Suasana Klasik Benteng Ambarawa




Travelling without Phothography is like Romeo without Juliet, dalam versi bahasa kita boleh dibilang kalau jalan-jalan tanpa poto-poto itu seperti Rama yang kehilangan Shinta. Saking lengketnya kaya perangko, kedua hal tersebut bisa-bisa membuat seseorang yang sudah “OTW” alias sudah di tengah perjalanan dan tersadar kalau kamera kesayangan tertinggal di rumah, tak jarang yang rela balik lagi untuk mengambil gadget penangkap gambar tersebut.

Senada dengan saya dan kedua teman semasa SMA dulu, Angga dan Meykke, yang berencana berburu keeksotisan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang masih berdiri kokoh di suatu daerah bernama Ambarawa. Bangunan tersebut memang sering digunakan kawula muda untuk sekedar berfoto-foto, bahkan tak jarang banyak pula calon pengantin memilih lokasi ini sebagai latar untuk foto prewedding mereka karena suasana di tempat tersebut yang terkesan berbeda. Bisa jadi yang menjadi daya tarik adalah suasana klasiknya atau mungkin malah kesan horornya yang dicari. Memang yang namanya bangunan peninggalan jaman baheula (dahulu red.), terkadang menyisakan cerita-cerita berbau mistis yang menjadi topik perbincangan yang santer terdengar di masyarakat sekitar. Bangunan yang juga menarik minat kami untuk sedikit banyak mengisi memori kamera tersebut dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan Benteng Pendem. Namun benteng itu sejatinya bernama Benteng Willem I karena dibangun untuk didedikasikan kepada raja Balanda yang pertama yaitu King Willem atau Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau (1772-1843). 

Lalu kenapa kok namanya Benteng Willem I, berarti ada Benteng Willem II, III, dan seterusnya dong??? Ntar yaa, kita bahas yang Benteng nomer wahid dulu…

Rekaman Sejarah di Ambarawa

Kalau ditanya tentang lokasi berdirinya benteng tersebut, pernahkah teman-teman mendengar nama Ambarawa???
Mungkin saja pernah atau bisa jadi masih terdengar asing di telinga. Tapi bagi masyarakat Jawa Tengah saya kira sudah familiar lah ya dengan nama tersebut. Bagaimana tidak, daerah tersebut sudah selayaknya kota yang memiliki seribu catatan sejarah yang pernah terukir terkait dengan masa kolonialisme. 
Peristiwa penting dan paling terkenal yang pernah terjadi di tempat ini adalah Pertempuran Palagan Ambarawa selama empat hari melawan tentara NICA yang berakhir pada tanggal 15 Desember 1945 pukul 17.30 dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa kembali, sekutu pun dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran tersebut sekarang diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan hari berakhirnya pertempuran sengit itu diperingati sebagai Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.

Ambarawa merupakan titik strategis antara Semarang dan Surakarta ketika VOC berkuasa di Jawa Tengah sekitar 1840an. Pada rentang waktu tersebut, VOC sempat membangun beberapa benteng di sepanjang jalur Semarang-Ungaran sampai Salatiga hingga Surakarta. Pembangunan itu dimaksudkan untuk pengembangan relasi dengan Kerajaan Mataram. Barak-barak militer pun dibangun di kota-kota yang dilalui, termasuk Ambarawa. Daerah yang berada di tepi Rawa Pening tersebut merupakan kota kecamatan yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Semarang.

Latar Belakang Dibangunnya Benteng Willem I

Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn (1827-1830) sempat dirasa perlu adanya barak militer dan sarana penyimpanan logistik, maka mulai dibangunlah sebuah benteng moderen di Ambarawa pada tahun 1834 yang kemudian diberi nama Benteng Willem I yang pembangunannya berakhir pada tahun 1845 (selama 11 tahun). Ada beberapa sumber yang juga menyebutkan bahwa benteng ini difungsikan sebagai barak militer KNIL yang terhubung ke Magelang, Jogjakarta, dan Semarang via kereta api.

Kita mungkin sudah tahu bahwa fungsi pembangunan benteng kebanyakan sebagai sarana pertahanan dari musuh ditunjang dengan struktur yang kokoh dengan parit yang mengelilingi. Tapi Benteng Willem I ini memiliki desain yang berbeda. Jika kita menegok kostruksi benteng tersebut akan ditemui banyak jendela dan sekilas terkesan mirip bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang. Hal tersebut menyiratkan kalau dulunya benteng ini bukan difungsikan untuk pertahanan. Kemungkinan terbesarnya adalah sebagai barak militer sekaligus penyimpanan logistiknyaDugaan itu juga diperkuat dengan tidak dilengkapinya bangunan tersebut dengan suatu konstruksi sebagai tameng dan tidak terdapatnya bekas lubang di puncak benteng untuk memasang meriam seperti yang sering dijumpai pada sebagian besar benteng peninggalan Portugis. 

Benteng Willem I ini sudah menjadi saksi bisu perjuangan Indonesia dari masa kolonialisme VOC hingga NICA. Tentunya bangunan tersebut dari masa ke masa  memiliki perjalanan berlikunya tersendiri. Mulai dengan kejadian runtuhnya sebagian konstruksi benteng karena goncangan gempa bumi pada tahun 1865. Sedangkan mengenai pemanfaatannya, benteng ini sempat beberapa kali dijadikan penjara anak hingga dewasa. Dengar-dengar juga benteng ini diberi nama Benteng Pendem karena memang terdapat satu penjara bawah tanah yang terpendam atau dalam Bahasa Jawa "pendem", tapi karena keterbatasan informasi dan tak ada narasumber yang menerangkan lebih jauh yaa mau tak mau baru itu saja yang baru bisa saya ketahui.
Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini pernah dikuasai dan digunakan sebagai camp militer NICA. Namun setelah direbut oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat) tepatnya 14 Oktober – 23 November 1945 kemudian benteng tersebut dijadikan sebagai markasnya. Semakin berlalunya waktu bangunan ini tak surut dimanfaatkan karena kekokohan konstruksinya. Hingga tahun 2003 dijadikanlah Benteng Pendem sebagai Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A sekaligus barak militer sampai saat ini.

Saya sendiri sebenarnya juga punya semacam kekaguman dan minat khusus dengan yang berbau sejarah seperti benteng di Ambarawa ini. Terlebih jika ada suatu penjelasan tambahan atau bisa dibilang sumber yang bisa memberi pengetahuan yang mencakup 5w dan 1h dari peninggalan sejarah tersebut. Dengan begitu pastilah saya bakal lebih menikmati lagi atmosfer sejarah yang real. Rasanya bakal lengkap sekali bisa berada di lokasi terukirnya suatu sejarah ditambah dengan penjelasan terperinci tentang latar belakang terjadinya. Sehingga saya akan seperti masuk dalam masa dimana kejadian itu terjadi, kan seru tuh…

Menuju TKP

Akhirnya pada satu pagi yang cerah di hari Selasa, 30 April 2013 kami yang sudah merencanakan perjalanan ini sejak lama, mengawali hari itu dengan berkumpul di Lapangan Panglima Besar Jenderal Sudirman Ambarawa yang jaraknya sudah cukup dekat dengan lokasi yang kami ingin datangi. Dengan dresscode yang sudah disepakati kami pun segera melaju menuju lokasi Benteng Pendem bersemayam.

Dari lokasi meeting point, lalu kami menuju RSUD Ambarawa dimana di sebelahnya terdapat satu gang kecil sebagai pintu masuk menuju lokasi Benteng Willem I. Begitu masuk gapura, kami langsung disuguhi pemandangan persawahan dengan didominasi ibu-ibu yang sedang mengolahnya. Tak lupa senyum, salam, dan sapa kami lontarkan kepada mereka yang tengah sibuk dengan padi yang mereka tanam. 

akses menuju Benteng Willem I di sebelah RSUD Ambarawa

Dari hamparan hijau persawahan, tampak sekompleks bangunan di tengahnya yang merupakan bagian dari benteng Ambarawa. Di ujung jalan kecil tersebut tampak satu papan reot yang menunjukkan detail lokasi mulai dari RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan. Papan itu memang agak sedikit membuat saya bingung, kenapa kok bangunan benteng tua ada detail alamat seperti itu.

Rasa penasaran yang sudah tak terbendung membuat saya pingin segera memasuki kompleks benteng tua yang tampak sedikit rimbun tertutup belukar itu. Setelah masuk lewat satu lorong benteng, kami sempat bingung untuk memarkirkan motor dimana. Hingga kami jumpai satu kertas tertempel di dinding yang kurang lebih menghimbau pengunjung untuk memarkirkan motor di depan demi keamanan. Padahal di bawah kertas tersebut tertempel, ada sekitar empat motor yang terparkir. Khawatir dengan keamanan motor, maka kami pun mengikuti instruksi dari himbauan tersebut. Lalu kami menuju depan (saat itu kami pun bingung yang dimaksud depan itu yang mana) yang ternyata merupakan kantor utama lapas Ambarawa. Saat kami datang kesana, kator tersebut sedang ada satu acara yang kelihatannya meriah karena ada acara nyanyi-nyanyi tembang kenangan segala. Kemudian dihampirilah kami oleh salah seorang bapak berseragam militer. Terjadi sekelumit percakapan antara saya dan beliau.

Beginilah sekiranya percakapan diantara kami… 
*(A = saya, X = Bapak TNI)
  • A : "Maaf Pak, kalau mau parkir motor dimana ya?"
  • X : " Parkir saja disitu, masukin saja!" (dengan menunjuk satu lorong sebelah kantor yang sudah terisi mobil dinas)  "Memangnya mau ada perlu apa Mas?"
  • A : "Enggak kok Pak, kami cuma mau foto-foto di benteng saja"
  • X : "Buat prewedding ya?"
  • A : "Bukan kok Pak, cuma buat koleksi saja"
  • X : "Yasudah lapor dulu sana di petugas piketnya, berapa orang memang?"
  • A : "Bertiga Pak"
  • X : " Oh, yasudah kalo gitu parkir di belakang saja tapi jangan ribut-ribut ya, soalnya lagi banyak tamu disini. Temen-temennya itu di belakang juga disuruh jangan berisik" (di benteng saat itu memang sudah ada rombongan anak sekolah plus ada Bu Gurunya juga yang kayaknya mau membuat buku tahunan  gitu)
  • A : " Nggih Pak, makasi dada bye bye...

Setelah mendapat ijin walau nggak jadi mengisi buku tamu, kami pun putar balik ke lokasi awal untuk mencari area yang aman untuk memarkir motor. Dapatlah kami satu lokasi parkir agak tersembunyi yang juga sudah ada beberapa motor yang tergeletak disitu.
Memastikan aman, kami segera memulai mencari spot menarik sebagai latar berfoto. Kami mulai dari lantai dua sebelah pojok timur. Naik lah kami di satu anak tangga dan ternyata ada papan yang memperjelas rasa penasaran saya saat masuk kompleks benteng tadi mengenai detail alamat. Ternyata di lantai dua benteng memang berpenghuni, malah ada ketua RT nya juga. 

salah satu lokasi di Benteng Ambarawa yang dijadikan rumah dinas

Bahkan saat saya sedang membidikkan lensa kamera saya ke salah satu sudut lorong, tiba-tiba dari salah satu ruang di lantai 2 keluar sesosok pria bertelanjang dada dengan handphone menempel di telinganya. Saya pun kaget bercampur agak mati gaya waktu itu, tak terkecuali bapak penghuni benteng tua itu. Seketika beliau yang sedang asik menelpon itu masuk lagi ke huniannya sambil tersenyum kecut dan tidak jadi keluar. Wah, saya kurang cepet memencet tombol rana ketika momen tersebut terjadi. Gak jadi kena deeh…. *-*   

Seluruh sudut benteng kami telusuri, mulai dari lantai dua hingga lorong-lorong yang bisa dilalui. Tampak pula dua bapak-bapak yang tengah membersihkan dinding benteng yang mulai lusuh dan ditumbuhi tanaman liar. Keadaan bangunan tua tersebut memang terawat, tapi hanya bagian yang berpenghuni saja. Selebihnya tampak tidak terurus dengan tembok yang terlihat kotor, tanah yang lembab mendekati becek, serta semak-semak yang meninggi sehingga menimbulkan kesan mistisnya. Sayang seribu sayang kami tak bisa mengeksplor bagian depan yang kini difungsikan sebagai kantor lembaga pemasyarakatan karena sedang ada satu acara. Di lokasi itu lah sebenarnya terdapat spot-spot penting dari benteng. Melihat dari blog-blog traveller yang sebelumnya pernah berkunjung ke benteng tersebut, di bagian depan benteng terdapat tangki air tua, lonceng antik buatan Amsterdam yang juga berusia ratusan-tahun, dan masih banyak lagi tentunya yang bisa dilihat. Tapi apa boleh buat, kami hanya bisa menikmati bagian belakangnya saja. So far kami cukup puas kok memotret diri disana.

salah satunya... *-*


Oiya, mengenai nama Benteng ini yang terdapat angka Romawi yang menunjukkan seperti ada suatu urutan, ternyata memang benar ada satu benteng lain di Ungaran yang bernama Benteng Willem II. Lokasinya berada persis di pinggir Jalan Raya Semarang-Solo, kalau dari arah Semarang ada di kiri jalan di depan Gedung Sekretariat Kab. Semarang. Dari luar sih kelihatan sangat terawat bagus dengan cat putih ditambah patung Pangeran Diponegoro di depannya sebagai penjelas bahwa benteng ini pernah digunakan sebagai tempat tinggal Pangeran Diponegoro. 
Kalau benteng yang satu ini dibangun pada tahun 1755 - 1797 (lebih tua dari Benteng Willem I kan ya??? Tapi malah dinamai Willem II. Ada yang tahu alasannya???). 

Sama seperti Benteng Ambarawa, Benteng Ungaran ini pun memiliki perjalanan panjang mengenai pemanfaatannya. Benteng Willem II pernah digunakan sebagai asrama polisi, sampai akhirnya benteng ini dikosongkan hingga saat ini

Sepanjang Jalan Raya Semarang-Solo sebenarnya pernah dibangun sejumlah benteng berukuran kecil. Saat itu di Ungaran dibangun Fort Outmoeting, yakni pertemuan untuk memperingati pertemuan bersejarah antara Pakubuwono II dengan Gubernur Jendral Van Imhoff pada 11 Mei 1746. 

Mengenai Benteng Willem II insyaallah bakal dibahas lebih rinci di kesempatan berikutnya, tentunya kalau  sudah menyambanginya secara langsung. 
Tunggu yaa... *-*


Keeksotisan di Beberapa Sudut Benteng Willem I, Ambarawa


anak tangga di pojok timur 

kayunya masih asli nih

rumputnya suburrrr....

salah satu bapak TNI yang berumah dinas di lantai 2 benteng 

siluet seksi Angga di lorong benteng

lorong keluar kompleks benteng

siluet Meykke dengan rok ala penari India nya

view di antara benteng yang masih kokoh,
ada jembatan penghubungnya juga tuh, masih kuat lagi...

lorong gelap

ini bisa jadi lokasi parkir,
tapi ada kertas tertempel menghimbau untuk parkir di depan demi keamanan,

cocok buat poto-poto niih

foto wajib... 

Rencana kami hari itu sebenarnya mau menikmati beberapa objek yang berbau sejarah yang ada di Ambarawa. Maka setelah puas bercengkrama di Benteng Willem I ini, kami melaju menuju Museum Kereta Api Ambarawa yang menyimpan beberapa lokomotif kuno yang langka (katanya sih hanya ada 3 di dunia). Tapi setelah sampai di depan museum, ternyata sedang ada renovasi sehingga tempat tersebut ditutup untuk umum. 
Segeralah kami memutuskan loncat ke destinasi berikutnya yang juga tak kalah seruuu..!!! 

Pengen tau dong ceritanya??? klik disini nih...



Share:

2 komentar

  1. Hehe. Kesampaian juga mas. Selamat yaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ga bisa ke bagian depan mas sayangnya......
      Yang lonceng itu di depan kan ya...

      Delete

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!