Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Menapaki Puncak Gunung Sumbing

Gambar
Tak seperti pagi biasanya yang diawali dengan sambutan suara kokok ayam jago yang melengking. Pagi itu kami dibangunkan dengan suara alarm yang diset jam 3 pagi. Namun karena “empuknya” kasur alam, kami baru bangun sekitar pukul 4 lebih sedikit. Sepertinya kami bakal kelewatan momen sunrise di puncak. Namun yang penting, tempat tertinggi di Sumbing itu  bisa   segera kami pijak. Tanpa pikir panjang kami langsung bangun dan siap-siap menata bekal untuk  summit attack . Tanpa membawa carrier besar, perjalanan ke puncak kali itu cukup dengan daypack berisi makanan dan minuman saja. Barang-barang kami lainnya ditinggal di tenda saja, toh Madi tidak berniat mengikuti jejak kami. Dia yang mengalami kram sehari sebelumnya saat pendakian malam, lebih memutuskan untuk tinggal di tenda saja sambil menikmati pagi di Pestan ditemani view Gunung Sindoro di depannya.

Langkah Kecil Menuju Puncak Sumbing

Gambar
Kelar mengurus perijinan dan administrasi , kami berpamitan dengan bapak-bapak yang jaga di meja perijinan lalu berdoa di depan basecamp untuk mengawali pendakian. Mulailah kami menapaki langkah demi langkah menuju puncak Sumbing yang tampak begitu jauh karena untuk melihat puncaknya kami masih harus mendongakkan kepala. Namun tenang saja puncak akan selalu dekat di hati para pendaki yang setiap langkahnya selalu menundukkan kepala menyadari betapa kecil dirinya dibanding kuasa sang pencipta jagad raya. Jalur Pendakian Gunung Sumbing Jalur pendakian Gunung Sumbing via garung memiliki dua alternatif yang bisa dipilih yaitu jalur lama dan jalur baru. Total jarak sampai puncaknya sekitar 7.000 m dan menurut informasi jika pendakian dengan kecepatan standar bisa ditempuh selama 7-8 jam. Namun kami akan buktikan sendiri berapa lama waktu yang akan ditempuh hingga mencapai puncak nanti. Di awal perjalanan kami masih harus melewati jalan beraspal yang lama kelamaan menjadi ja

PDKT dengan Gunung Sumbing

Gambar
Bagi saya pendakian bukan sekedar menikmati keindahan alam saja, tapi lebih jauh dari itu. Di alam kita bisa belajar banyak hal mulai dari yang kecil hingga yang besar yang tanpa disadari semua itu bakal ngaruh ke kehidupan kita sehari-hari. Kegiatan tersebut juga menuntut kita untuk mengubur dalam-dalam ego masing-masing pribadi dan menyatukan visi misi antar sesama pendaki dalam satu kelompok. Satu visi juga lah yang menyatukan kami; saya, Bandon, Iwan, dan Madi, dalam suatu pendakian yang sebelumnya telah kami rencanakan. Kami adalah empat alumni STAN lulusan tahun 2012 yang sudah lebih dari 6 bulan masih dalam masa penantian surat keputusan dari Pak Menkeu yang tak kunjung terbit mengenai kejelasan nasib kami. Untuk sejenak melupakan terkatung-katungnya nasib kami kali ini kami memilih mengisi waktu dengan melakukan pendakian di satu gunung yang merupakan gunung tertinggi kedua di Jateng setelah Gunung Slamet (3.428 mdpl) yaitu Gunung Sumbing (3.371 mdpl). Gunung

Menengok Persembunyian Candi Klero - Tengaran

Gambar
Tak bisa kita lupakan begitu saja jika sebelum negara kita ini berdiri dan menjadi kesatuan seperti sekarang, terdapat banyak negara-negara kecil yang berdiri di wilayah nusantara dalam bentuk kerajaan-kerajaan yang memiliki latar belakang sejarah masing-masing, seperti contohnya Majapahit, Singosari, Mataram, Sriwijaya, Demak dan masih banyak lagi tentunya. Saya jadi ingat masa-masa SD dulu yang berusaha menghafal nama raja-raja yang memimpin tiap kerajaan yang menurut saya cukup menguras otak untuk melakukannya. Namun sekarang malah ingatan masa SD tersebut luntur sedikit demi sedikit  tertimbun satu demi satu masalah kehidupan  hehe *-*, padahal dulu sempat hafal lho… Tak apalah jika ingatan pelajaran sejarah semasa SD sedikit luntur, namun semangat untuk mencintai sejarah masih menggebu-gebu dalam lubuk hati. Rasa penasaran terhadap peninggalan-peningglan sejarah selalu muncul di pikiran saya. Selalu saja jika keluar rumah dan pergi ke tempat baru saya berusaha mencar

Napak Tilas Cheng Hoo di Klenteng Sam Poo Kong

Gambar
Perjalanan menuju Kota Semarang di suatu pagi membawa saya mlipir dulu ke satu klenteng yang terkenal di kota tersebut yaitu Klenteng Sam Poo Kong. Tempat ini menarik hati saya untuk mengunjunginya karena mungkin tempat ini juga sudah menjadi icon Semarang selain Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Gereja Blenduknya. Klenteng ini dibangun sebagai penanda pernah singgahnya seorang penjelajah lautan yang sangat pemberani dari China yaitu Laksamana Cheng Ho. Sebenarnya sih tujuan ke Semarang saat itu untuk menikmati suasana jadul Kota Lama Semarang , tapi karena masih pagi yaa gak ada salahnya menikmati suasana negeri “tirai bambu” dulu di salah satu sudut Kota Semarang. Bermodal pengetahuan mengenai Kota Semarang yang pas-pasan dan mengingat kembali memori perjalanan bolak balik Salatiga Semarang saat geladi dari kampus tahun lalu, saya akhirnya bisa menemukan lokasi tempat ini berada. Sebelumnya saya pernah mendengar dari seorang teman yang asli dari Semarang kalau mau ke Klenteng Sam

Luar Biasanya Pendakian Gunung Lawu

Gambar
Ibarat zat adiktif yang bisa menyebabkan candu bagi siapa saja yang mencobanya, naik gunung juga demikian. Bisa saja orang yang benar-benar anti dengan yang namanya naik gunung, namun jika satu hari diajak melakukan kegiatan outdoor yang terhitung perlu nyali besar ini dan akhirnya bisa mendaki sampai puncak lalu melihatlah dia di sekeliling puncak dengan keagungan ciptaan-Nya niscaya candu sedikit demi sedikit akan merasuk dalam dirinya. Selain itu rasa puas juga akan sangat terasa saat mampu mencapai tingginya puncak gunung dengan kaki dan usaha sendiri.  Itulah sebabnya para pendaki kebanyakan tidak akan berhenti hanya di satu puncak gunung saja, pasti ada keinginan untuk terus menjelajahi  gunung-gunung lainnya yang memiliki tantangan dan keindahannya masing-masing. Setelah beberapa kali sampai di puncak gunung, rasa untuk menjelajahi gunung-gunung yang lain masih menggelayuti pikiran saya. Tak bosan untuk mencari kesempatan untuk mendaki lagi dan lagi. Ketemulah saya