PDKT dengan Gunung Sumbing

by - 09:13:00



Bagi saya pendakian bukan sekedar menikmati keindahan alam saja, tapi lebih jauh dari itu. Di alam kita bisa belajar banyak hal mulai dari yang kecil hingga yang besar yang tanpa disadari semua itu bakal ngaruh ke kehidupan kita sehari-hari. Kegiatan tersebut juga menuntut kita untuk mengubur dalam-dalam ego masing-masing pribadi dan menyatukan visi misi antar sesama pendaki dalam satu kelompok.
Satu visi juga lah yang menyatukan kami; saya, Bandon, Iwan, dan Madi, dalam suatu pendakian yang sebelumnya telah kami rencanakan. Kami adalah empat alumni STAN lulusan tahun 2012 yang sudah lebih dari 6 bulan masih dalam masa penantian surat keputusan dari Pak Menkeu yang tak kunjung terbit mengenai kejelasan nasib kami. Untuk sejenak melupakan terkatung-katungnya nasib kami kali ini kami memilih mengisi waktu dengan melakukan pendakian di satu gunung yang merupakan gunung tertinggi kedua di Jateng setelah Gunung Slamet (3.428 mdpl) yaitu Gunung Sumbing (3.371 mdpl). Gunung ini terletak di Temanggung-Wonosobo yang juga bersebelahan dengan Gunung Sindoro (3.153 mdpl). Kedua gunung ini sering disebut-sebut sebagai gunung kembar karena kemiripan bentuk dan letaknya yang bersebelahan.

Sumbing dan Sindoro dari Telomoyo

Seperti yang telah saya ceritakan di postingan-postingan saya sebelumnya kalau dari rumah saya di Getasan nampak berbagai pemandangan puncak gunung mulai dari Merbabu, Ungaran, Lawu, Andong, dan Telomoyo, namun dua gunung kembar Sumbing Sindoro ini tidak tampak dari rumah saya karena terhalang Gunung Telomoyo yang ada di sebelah timurnya. Tapi kalau saya naik sedikit ke daerah Kopeng, Sumbing Sindoro itu bisa terlihat cukup jelas. Terlebih saat saya mendaki Telomoyo, keduanya akan terlihat sangat gagah berdiri berdampingan. Sebenarnya saya sendiri sudah lumayan akrab mendengar nama kedua gunung itu, tapi rasanya kurang afdol kalau hanya akrab dari pendengaran saja. Perlu pendekatan pandangan dan hati pada gunung itu agar keakraban makin terjalin.


Memilih Gunung Sumbing

Letaknya yang tidak terlalu jauh dari domisili kami yang sekiranya tidak sampai keluar provinsi merupakan salah satu alasan memilih gunung ini dalam pendakian ini. Alasan lain sekiranya hanya sekedar ingin merasakan sensasi berbeda di setiap gunung entah view, tingkat keekstriman jalur, ataupun keadaan sosial budaya disekitarnya. Tentunya beberapa hal tersebut berbeda di setiap gunung.
Kami sempat agak ragu saat mengambil keputusan memilih Sumbing sebagai gunung yang akan didaki karena belum lama sebelumnya sempat ada pendaki mahasiswa UB yang tewas di gunung tersebut karena tersambar petir. Memang cuaca akhir-akhir ini belum stabil karena musim hujan belum usai. Karena khawatir kalau pendakian ditutup karena insiden tersebut, Iwan yang rumahnya di Secang-Magelang pun melakukan survei terlebih dulu sehari sebelumnya ke basecamp pendakian Sumbing jalur Garung untuk memastikannya. Dari rumah Iwan, basecamp tersebut bisa ditempuh selama sekitar satu setengah jam. Masih lumayan jauh juga sih, namun demi kepastian yang pasti alangkah lebih baik kalau bisa memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Di basecamp Sumbing dia mendapat banyak informasi mengenai berbagai hal mulai dari lama perjalanan, jarak, hingga kabar tentang pendaki yang tewas beberapa hari sebelumnya. Namun intinya jalur pendakian tetap dibuka, sehingga keesokan harinya kami bisa melakukan pendakian di gunung tersebut.

Hari Pendakian

Hari H pendakian pun tiba, kami sudah siap dengan segala perbekalan terpack rapi di carrier masing-masing. Hari itu tepatnya Sabtu, 20 April 2013 yang berarti pula kami akan menghabiskan hari pergantian menuju peringatan Hari Kartini di atas Gunung Sumbing. Dibalik itu kami ada sedikit harapan juga bisa mendaki bareng dengan para pendaki wanita yang mendaki dengan semangat Kartini pada hari yang sama *-*.
Pada pagi harinya Endro dan Madi yang berdomisili di Karanganyar melaju menuju rumah saya terlebih dahulu setelah itu baru menghampiri Iwan di Secang-Magelang. Pukul setengah 9 mereka berdua baru tiba di rumah saya. Setelah menyelonjorkan kaki sejenak dan sarapan, kami langsung saja kami menghampiri Iwan yang sudah menunggu.
Pagi hari itu tidak begitu cerah, bahkan mendung malah. Namun tidak menyurutkan semangat kami melakukan misi pendakian ke Gunung Sumbing. Tak berlama-lama lagi kami langsung saja tancap gas menuju Secang-Magelang via Grabag dengan melewati jalanan di tengah Gunung Telomoyo dan Gunung Andong yang tertutup kabut tebal, kami lewati pula objek wisata Air Terjun Sekar Langit.

Satu setengah jam perjalanan di atas sepeda motor dengan melalui jalan berkelok-kelok khas daerah pegunungan, akhirnya kami tiba di Secang. Kami pun menunggu kedatangan Iwan di depan terminal Secang. Menunggu sekitar 20 menit akhirnya Iwan muncul dan tanpa basa basi kami langsung memacu sepeda motor menuju basecamp pendakian. Menyusuri jalanan kota Temanggung dengan hiruk pikuknya hingga keluar dari kota tersebut dengan ditandai jalanan yang mulai menanjak dan berliku-liku, di sebuah tanjakan hampir di perbatasan kabupaten ada sebuah insiden kecil menimpa kami. Iwan yang melaju kencang disusul Madi di belakangnya membuat Madi terburu-buru mendahului sebuah mobil lewat sisi kanan hingga melewati marka jalan dan kebetulan ada beberapa Pulisi yang mangkal jaga di sebuah warung dan siap mencari “mangsa”. Alhasil sang Pulisi pun menyemprit kami, namun setelah beberapa sempritan terlontar kami masih belum ngeh siapa yang disemprit dan apa salahnya. Apakah Iwan, Madi, saya, atau malah Endro yang tampak santai saja saat memacu motornya yang berada di barisan paling belakang, kami tidak menyadarinya. Kami sebenarnya berniat terus tancap gas saja tanpa menggubris sempritan Pak Pulisi itu, namun akhirnya Madi  berhenti dan menghampiri sang Pulisi. Dia pun pasrah menyerahkan uangnya nasibnya di tangan Pak Pulisi itu. Madi diajak masuk ke dalam warung tempat jaga Pulisi itu, dan beberapa lama kemudian Madi pun keluar dengan wajah setengah asem. Ternyata selembar uang ratusan ribu telah melayang dari dompetnya ckckckck…. Oke ini adalah experience kami yang akan kami simpan sebagai the best teacher.


Lokasi Basecamp Garung

Iwan yang tidak tahu kalau kami bertiga yang berkendara di belakangnya telah dicegat Pulisi terus saja melaju hingga ia sampai di basecamp duluan. Kami yang belum tahu letak basecampnya harus tengok kanan dan kiri dulu mencari lokasinya, namun karena Gunung Sumbing berada di sebelah kiri jalan maka kami hanya perlu melirik ke arah kiri saja mencari lokasi basecamp berada. Karena ketidaktahuan itu pula, Madi yang berjalan paling depan sampai keterusan memacu motornya hingga terlewat lumayan jauh dari gerbang basecamp pendakian. Sebenarnya letak basecamp tidak terlalu jauh dari jalan raya, namun bagi yang belum tahu memang perlu ketelitian melihat letak papan penunjuk. Gerbang masuk menuju basecamp Gunung Sumbing letaknya sekitar 500 m setelah melewati gapura masuk Kabupaten Wonosobo di sebelah kiri jalan kalau dari arah Temanggung. Garung merupakan nama sebuah dusun di pelana Sumbing-Sindoro sisi kiri, tepatnya di Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Basecamp tersebut merupakan rumah kadus setempat.

Setelah menunggu Madi berbalik arah kami pun mampir masjid dulu tak jauh setelah masuk gerbang Desa Garung. Tak lama setelah sholat hujan deras pun turun hingga mau tak mau kami harus menunggu reda dulu sebelum menuju basecamp yang berada 500 m dari jalan raya.  Dari masjid itu kami terus memandang ke arah gunung yang akan kami daki. Gunung yang semula berselimut kabut tebal perlahan tersibak dan menampakkan kegagahannya seiring redanya hujan siang itu. Bentuk Gunung Sumbing memang tek semulus sodara kembarnya yang terlihat mengerucut. Puncak Sumbing terlihat sedikit tidak rata dan lerengnya ternyata banyak sekali punggungan-punggungan yang dimanfaatkan penduduk sebagai ladang-ladang terasering. Ada yang menarik di lereng gunung tersebut, dimana dari tempat kami saat itu berada terlihat seperti terdapat air terjun yang mengalir deras dengan aliran sungai diatasnya yang menjadi sumber alirannyanya. Semakin penasaran saja ingin segera menapakkan langkah demi langkah kami mendekati air terjun tersebut. Dari peta jalur pendakian yang sempat saya unduh memang terdapat satu sungai yang melintasi jalur pendakian.

penampakan Gn. Sumbing sesat sebelum pendakian dimulai

Setelah hujan benar-benar reda kami pun bergegas menuju basecamp Garung yang ada di depan stasiun pemancar TVRI. Setelah sampai di TKP, hanya terlihat satu rombongan pendaki yang baru saja turun dan sedang beristirahat. Tentunya mereka sudah membawa pengalaman mengesankan bersama Gunung Sumbing. Saatnya giliran kami yang akan mengikuti jejak mereka mendapatkan pengalaman di atas Gunung Sumbing. Kami awali dengan melapor kedatangan kami dengan mencatat identitas serta tanggal kedatangan, lalu membayar biaya administrasi sebesar Rp 39.000,- untuk 4 orang dengan rincian , sbb:

Retribusi Pendaki @orang
Rp 3.000,-
Fasilitas Air Bersih di basecamp @orang
Rp 1.000,-
Parkir Motor @motor
Rp 5.000,-
Satu kelompok dibekali satu peta jalur pendakian
Rp 3.000,-


we are ready...!!!

Jam telah menunjukkan pukul 14.40 kami pun siap melangkah mendekati puncak Gunung Sumbing, cerita selengkapnya ada disini nih...!!!


















You May Also Like

0 komentar

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!