Lebih Dekat dengan Merapi

by - 01.37.00




Kalau di cerita sebelumnya saya pernah menuliskan bahwa travelling tanpa fotografi itu bagai Rama kehilangan Shinta, lalu apa jadinya kalau hiking tanpa fotografi… Ibarat apa ya enaknya???
Ibarat Anang tanpa Syahrini Ashanti kali ya… *-* Hehe…
Memang sih mendaki gunung itu selain membawa carrier yang terisi perlengkapan pendakian dan logistik, pastilah sebagian besar pendaki bakal menyisakan sedikit space di tas bawaannya untuk diisi kamera.

Hampir setiap pendakian saya sempatkan untuk selalu membawa kamera (kalau bisa plus tripodnya) untuk menjadikan momen pendakian lebih berkesan dan bisa dikenang. Selama ini pun saya merasa sangat menikmati perpaduan dua hobi tersebut. 
Hingga sampai pada satu pendakian ke Merapi (± 2.968 mdpl) di akhir pekan pertama Mei 2013 yang saya usahakan juga untuk menyertakan kamera dan tripod ke dalam list teratas perlengkapan pendakian.

Merapi (kiri) & Merabu (kanan) dari Tulung, Klaten

Memangnya apa sih yang bisa difoto di Merapi??? Gunung berapi paling aktif dan berbahaya di Indonesia itu bukannya bertanah tandus dan hanya memiliki abu vulkanik tebal saja. Pepohonan pun paling cuman tumbuh di lerengnya doang. Yaa, Itu lah sekelumit pemikiran pendek saya saat pertama kali berencana mendaki merapi. Tapi yang namanya ciptaan Tuhan pastilah menyimpan keindahan tersendiri, terlebih gunung. Ciptaan-Nya yang satu ini sudah banyak memikat banyak orang untuk dijelajahi keindahannya. Apa pun yang ada nanti di Merapi, semoga saja menarik untuk dibidik. 


Saya sebenarnya sudah mengenal Merapi sejak masih kanak-kanak dulu. Bayangan saya Gunung Merapi itu adalah gunung yang sangat angker dengan sering terjadi letusan dasyat diiringi dengan semburan api. Terlebih kala itu sempat diputar di televisi serial kolosal berjudul “Misteri Gunung Merapi” yang bertokoh utama Mak Lampir dan Grandong sebagai cucu kesayangannya. Hal tersebut membuat saya lebih yakin bahwa gunung tersebut benar-benar angker sampai-sampai dihuni oleh Makhluk semacam Mak Lampir. Bicara soal drama kolosal tersebut, menurut saya sinetron tersebut tak banyak menonjolkan keberadaan Gunung Merapinya, yang diulas malah perjalanan hidup Mak Lampir dengan segala tingkah polahnya menghadapi para musuhnya. Sehingga malah terkesan judulnya agak sedikit melenceng.  Hehe *-*… #whatever

Yasudah, lupakan Mak Lampir sejenak. Kali ini saya mau sharing pengalaman sekaligus memamerkan keindahan Merapi yang ternyata WOW banget. Sebelumnya, kita kenalan dulu ya dengan tokoh utamanya (bukan Mak Lampir).


Berkenalan dengan Merapi 

panah biru merupakan posisi My Home sweet Home
Dari rumah saya sebenarnya gak terlalu jauh lokasi persemayaman Gunung Merapi, hanya saja yang membuat jadi jauh adalah dengan adanya Gunung Merbabu yang berada di sebelah utaranya. Sehingga untuk mencapai pintu pendakiannya saya harus memutari Merbabu dulu. 

Kalau mau dekat sebenarnya ada cara yang simple tapi bikin ngos-ngosan, yaitu dengan mendaki Merbabu dulu via Kopeng (jalur utara) lalu turun lewat jalur Selo (jalur selatan). Dengan begitu kita bisa langsung menuju basecamp Merapi yang hanya beda desa saja dengan basecamp Merbabu. 

Ngomongin Merapi tidak afdol rasanya kalau nggak bahas erupsinya, secara gunung ini adalah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia dan telah meletus secara berkala sejak 1548. Gunung ini sudah aktif sejak 10.000 tahun yang lalu. Sebagian besar letusan Merapi melibatkan runtuhnya kubah lava yang terus mengalir ka bawah dan terkadang sering disertai dengan turunnya awan panas (wedhus Gembel) yang kecepatannya bisa mencapai 120 km/jam dan suhunya bisa sampai 1.000° C   #subhanallah.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur #ckckck sampai segitunya. 
Selain itu banyak desa dan candi-candi peninggalan kerajaan Mataram Hindu maupun Budha tertimbun abu vulkanik Gunung Merapi. Candi-candi tersebut berada di dusun-dusun seperti Kadisoka, Kedulan, dan Sambisari (Sleman, DIY). Selain itu, menurut pakar yang mengikuti perkembangan Merapi, letusan gunung tersebut tercatat pernah merubah kondisi asli Candi Borobudur yang mulanya berada di tengah-tengah danau menjadi di atas daratan.

Letusan Gunung Merapi tahun 2006, selain menyebabkan lahan pertanian dan pedesaan tertimbun abu tebal, bencana alam tersebut turut menewaskan 2 orang yang berlindung dalam bunker. 
Niatnya sih mau berlindung, tapi kalau soal maut, bersembunyi di tempat paling tersembunyi pun tak akan bisa menghindar. 

Erupsi Merapi tahun 2010 tercatat menjadi salah satu letusan terdasyatnya. Tak hanya penduduk biasa, erupsi itu juga menewaskan juru kunci Merapi yang mulai menjadi bintang iklan kala itu. Mbah Maridjan, sosok lelaki tua itu memang sudah menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta yang ditugasi untuk menjaga Merapi. Karena tugas itu pula beliau menolak untuk dievakuasi sesaat sebelum akhirnya Merapi benar-benar meletus.

"Batuk" Merapi yang membuat daratan di Yogyakarta dan Jawa Tengah porak poranda terselimuti abu pada tengah malam 29-30 Oktober 2010 itu melemparkan gunungan kubah lava hasil letusan tahun 2006 ke udara. Pijaran api dari lava yang tersembur berjatuhan menyelimuti puncak hingga lereng. Kepulan awan hitam dari kawah mahadahsyat Merapi pun membumbung ke atas berpuluh bahkan beratus kilometer.

Dampak dari dahsyatnya letusan kala itu begitu dirasakan warga di sekitar Merapi, terlebih yang berada di sisi selatan arah wedhus gembel dan material vulkanik meluncur. Penduduk yang tak sempat menyelamatkan diri pun terkena imbasnya. Tak sedikit yang dihajar abu panas Merapi hingga seperti yang tergambar di foto berikut   #miris.

Warga Argomulyo, Sleman DIY tampak bermandikan abu vulkanis Merapi yang berniat menjauh dari daerah rawan bencana 
November 5, 2010. (SUSANTO/AFP/Getty Images)

*foto yang menyayat hati lainnya bisa dilihat disini


Jalur Pendakian

Sebelum erupsi 2010, Merapi dapat didaki melalui 4 jalur pendakian, antara lain: Jalur Deles (Klaten), Kinahrejo (Sleman), Babadan (Magelang), dan Selo (Boyolali), namun semua jalur pendakian itu sekarang sangat sulit dilewati karena sangat berpasir, kecuali Jalur Selo (utara) yang aman didaki dan memang sudah menjadi favorit para pendaki. Karena letaknya yang tak jauh dari Basecamp Merbabu, tak jarang pendaki melakukan pendakian estafet dengan mendaki dua gunung yang saling bertetangga itu. Kebanyakan sih memilih Merbabu dulu baru Merapi. 

Hal penting yang wajib diingat pendaki adalah bahwa di sepanjang jalur pendakian Merapi tidak ada sumber air alami, sehingga bekal air harus disiapkan secukupnya sebelum mendaki.



Teman Mendaki

Kali ini saya mendaki Merapi dengan dua orang teman. Salah satunya adalah Tafid yang merupakan teman satu kampus di STAN BDK Manado dulu dan yang satu lagi Bayu yang juga masih satu almamater, cuman dia dulu lokasi pendidikannya di BDK Makasar dengan spesialisasi Bea Cukai. Mereka berdua sudah berteman sejak SMA dan sama-sama berdomisili di Ungaran.

Sepakat mamilih hari, akhirnya kami janjian ketemu di basecamp pendakian Merapi di Selo. Namun saya harus sedikit mengandalkan ketajaman indera karena saya belum tahu lokasi persisnya. Satu hal yang sudah saya tahu adalah letak basecamp yang berada di Jalan Raya Magelang-Boyolali (Selo) dan dekat dengan Gardu Pandang New Selo. Namun saya santai saja, prinsip “Malu bertanya sesat di jalan” harus selalu di junjung  *-*.

Semua beres dan terpacking rapi, saya pun mantap keluar rumah dengan tak lupa bersalaman dengan ibu. Sekitar pukul 15.30 saya mulai memacu motor menuju basecamp di Selo. Kali ini saya tidak lewat Boyolali, namun dengan melewati Ketep Pass (Magelang). Setelah melewati gardu pandang Merbabu Merapi tersebut akan ada percabangan jalan. Jika ke kanan akan mengarah ke Magelang sedangkan yang ke kiri ke Boyolali. Saya pun ambil kiri.
Mulai lah ketemu dengan Jalan Raya Selo. Jalan ini berada di pelana dua gunung yaitu Merbabu dan Merapi. Tak heran jika melewati jalan tersebut akan terlihat banyak pengendara motor yang membawa tas carrier di punggungnya. Bisa jadi mereka akan mendaki Merbabu, mungkin juga Merapi. Namun pada kesempatan kali ini, saya ingin mendaki Merapi. Jadi saya hanya perlu melirik ke sisi kanan (Merapi) saja untuk mengira-ira letak basecamp-nya. Siapa tahu ada papan petunjuk yang mengarahkan saya.

Walau sempat keblabasan sampai di gang masuk Basecamp Merbabu, akhirnya sampailah saya di basecamp Merapi yang beranama “Barameru” setelah menempuh sekitar 40 km dari rumah. Mulai terlihat pula tulisan New Selo di atas sana. 
Dua teman saya ternyata sudah melapor duluan dan berada di warung dekat Gardu Pandang New Selo. Saya pun segera menyusul mereka.

Ijin pendakian tidak terlalu ribet karena hanya mengisi buku tamu sekaligus membayar administrasi sebesar Rp 5.000,- saja. Kita juga akan dibekali satu kantong plastik besar sebagai tempat sampah saat di atas nanti dan harus dibawa lagi ke bawah. Penitipan motor dibayar saat pulangnya dan ditebus dengan membayar Rp 5.000,- .


Saatnya Mendaki...!!!

Kami merencanankan mulai mendaki setelah sholat Maghrib. Di New Selo, kami mengisi perut dulu sembari menunggu adzan. Sore itu pemandangan sekitar tertutup kabut sehingga tidak bisa memandang Merbabu di seberang utara.
Tak lama kemudian Adzan Maghrib pun berkumandang diiringi dengan gemerlap lampu-lampu di bawah yang mulai menyala. Kabut yang semula tebal sedikit demi sedikit mulai menyingkir. Kami pun segera memunaikan Sholat Maghrib sekalian menjama’nya dengan Isya.

Tepat pukul 18.20 kami memulai pendakian dengan target mendirikan camp di Pasar Bubrah. Pendakian pun kami awali dengan berdoa. Kami mulai berjalan beriringan melewati jalan kecil di sebelah kiri deretan warung. Jalanan yang juga menjadi akses penduduk yang punya ladang di lereng Merapi tersebut sedari awal sudah menyambut kami dengan tanjakan. 
Kabut yang semula menyelimuti pemandangan akhirnya menyingkir sempurna, sehingga Merbabu kini mulai tampak meski samar-samar di kegelapan malam. Sesekali terlihat sorotan senter dari beberapa pendakinya yang mengarah ke Merapi. Sorotan itu pun saya balas, sebagai tanda keberadaan kami. Bedanya saat itu sorotan senter di Merbabu sudah hampir sampai puncaknya, sedangkan kami masih terhitung berada di lereng karena baru mulai mendaki.

Pendakian saat itu kami lakukan dengan santai saja tidak terburu-buru, apalagi Tafid yang sering meminta istirahat. Memang trek di Merapi ini konstan-konstan saja, konstan nanjak maksudnya. Bonus dataran pun bisa dihitung dengan jari satu tangan saja.

Pukul 19.20 kami sampai di suatu shelter dengan tiang besi. Kami pun mencari tanda penunjuk Pos 1 berada, tapi kami tidak menemukannya. Berarti tempat tersebut bukanlah Pos, hanya sebuah shelter belaka. Istirahat sejenak di tempat itu lalu kami lanjutkan perjalanan.

Jalur tengah perladangan kini mulai berganti dengan jalur batu-batu yang tidak menancap di tanah. Alhasil kalau kita injak batu itu, sebagian bisa langsung menggelinding ke bawah. Hanya batu-batu besar saja yang aman dipijaki. 
Mulai dari situ trek yang kami lewati full didominasi dengan batu-batu kerakal.

Ngomong-ngomong soal angin Merapi, sedari mulai pendakian memang sudah terasa hembusan angin yang cukup sejuk sehingga menyebabkan saya tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat. Cuaca pun cukup bersahabat, tidak terlalu dingin tapi juga tidak gerah. Biasanya kalau saya mendaki gunung, bagian punggung terutama, bakal gerah dan akhirnya basah karena keringat. Namun saat itu saya merasa sejuk-sejuk saja hingga tak banyak keringat yang mengucur.


Sekitar dua jam berjalan, termasuk telah kami lewati Watu Gajah, sampailah kami di suatu dataran lumayan luas yang dikelilingi bebatuan besar. Ditempat itu sudah ada beberapa tenda yang didirikan. Kami pun break di atas batu besar sambil ngobrol-ngobrol dengan pendaki yang ngecamp disitu. Mereka ternyata rombongan mahasiswa UGM yang mulai mendaki tadi sore. Mereka berkata kalau dari basecamp hingga tempat itu memakan waktu 4 jam. Bisa sedemikian lama begitu karena tas carrier mereka penuh terisi makanan #ckckck. Kami pun tak luput ditawari segelas En*rgen panas. Dari rombongan mahasiswa itulah kami diberi tahu kalau tempat tersebut adalah Pos 2. Seketika kami pun menyadari kalau kami telah melewati Pos 1. Kami belum tahu persis yang mana Pos 1 nya. Saya pun menebak, sepertinya di daerah yang tadi ada tugu ambruknya. Tapi nggak tahu juga sih soalnya papan penunjuk keberadaan pos yang biasa dilihat di gunung-gunung kebanyakan, tidak terlihat jelas di Merapi. 
Menurut rombongan mahasiswa tersebut (kayaknya sudah pernah mendaki Merapi sebelumnya), pasar bubrah sudah dekat. Hanya tinggal melewati dua bukit saja.    #what’s DUA bukit??? 
Seketika kami pun melihat ke arah atas. Dalam remang-remang tampak menjulang dua bukit di bawah puncak.   #Hsssssmmm   Menghela nafas sejenak sembari menikmati saat-saat meregangkan otot.

Di Pos 2 ini lah baru terasa angin yang awalnya semilir mulai berganti dengan angin yang sedikit ribut, bahkan lebih ribut dari yang pernah saya alami saat di Pasar Setan Gunung Sumbing. Rasa ngantuk pun perlahan mulai menggelayuti, rasanya pengen segera merebahkan badan di tenda dengan berselimut kehangatan. Tapi sepertinya harus di tahan dulu sampai nanti di Pasar Bubrah.

Kami lanjutkan pendakian dengan diiringi riuh angin Merapi yang makin ribut saja. Tak berapa lama berjalan kami menemukan satu dataran yang menggiurkan untuk dijadikan tempat mendirikan tenda. Sempat sedikit galau disitu. Mau mendirikan tenda atau lanjut sampai Pasar Bubrah, mengingat Pos 2 masih belum lama dilewati. 
Dengan segala pertimbangan, termasuk angin yang berhembus dengan sangat kencang, akhirnya kami pun mendirikan tenda di lokasi istimewa tersebut. Lokasi tersebut kami rasa memang tempat yang paling tepat karena terlindungi oleh pepohonan perdu di sekelilingnya sehingga angin yang terdengar ribut tidak kami rasakan sedikit pun. Kami sampai di lokasi tersebut pada pukul 22.00. Kami langsung mendirikan tenda kemudian memasak yang anget-anget. Sambil menikmati santapan malam saya sempat melihat bintang di langit yang begitu bertaburan tanda cerahnya hari itu. Kami juga berharap esok hari mendapat cuaca yang cerah.

Saatnya tidur...!!!


Cerita kami di hari berikutnya dengan sunrise hangat dan puncak yang menakjubkan ada disini....





You May Also Like

8 komentar

  1. aaaaahhh, keren yaaaaa.
    tapi bukan buat amatiran deh. -_-

    BalasHapus
  2. @Stufly:


    hanya masalah persiapan aja kok,
    ayo disiapkan aja mulai sekarang.

    Kemaren itungannya uda termasuk persiapan tuh pas naik Gn. Andong...

    Merbabu uda bisa tuh jadi next mount nya...

    BalasHapus
  3. wah padahal tanggal 4 mei saya lagi turun dari merapi tuh, dan sesaat sebelum maghrib baru balik ke rumah, seharusnya ketemu tuh :)

    Sebenarnya jalur Deles masih bisa digunakan dan tidak berpasir, tapi bikin stres -_-;). Tanjakannya bener2 jahat dan jalurnya bikin mikir terus, dengan sebelahnya jurang kali Woro, ditambah lamanya waktu tempuh yang 2x lewat Selo -_-;). Tapi pemandangannya WoW :D

    ng sebenarnya sih ada jalur lain tapi gak begitu terkenal (saya juga blm pernah), Jalur Cluntang, Musuk, Boyolali. Nih jalur nantinya bakal ketemu dengan jalur Deles dan ketemu dengan yang lain di Pasar Bubrah

    BalasHapus
  4. @El Cid:

    O kayake papasan sih,
    pas di New Selo aku liat beberapa pndaki yg baru turun, mungkin ada kamu di rombongan itu....

    ya karena itu milih Selo aja mas, yang tinggal cusss aja ga perlu mikir mikir....

    uda pengalaman bgt nih kayaknya,

    BalasHapus
  5. Kalau gak salah ingat saya sampai basecamp jam 3 sore, terus nunggu teman yang ternyata baru sampai jam 5 -_-;)
    Harusnya sih ketemunya di basecamp :D

    termasuk nubi kok. hanya saja saya lebih senang kalau mendaki gunung yang pernah didaki lewat jalur lain, semacam jalur2 sepi :D

    BalasHapus
  6. @El Cid:

    oh iya berarti... pas d basecamp...
    nyampe basecamp aku jam 4an...
    bis itu baru ke new Selo...


    suka yang sepi-sepi nih ceritanya...

    BalasHapus
  7. kalo yang sepi kan biasanya lebih terjaga dan terasa lebih eksotik aja hehe

    BalasHapus

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!