Langkah Kecil Menuju Puncak Sumbing

by - 01:02:00



Kelar mengurus perijinan dan administrasi, kami berpamitan dengan bapak-bapak yang jaga di meja perijinan lalu berdoa di depan basecamp untuk mengawali pendakian. Mulailah kami menapaki langkah demi langkah menuju puncak Sumbing yang tampak begitu jauh karena untuk melihat puncaknya kami masih harus mendongakkan kepala. Namun tenang saja puncak akan selalu dekat di hati para pendaki yang setiap langkahnya selalu menundukkan kepala menyadari betapa kecil dirinya dibanding kuasa sang pencipta jagad raya.


Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Jalur pendakian Gunung Sumbing via garung memiliki dua alternatif yang bisa dipilih yaitu jalur lama dan jalur baru. Total jarak sampai puncaknya sekitar 7.000 m dan menurut informasi jika pendakian dengan kecepatan standar bisa ditempuh selama 7-8 jam. Namun kami akan buktikan sendiri berapa lama waktu yang akan ditempuh hingga mencapai puncak nanti.

Di awal perjalanan kami masih harus melewati jalan beraspal yang lama kelamaan menjadi jalan desa yang berbatu. Melewati jalan tersebut dengan sesekali melemparkan senyuman dan sapaan saat berpapasan penduduk yang sedang beraktifitas, mendatangkan semangat tersendiri bagi kami seakan pendakian ini mendapat dukungan dan doa dari mereka.

Desa yang kami lewati tersebut memiliki ketinggian sekitar 1.450 mdpl. Kebanyakan penduduknya bermatapercaharian sebagai petani yang ladangnya berada di awal jalur pendakian. Di tengah desa itu pula terdapat percabangan dua jalur yang dimana kalau kita memilih lurus akan melewati jalur pendakian lama dan jika berbelok ke kiri akan melalui jalur baru. Kami pun memutuskan menggunakan jalur baru dalam pendakian kali ini karena menurut kabar jalur lama sangatlah berat terlebih ada bagian yang sudah mulai longsor. Beberapa kali saya harus melihat peta yang dibekalkan pada kami karena belum apa-apa kami sudah kebingungan memilih jalan. Berjalan di tengah desa yang penuh rumah layaknya melalui labirin-labirin dengan percabangan yang kadang menipu. Setelah melirik peta kami menyimpulkan bahwa jalur pendakian harus melalui jembatan dulu, lantas kami mencari letak sungai yang gemricik alirannya mulai terdengar karena guyuran hujan yang mulai turun. Kami melipir ke pinggir desa dan ketemulah sungai dengan jembatan di ujungnya. Ada dua jembatan yang berdekatan, namun yang dilewati adalah yang sebelah kiri karena jembatan yang sebelah kanan mengarah ke ladang penduduk.


Jalan masih didominasi bebatuan cadas namun nanjaknya sudah sangat membuat nafas tersengal-sengal. Jalan ini masih sering dilewati penduduk yang berladang. Mereka biasanya pergi ke ladangnya  dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan, tentunya hanya kendaraan yang luar biasa yang mampu melewati trek ini. Sedari masuk di tengah desa tadi hingga perladangan, hujan masih saja belum reda. Rasanya pingin segera berteduh dulu untuk sekedar menarik napas sambil menyelonjorkan kaki, namun shelter yang saya cari-cari belum nampak juga, yang ada malah gubuk-gubuk kecil yang digunakan untuk tempat penyimpanan pupuk kandang. Dari pada berteduh di tempat yang memiliki bau istimewa lebih baik lanjut saja siapa tahu di depan ada shelter yang lebih nyaman untuk beristirahat.


Ladang di lereng Gunung Sumbing


Jalan menanjak berbatu cadas mulai berganti dengan tanah merah diselingi sesekali bonus dataran. Suara derasnya aliran air terjun yang sejak dari bawah sudah membuat saya penasaran akhirnya mulai terdengar. Jika kepingin melihat indahnya air terjun yang memiliki beberapa tingkat di Gunung Sumbing, kita harus mengambil jalan setapak ke arah kiri di persimpangan jalan tengah ladang setelah trek berbatu habis.
Penampakan air terjun makin terlihat jelas dengan alirannya yang deras dari kejauhan. Sepertinya perlu menuruni lembah lewat ladang-ladang penduduk dulu untuk melihat dari dekat air terjun itu, tapi dipandang dari jalur pendakian saja sudah cukup menambah semangat kok. 

air  terjun di antara terasering 

Setelah melewati lokasi air terjun tersebut kita akan berbelok ke kanan dengan trek yang menanjak lalu tak berapa lama kemudian akan ditemui perbatasan ladang dengan hutan pinus yang kerap disebut sebagai kawasan Bosweissen yang merupakan KM III jalur pendakian.

Melanjutkan langkah dengan mengikuti anak panah yang ada akhirnya kami menemui aliran sungai dengan cekungan air yang bisa digunakan pendaki untuk mengisi persediaan air. Namun jika musim hujan seperti saat itu, aliran air sungai tersebut tampak agak keruh.
di Pos 1
Menyeberangi sungai kecil dengan memijakkan kaki di antara  bebatuan, kami lanjutkan pendakian memasuki hutan yang semakin lebat hingga akhirnya kami sampai di Pos 1 pada sekitar pukul 16.40. Kalau dihitung-hitung berarti waktu tempuh dari basecamp hingga sampai di pos ini sekitar 2 jam. Cukup jauh memang jarak antara basecamp hingga Pos 1 ini, selain karena sambutan tanjakan selamat datang yang cukup terjal, hujan yang turun pun membuat langkah kami makin melambat hingga waktu tempuhnya menjadi selama itu.

Trek pendakian meninggalkan Pos 1 makin menjadi-jadi saja. Tanah lempung atau tanah liat mendominasi trek kali ini dengan sisa hujan yang menambah licinnya jalur pendakian. Trek tanah liat ini sebenarnya sudah dipermudah dengan adanya cerukan-cerukan berukuran satu telapakan kaki yang bisa memudahkan pendaki untuk berpijak, namun tetap saja terpeleset sesekali akan menghiasi pendakian melewati trek ini.

Hari mulai gelap dan di sebelah barat mulai terlihat semburat keemasan tanda matahari akan segera bersembunyi dari peraduannya. Trek tanah liat masih belum berakhir dan tetap mendominasi pendakian. Saya belum tahu apakah memang karakter tanah di Gunung Sumbing seperti ini atau hanya di trek setelah Pos 1 saja. Saya pun berharap semoga memang trek tanah liat yang licin hanya sebagian kecil saja agar langkah kaki bisa dipercepat tanpa takut tergelincir.

Senter yang kami bawa mulai kami keluarkan karena jalur sudah mulai tidak terlihat jelas. Sayup-sayup mulai terdengar kumandang adzan Magrib. Hingga akhirnya sekitar pukul 18.00 kami sampai di satu lokasi dimana sudah terdapat beberapa tenda yang berdiri dan api unggun yang menyala. Tempat tersebut ternyata merupakan Pos 2 atau yang biasa di sebut Gatakan dengan ketinggian mencapai 2.240 mdpl.

Sindoro berselimut cahaya keemasan senja

Tak berlama-lama beristirahat di Pos 2, kami langsung berpamitan pada rombongan mahasiswa dari Jogja yang ngecamp di pos tersebut yang ternyata banyak pendaki ceweknya. Masih kami lalui trek tanah liat yang mulai diselingi bebatuan hingga akhirnya menemukan satu dataran yang cukup luas yang disitu terdapat tanda memoriam tewasnya Tri Antono. Saat kami tiba di dataran tersebut, berkumandang pula adzan Isya sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Madi yang mengalami kram kaki harus merilekskan kaki sejenak di tempat itu  sampai rasa nyeri mereda sebelum melanjutkan pendakian.

Menapaki trek yang masih belum berubah, kami sampai di satu jalur dengan pemandangan mulai terbuka. Terlihat Gunung Sindoro tampak samar-samar di tengah gelapnya malam. Sempat pula terlihat sorot lampu senter di tegah Sindoro yang menyorot ke arah Sumbing seolah ingin mengajak kami berkomunikasi. Saya pun membalas sorotan senter itu ke arah Sindoro.

Sumbing Sindoro memang pasangan serasi, banyak juga pendaki yang melakukan pendakian estafet di kedua gunung itu. Biasanya setelah mendaki Sumbing, mereka melanjutkan mendaki ke Sindoro via Kledung yang basecampnya tak terlalu jauh dari basecamp Sumbing. Basecamp Sindoro ada di sisi kanan jalan Temanggung-Wonosobo sebelum masuk gapura Kabupaten Wonosobo. Para pendaki yang melakukan pendakian estafet biasanya naik Sindoronya “tek tok” alias tanpa ngecamp. Pastinya dengan perkiraan waktu yang dimanage secara matang. Bahkan ada pula pendakian estafet “Triple S” yaitu Sumbing, Sindoro, dan Selamet. Misi “Triple S” ini biasa dijalankan bagi para pendaki yang sudah malang melintang di dunia pendakian dan haus akan tantangan. Bagi kami cukup Sumbing dulu saja lah untuk pendakian kali ini *-*.

Pepohonan yang mulai jarang membuat angin yang bertiup kencang dengan bebas menghantam tubuh ringkih kami. Suara anginnya pun tak tanggung-tanggung, baru kali itu saya menemui suara angin sekencang itu. Karena kondisi demikian dan ada anggota kelompok yang mengalami kram, membuat kami sempat hampir mau menyerah, pengennya segera cepat-cepat menemui dataran untuk mendirikan camp. Kami sebenarnya merencanakan ngecamp di Pestan atau Pos 3, tapi karena keadaan tersebut membuat kami galau memilih lanjut sampai tempat camp yang direncanakan atau mendirikan camp segera mungkin setelah menemui dataran. Kami sejatinya sudah melewati beberapa dataran, namun rasa untuk tetap teguh pada komitmen mendirikan camp sesuai rencana awal di Pestan masih bersarang di hati kami. Hingga kami menjumpai dataran yang sangat luas dan mulai tampak banyak dome-dome telah berdiri, bahkan saat kami lewat di salah satu dome terdengar dengkuran pendaki yang lumayan membahana  *-* #wow.

Alhamdulillah lokasi itulah yang disebut sebagai Pestan atau Pasar Setan, tempat camp yang cukup sering diramaikan pendaki Gunung Sumbing. Kami segera memilih lapak untuk mendirikan tenda. Tak lama kemudian hujan badai datang padahal tenda belum usai didirikan. Saat itu kami me”reyen” dome Endro yang baru dibelikan ayahnya  *-* asiiik…. 

Oiya… Pestan (Pasar Setan) merupakan lokasi pertemuan jalur lama dan baru Gunung Sumbing.

Ada yang tahu kenapa dinamakan Pestan??? Saya pun tidak tahu…  hehe *-*

Hujan makin deras dengan angin kencang yang terus-menerus menerbangkan parasut tenda yang hendak kami pasang. Kepanikan pun menyelimuti pendirian tenda malam itu, namun akhirnya pukul 20.45 tenda bisa didirikan juga walau flysheetnya agak sedikit melenceng. Tidak masalah yang penting carrier dan manusiannya segera masuk tenda.

Syukur alhamdulillah kami ucapkan ditengah hujan badai yang menerpa dan sempat patah semangat menghadapi keadaan, akhirnya kami bisa berlindung di dalam dome dari terpaan angin kencang yang disertai hujan. Untuk lebih mensyukuri nikmat itu kami pun menunaikan sholat berjamaah di dalam dome. Perut yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi seolah berteriak minta diisi. Kami pun memasak yang panas-panas di dalam dome itu juga, sekaligus mencari kehangatan.

Kewajiban sudah ditunaikan, perut sudah terisi, bersih-bersih pun sudah; saatnya merebahkan badan untuk mempersiapkan amunisi pertarungan esok hari menuju puncak. Sebenarnya letak puncak dari tempat kami ngecamp berjarak 1,5 km saja, karena Pestan ini berada di setelah KM V dengan ketinggian sekitar 2.437 mdpl.  Namun dengan jarak tersebut masih menyimpan selang ketinggian 934 m dari puncaknya (3.371 mdpl).

Saya masih ingat sekali saat summit attack Mahameru yang juga berjarak 1,5 km dari tempat camp di Pos Arcopodo yang selang ketinggiannya 776 m saja, namun saat itu yang sangat luar biasa adalah waktu tempuh ke puncaknya yang mencapai 4 jam. Hal yang paling menentukan waktu tempuh ke puncak adalah medan yang harus dilalui. Trek menuju puncak Semeru memang amat sangat berat dengan seutuhnya medan didominasi pasir yang labil dan mudah melorot menjadikan lamanya waktu tempuh untuk sampai puncaknya.

Lantas apakah waktu tempuh menuju puncak Sumbing lamanya seperti saat menuju Mahameru dan seberat apakah perjuangan summit attack keesokan harinya??? kami pun juga belum tahu, tapi yang penting alarm sudah disiagakan untuk membangunkan kami pada pukul 3 pagi.


Terus bentuk puncaknya gimana yaa??? Dapet sunrise keren kah??? Gimana pula medan menuju puncaknya???

Penasaran kan…!!!

intip cerita kami selanjutnya disini....






You May Also Like

4 komentar

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!