ke Merbabu. Saya yang sudah bertahun-tahun hidup dengan naungan Merbabu di satu desa di kaki gunung cantik tersebut, hanya baru sekali mendakinya dan itupun hanya sampai pos satu lewat jalur Ampel karena saat itu hanya pendakian iseng dengan teman SMA. Perbekalan yang dibawa saat itu pun sangat terbatas. Jangankan perlengkapan pendakian yang memadai, saya saja hanya membawa tas sekolah selempang yang diisi dengan perbekalan iseng juga, hanya beberapa mie instan dan jajanan kecil lainnya. Alhasil pendakian saat libur kenaikan kelas XI SMA tersebut berakhir dengan mendirikan tenda di Pos 1 . Setelah menikmati sunrise, kami pun langsung turun.

@Merbabu
Maka dari itu kali ini saya berkeinginan untuk mendaki Merbabu untuk menyelesaikan misi jaman SMA yang belum terselesaikan, selain memang gunung ini terhitung yang paling indah di Jawa Tengah terlebih juga dekat banget dengan rumah.
Sebenarnya jalur pendakian yang paling dekat dengan rumah saya adalah jalur pendakian Gunung Merbabu Thekelan dan Cunthel yang keduanya sama-sama berada di Kopeng. Namun trip dalam forum yang saya ikuti kali ini berencana mau lewat jalur pendakian Gunung Merbabu Wekas di Kabupaten Magelang. Menurut yang saya dengar sih rute tersebut yang paling pendek dan nyaman bagi pemula. Senada pula dengan yang dikatakan Si empunya trit pendakian tersebut, banyak yang masih newbie jadi dipilihlah jalur Wekas.

Jalur Pendakian Merbabu - Wekas
Dimulai pada hari Sabtu, 9 Maret 2013 tim yang kebanyakan dari luar kota itu berangkat menggunakan KA tiba di Stasiun Tawang pada pagi harinya dan langsung menuju Salatiga.
Pada pagi hari itu juga saya menghubungi ketua tim yaitu Bang Andi Racka untuk menanyakan kapan rombongan kira-kira sampai di Pos Wekas karena saya langsung ketemu mereka di TKP saja.

Pukul 9 pagi saya berangkat ke Wekas dengan bus jurusan Salatiga-Magelang dan turun di gapura desa Wekas, Kaponan. Gapura yang bertuliskan “GAPURA WANA WISATA” telah menyapa. Kemudian saya hubungi lagi Bang Andi Racka untuk menanyakan sudah sampai dimana rombongan, kalau ternyata masih jauh saya berencana jalan kaki saja dari gapura sampai basecamp Wekas yang berjarak 3 Km dari jalan raya, tapi kalau memang sudah mau sampai ya saya naik ojek biar bisa kesusul.
Ternyata setelah saya telp mereka masih ada di Pasar Sapi Salatiga, maka saya pun memutuskan untuk jalan kaki sampai basecamp saja.
menuju basecamp pendakian Merbabu
Trek yang saya lalui dengan melewati tengah desa Wekas sangatlah menantang dengan tanjakan yang tiada akhir hingga pintu masuk jalur pendakian. Masuk gapura khas jalur pendakian Merbabu tanjakan maut masih belum selesai sampai disitu, perjalanan sampai ke basecamp belum ada apa-apanya. Tanjakannya pun makin menjadi kemiringannya. Tapi saya sendiri tidak menyesali dengan mengambil keputusan untuk jalan kaki, karena selain untuk pemanasan bisa juga untuk menghemat ongkos ojek yang biasanya harus merogoh kocek sebesar Rp 15.000,- untuk sampai ke basecamp.

Trek menuju basecamp
Sejauh 3 Km tanjakan ekstrim yang sudah diplester semen saya lalui dengan semangat. Dalam waktu satu jam akhirnya sampai juga di basecamp "Sanggar Kiddal". Saya masuk dan ternyata hanya saya saja yang ada di dalamnya. Saya pun disambut dengan senyuman seorang embah putri yang menggendong cucu kecilnya di punggunya yang tertidur pulas. Tak lupa beliau juga menawari saya untuk membuat sendiri minum. 


Tapi saya baru sadar jika basecamp yang dimaksud bukan yang disini, ternyata masih naik lagi, kata pendaki yang sedang menunggu temannya di depan basecamp ini. Saya pun bergegas berjalan menuju basecamp utama karena khawatir kalau ketinggalan rombongan. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya sampailah saya di basecamp perijinan pendakian Gunung Merbabu. Ternyata disana sudah ramai dengan pendaki. Saya pun mencari rombongan BPI dan ketemulah dengan Bang Andi Racka.
Setelah mendata semua rombongan yang mencapai 20an orang untuk perijinan dan biaya administrasi Rp 4.000,- perorang, kami pun memulai pendakian ceria ini pada sekitar pukul 12 siang.  

Dengan dibagi menjadi beberapa kloter kami mulai berjalan langkah demi langkah menuju puncak. Kami belum tahu dimana lokasi untuk mendirikan tenda saat itu, yang kami pikirkan hanya berjalan dulu sampai dimana nanti kami berhenti dan ngecamp dipikir nanti. Trek yang kami lalui lewat jalur Wekas ini memang terhitung trek yang paling pendek diantara 3 jalur yang lain yaitu Tekelan, Cunthel, dan Selo namun trek yang pendek belum tentu mudah dilalui. Jalur yang kami lalui ini didominasi dengan tanjakan dan hanya sedikit yang berupa dataran.

Pukul 2.20 siang saya tiba di Pos 2 bersama beberapa orang yang serombongan. Kami terhitung menjadi rombongan pertama yang tiba. Kami pun langsung beristirahat dan membicarakan dimana nantinya kami akan ngecamp. Beberapa rombongan di belakang kami satu per satu datang dan bergabung untuk berdiskusi sekaligus memasak air untuk ngopi dan ngeteh panas.

Beberpa lama berdiskusi belum juga menemui keputusan hingga hujan mulai turun dan kami pun panik kocar-kacir. Segeralah mengeluarkan tenda (bagi yang bawa) dan saling bahu membahu mendirikan tenda. Mungkin inilah keputusan akhir dimana kami mendirikan tenda.
Yak, di Pos 2 lah kami ngecamp dan menghabiskan malam karena memang sampai tengah malam hujan tidak kunjung henti. Tenda pun sempat kebanjiran saking derasnya hujan malam itu. Hujan deras itu juga  membuat malam itu terasa tidur di tenda pengungsian banjir karena memang kondisinya benar-benar basah kuyup, sampai-sampai saya tidur pun bukan berselimut sleeping bag tapi dengan jas hujan. Karena ramainya pendaki yang ngecamp di Pos 2, tenda rombongan saya pun kebagian lokasi yang tanahnya sedikit miring. Air hujan yang sedikit demi sedikit menerobos pintu tenda akhirnya menimbulkan kolam dadakan di pojokan tenda yang sempat terkumpul 6 botol air mineral besar.
Pendakian yang dilakukan pada musim hujan bisa dibilang mendatangakan keuntungan tersendiri karena pada malam harinya tidak sedingin saat musim kemarau. Terbukti saat itu saya yang hanya memakai jaket tipis dan jas hujan tanpa kaos kaki bisa bertahan, padahal biasanya tanpa kaos kaki dan sleeping bag saya tidak bisa tidur karena kedinginan.

Pos 2 ini sebenarnya merupakan spot yang tepat untuk menikmati sunset dengan latar “Twin Tower” Sindoro Sumbing. Namun apalah daya, sedari tiba disini hingga tengah malam dihiasi dengan hujan deras. Saya pun berharap esok hari masih bisa mendapat pemandangan matahari terbit yang indah.

Pos 2 jalur Wekas
Pagi pun mulai menyapa, terangnya langit tak diiringi kemunculan mentari pagi yang dikenal dengan sunrise. Memang sih menjadi spot untuk menikmati sunset yang tepat, tapi sayangnya bukan untuk sunrise karena di sebelah timur terbentang bukit tinggi dengan dihiasi pemancar radio dipuncaknya, sehingga menghalangi mentari pagi untuk menampakkan keindahannya. Padahal pagi itu termasuk pagi yang cerah banget.

Dua momen yang menjadi buruan pendaki sudah sirna dan kekecewaan ini semoga tidak berlanjut dengan kegagalan menuju puncak. Namun saya tidak sebegitu kecewa karena kehilangan momen tersebut. Pemandangan di Pos 2 saat itu cukup luar biasa. Di sebelah barat terlihat bukit menghijau di seberang jurang. Di kejauhan terlihat Gunung Sumbing dan Sindoro menghiasi lautan awan. Sungguh tampak sangat menakjubkan dan tentu saja tak bakal lepas dari bidikan lensa kamera saya.

Sumbing Sindoro dari Pos 2
  
Matahari mulai meninggi

Pemandangan hijau dari Pos 2

suasana camping ground Pos 2 saat menjelang siang


Kelanjutan kisah pendakian Maret 2013 menuju puncak Merbabu bisa dilihat  disini.....

You May Also Like

17 komentar

  1. min,,kalau untuk pemula brbahaya nggak,,,???
    soalnya saya baru mau pertama kali ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo mas Edi...

      naik merbabu berbahaya sih enggak, insyaallah...

      cuman klo pemula harus didampingi sama yg uda punya pengalaman...

      Hapus
  2. mas, kalo dateng ke stasiun tawang/poncol jam 2 pagi, kira2 ada angkutan umum ga ya? apa harus nunggu subuh disana mas ya? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nunggu pagi aja dulu mas di stasiun...

      Hapus
  3. mas kalo buat pemula gmn? saran dong mas pgn bgt muncak hehe

    BalasHapus
  4. mas kalo buat pemula gmn? saran dong mas pgn bgt muncak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tinggal dmn mbak?

      kalo pengen naik gunung, latian dulu di gunung pendek dulu atau bukit.
      Fisik kudu dilatih dulu...

      Hapus
  5. baca cerita agan, saya malah jadi kepingin ke merbabu lagi

    BalasHapus
  6. sudah pernah ke sindoro belum ga?? kalau mau muncak bareng saya ke sindoro gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah pernah saya bro... udah ku tulis juga di blog...

      Hapus
  7. Wuiih mas e sudah naek Merbabu lintas jalur eh..

    BalasHapus
  8. saya mau ke merbabu bulan desember ini , bahaya gak mas , karna bulan desember musim hujan ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm, gapapa sih...
      Tapi kalau musim hujan berarti persiapannya lebih bnyk aja Mbk...

      Hapus

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!