Serasa TKI di Negara Sendiri, Gili Trawangan

by - 22.00.00



Kata orang sih belum ke Lombok kalau nggak ke Gili Trawangan. Kata orang-orang loh ya. Kalau kataku sih belum ke Lombok kalau nggak sekalian mendaki Rinjani. Hmmm, waktu itu sih punya waktu 9 hari di Lombok dengan jadwal yang sedemikian rupa terencana. Seperti yang saya bilang tadi bahwa tujuan awal memang Rinjani lah yang menjadi prioritas, selebihnya kemana aja boleh. Mendaki Rinjani dengan sejuta keindahannya, lalu menyambangi dua air terjun super  keren di kakinya sebenarnya sudah cukup memuaskan. Terhitung baru 5 hari yang kami pakai dari 9 hari itu. Masih lama juga waktu untuk mengeksplor Lombok.

Angkutan yang kami carter memang sudah kami pesan untuk menjemput dari bandara dan mengantar kami ke Basecamp Pendakian di Dusun Sembalun, lalu menjemput di Basecamp Pendakian di Desa Senaru untuk diantar ke Pelabuhan Bangsal. Selanjutnya kami akan menyebrang ke Gili Trawangan. Jujur sebenarnya saya tidak terlalu antusias dengan Trawangan. Membayangkan saja sepertinya tempat itu bukan “gue banget”. Banyak hal yang sudah saya tahu tentang Trawangan, dari TV dan internet yang pasti. Baru kali itu saya melihat aslinya. Yah, sekedar menggugurkan ke-afdol-an yang katanya belum ke Lombok kalau nggak ke Gili Trawangan. Boleh lah...

Tertidur di angkutan yang kami carter selama lebih dari satu jam akhirnya kami terbangun dan ternyata sudah sampai di Pelabuhan Bangsal. Pelabuhan itu merupakan salah satu tempat penyebrangan menuju 3 gili, yaitu: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Dua gili yang lain sebenarnya lebih sepi dari Trawangan, tapi ke Trawangan aja dulu deh.

Tak hanya kami yang turun Rinjani lalu ke Trawangan. Ada banyak puluhan pendaki juga yang demikian. Terlihat dari tas carrier yang masih bau Rinjani berkeliaran di pelabuhan itu.

Menurut info, kapal yang menyebrang ke Trawangan nggak sampai malam, bahkan hanya sampai sore saja. Jadi sebagai antisipasi, jangan terlalu sore sampai di Pelabuhan Bangsal. Maksimal jam 4 sore lah biar aman. Setelah itu tinggal beli tiket kapalnya saja di loket. Disitu juga bisa milih untuk menyebrang ke Trawangan, Meno, atau Air. Tiketnya pun saat itu nggak sampai Rp 15.000,00 untuk sekali jalan.

Melalui speaker super kencang, pengumuman keberangkatan diumumkan. Kami lalu naik ke kapal dan tak lupa buru-buru agar dapat tempat paling depan agar nanti bisa maju ke haluan kapal untuk menikmati perjalanan ditemani matahari yang hendak tenggelam dengan leluasa.


menuju Gili Trawangan

Kurang lebih dua puluh menit kami terombang-ambing di tengah selat tiga gili itu. Lalu sampai lah kami di daratan dengan hamparan pasir putih namun seketika seperti merasakan lagi ada di mana gitu. Sementara dalam hati saya membatin masak hanya dalam 20 menit saya sudah sampai ke luar negri. Hmmm, yah begitu lah Trawangan. Tempat lokal dengan rasa internasional. Serasa menjadi TKI di negara sendiri. Pulau ini dipenuhin bule-bule coy, lebih banyak bulenya dari pada orang Indobnesia.

Begitu ada yang turun kapal, calo-calo penginapan langsung menyerbu dan nawarin penginapan-penginapan dengan harga yang bervariatif. Tanyakan saja harga dan fasilitasnya dulu, kalau cocok bisa diambil. Kecuali kalau udah tahu mau nginep dimana, jadi bilang saja sudah booking penginapan sama mereka. Hmmm, menurut pengalaman sih penginapan yang terjangkau itu lokasinya ada di tengah pulau. Jangan harap dapat harga murah di penginapan yang letaknya di pinggir jalan utama Trawangan. Berkelas semua kalau yang di dekat jalan utama. Kami sih serombongan nginep di penginapan Rp 150 ribuan aja. Itu pun sekamar diisi 3 orang. Untung aja abangnya ngasih setelah memohon-mohon dengan muka memelas. Dan kami berencana menghabiskan dua malam di Trawangan. Yeah...

warning

bisa sewa sepeda sama beli jamur

Bukan apa-apa sih, itu karena kami pengen merasakan sunset di Trawangan yang katanya termasuk spot yang direkomendasikan untuk menikmati matahari tenggelam, soalnya di hari pertama kan pas masih ribet-ribetnya ngurus barang-barang yang berantakan setelah turun dari Rinjani, jadi nggak sempet ngejar sunset romantis disana deh di hari pertamanya. Okey...

sunset istimewa di sunset Point

bisa main ayunan ala ala anak TK
sambil basah-basahan ala ala anak SD

romansa-romansaan sambil nunggu sunset

bule-bule lagi leyeh-leyeh nunggu matahari tenggelam

menjelang sang surya tenggelam

Satu lagi yang unik lagi di trawangan yaitu perda setempat yang melarang adanya kendaraan bermotor di dalam pulau tersebut, jadi alternatifnya ya pake sepeda atau naik cidomo, sejenis dokar/delman gitu. Bisa kita kelilingin pulau dengan sepeda, paling 20 menit bisa kembali ke tempat asal. Cuman ntar bakal ada bagian yang harus dorong sepeda karena ngelewatin pasir pantai dan juga ada bagian yang harus mlipir-mlipir di halaman hotelnya orang. 

view Rinjani dari Trawangan

keliling pulau ntar bisa ketemu tempat penangkaran penyu

sunrise bersama Rinjani

Kalau isinya bule-bule gitu,rasanya disana itu everyday is party. Tiap malam ada party dimana-mana. Makin malam makin rame, makin malam makin menjadi. Kontras dengan suasana saat pagi harinya. Kayak kampung-kampung biasa gitu, sepi dan sunyi. Disana tetap ada penduduk lokalnya, malah ada pondok pesantren dan sekolah. Tapi sepertinya nggak semua jenjang pendidikan didirikan sekolahan disana.

Kesimpulannya, Trawangan emang keren sih dengan segala apa yang ada di dalamnya, yang kata temenku orang Lombok asli, “Trawangan sebentar lagi kayaknya bakal tenggelam”. Haha emang sih makin kesini tempat hura-hura nya makin diperbanyak. Dibangun, dibngun, dan dibangun lagi tempat baru. Dari segi konsepnya saya akui lumayan keren. Kerennya gini, tempat hura-hura, hedon-hedon, party-party, dsb nya di pusatkan di satu titik dan bagusnya lagi di satu pulau. Ibukota provinsinya saja saya lihat nggak ramai-ramai banget, moll aja cuma satu. Bisa dibanyangkankan kan kalau hiburan yang ada di Trawangan tersebar di seluruh Pulau Lombok. Wah, mungkin yang seneng alam udah ogah-ogahan ke Lombok tuh. Dah cukup deh Trawangan yang dijadikan pusat hedonnya NTB. 




You May Also Like

7 komentar

  1. Trawangan emang skarang udah beda bgt ya, kayak little Ibiza aja, party whole day long....


    * * *

    Jalan2Liburan → Pilihan Kuliner Halal di Singapura

    BalasHapus
  2. Jadi inget, dulu tahun 2009 sempat ke Gili Trawangan, ngenet di warnet 15 menit Rp10.000 (mahal banget!). Sama penjaga warnetnya dikasih tahu hari ini bar yang party mana, besok yang party mana, dst. Emang bener deh di sana party tiap hari. :D

    Kalau adzan maghrib nggak berkumandang dan bendera merah-putih di sekolah nggak berkibar, nggak kerasa kalau ini masih di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya gitu lah bro...
      krasa kalo masih Indonesia itu waktu pagi jam 7-9 an...
      Sepi banget jalanan, liat anak-anak berangkat sekolah...

      Hapus
  3. Terimakasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    Pariwisata

    BalasHapus
  4. mas boleh dong dirinci kisaran budget totalny slma di lombok..mulai dr rinjani sampai ke pantai..
    diluar biaya tiket pesawat.,pkokny dr bandara sampe balik bandara lagi..
    mas punya IG..boleh mnta IG..atau mas DM ig saya..sank.drummer

    BalasHapus

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!