Tips Pendaki Pemula plus Catatan Perjalanan Pendakian Merbabu via Suwanting

Kamu lagi seneng-senengnya naik gunung? atau malah baru mau nyoba naik gunung?
lagi menyusun rencana trip ke destinasi impian?
Hmmm, apa pun itu keadaannya yang pasti akhir-akhir ini yang namanya dunia traveling atau perbolangan lagi didemenin sama anak muda di seluruh penjuru negri. Sudah bisa ditebak, awal dari itu semua dari rasa penasaran setelah melihat unggahan foto di berbagai media sosial yang kayaknya keren kalau yang lagi in frame di foto dengan latar alam Indonesia yang cantiknya minta ampun itu adalah diri kita sendiri. Tapi kadang ada juga segelintir jiwa yang pendek akal yang pemikirannya tak jauh kedepan mengenai akibat jika nggak ada persiapan, pertimbangan, maupun perasaan hingga akhirnya foto yang dikepengenin bisa didapetin. Ada yang berakhir dengan vandalisme, kecelakaan di alam bebas, hingga ada yang berujung hilangnya nyawa. Nggak bermaksud nakutin sih, tapi saya pribadi memohon kepada siapapun itu yang cuma termotivasi hanya untuk selfie dan berfoto narsis saja tolong mencari pembimbing yang bisa menjelaskan lebih lanjut. Alam itu punya dua kepribadian, bisa baik dan sebaliknya bisa juga kejam.

Gunung Merbabu Jalur Suwanting

Pengen dong orang yang ada di foto itu adalah diri kalian sendiri? Nah jangan karena hanya punya modal kepengen doang terus besoknya langsung berangkat ke sabana III Merbabu via jalur pendakian Suwanting untuk sekedar ngedapetin foto yang bisa dijadikan profile picture di FB kayak foto di atas.

Okey, gini maksudnya.
Untuk sampai di tempat yang dijadikan latar foto tersebut sangat nggak mudah. Perlu “sejuta modal” yang harus dipersiakan. Hah, kenapa harus pakai tanda petik? Iyah, maksudnya ga melulu soal uang doang. Atau ada yang mikir kalau punya uang banyak terus bisa ngelakuin apa pun sesuka hati?  Hihihi, pake bawa-bawa hati lagi. Emang loh, mendaki itu gak juga cuma soal fisik juga yang diuji dengan medan menuju puncak yang berat, tapi perasaan juga diuji dimana jangan sampai muncul keegoisan, kesombongan, dan ketakaburan. Pokonya meski kita ntar udah sampai di puncak gunung mau pun di puncak kehidupan, harus tetap down to earth dan kudu ingat kalau kita pernah ada di bawah.

Sekarang kita bahas salah satu cabang kepencintaalaman yang saya rasa ini nih yang paling “gue banget”. Yap, pendakian gunung, sekalian flashback pedakian saya ke Merbabu beberapa waktu yang lalu bareng Agung Dacko. 


Tips Sebelum Mendaki Gunung

Sebelum mendaki gunung, banyak loh yang perlu di persiapkan. Bagi yang baru mulai mau menjadi pendaki, minimal harus tahu dan paham poin-poin yang bakal dipapakarkan berikut. Bagi yang sudah melalang buana ke puncak-puncak gunung mungkin bisa ngasih wejangan atau nambahin tips-tips di kolom komentar di bawah tuh.

  • Perencanaan

Kapan kita kemana?
Sebelum mendaki pastinya bakal bikin rencana pendakian dong ya. Minimal bikin wacana dulu lah sama temen-temen. Meski kadang sering nggak jadinya, hehe pengalaman. 
Okey, kalau sudah itu pasti milih gunung mana yang mau didaki. Jangan udah nyebar wacana kemana-mana tapi nggak tau gunung mana yang mau didaki, sekaligus juga memilih lewat jalur mana loh. Karena ada gunung yang punya jalur pendakian lebih dari satu. Misalnya Merbabu yang punya sekiranya ada 8 jalur pendakian. Beberapa waktu lalu saya sempat mencicipi indahnya jalur pendakian Merbabu via Suwanting yang punya sabana keren banget nget. 

Setelah gunung dan rute sudah fix dipilih lalu yang selanjutnya ditentukan adalah kapan bakal mendakinya. Penentuan waktu ini juga penting. Kalau nggak mau kehujanan saat mendaki ya jangan mendaki di musim hujan. Bukan berarti kalau musim hujan nggak boleh mendaki loh ya. Boleh kok, tapi harus siap bawa barang  ekstra yah, karena ditembah jas hujan dan pakaian ganti yang lebih banyak. Cuaca ini juga jadi pertimbangan view yang bakal didapat pas di gunung ntar. Kalau pas musim hujan biasanya pemandangannya bakal lebih berkabut dan mendung sendu.

  • Persiapan

Persiapan disini bisa dibagi jadi tiga macem, diantaranya:
    • Peralatan Mendaki
Perlengkapan hendaknya disesuaikan dengan lokasi, rute, jangka waktu, jumlah pendaki, dan kondisi cuaca. Tapi ada beberapa peralatan yang emang udah kudu disiapin sebelum mendaki. Bisa beli sendiri atau kalau masih ragu buat beli bisa nyewa di tempat rental alat outdoor. Biasanya sih kalau yang bisa sewa itu kebanyakan alat-alat yang digunakan bersama satu kelompok misal tenda, kompor, dsb.
Beberapa peralatan yang musti disiapin, misalnya: tas carrier, sepatu trekking, jaket, jas hujan, matras, sleeping bag, baju ganti, alat penerangan seperti senter, korek api, tenda, kantong plastik, kompor dan peralatan masak, obat-obatan, serta peralatan lain yang sekiranya dibutuhkan dan tidak sia-sia kalau dibawa.
Gak sampai disitu doang, buat mempacking barang-barang bejibun itu untuk bisa masuk ke dalam tas carrier juga ada aturannya. Gak asal masuk aja. Simpelnya barang-barang itu dipilah-pilah dulu mana yang sering diperlukan dan mana yang cuma dikeluarkan kalau pas ditempat camp. Maksudnya barang yang jarang penggunaannya dan volume besar dan berat bisa ditaruh di bagian paling bawah disusul barang yang dibutuhkan agak sering sampai yang paling atas untuk barang yang sering banget dikeluarin atau yang kalau mau ngeluarin perlu waktu cepet misal jas hujan harus di taruh di tempat yang gampang dijangkau. 
Kalau packing sudah bener, bisa dicheck dengan melihat apakah tas bisa berdiri tegak vertikal tanpa sandaran apapun. Kalau masih ambruk-ambruk kalau diletakkan berarti ada yang salah dengan pengepackan barang-barangnya, terutama bagian paling bawah.
    • Fisik
Kita mendaki dengan modal fisik kan yak, bukan modal nekat doang. Itu artinya fisik perlu disiapin biar nggak kaget saat menghadapi tanjakan-tanjakan maut menuju puncak gunung. Apalagi buat yang baru pertama naik gunung.
Kemampuan ini bakal makin teruji seiring seringnya kita mendaki kok. Pendakian yang pertama bakal jadi sejarah. Kalau baru mau jadi pendaki gunung dan pengen mencetak sejarah buat diri sendiri, persiapkan pendakian secara matang terutama fisik. Bisa dimulai dengan rutin lari keliling lapangan karena kaki yang kuat bakal mempermudah pendakian. Setelah itu banyakin aja push up dan sit up yang bisa dilakuin di pagi atau sore. Latian yang lain bisa juga dilakukan kalau dirasa perlu. Kalau saya cukup itu saja udah oke kok, yang penting konsisten.
    • Mental
Kenapa mental juga diperlukan dalam mendaki. Pastinya kita nggak tahu apa yang bakal terjadi saat kita mendaki. Bisa jadi tersesat, terpisah dengan rombongan. Amit-amit deh kalau ngalamin hal itu, lebih-lebih saya sering baca cerita pendaki yang hilang di gunung. Serem bro...
Nah, karena itu kesiapan mental juga harus dimatangkan. Bisa jadi mental sudah terbentuk sejak awal, bisa jadi juga dengan mendaki mental kita bakal terbentuk. Mendaki mengajarkan banyak hal mulai dari kerendahan hati, fokus, kerjasama, dan menyingkirkan segala kesombongan juga ego di dalam diri. Kita bakal merasa kecil banget waktu di gunung, apalagi kalau sudah di puncaknya.
Oiya, kita juga bisa tahu karakter asli seseorang dengan cara ngajak mereka ke gunung. Di gunung watak seseorang apakah dia care, egois, individualis, suka ngeluh, dan segala sifat yang dimiliki manusia bakal tersibak semua. Karena di alam bebas dengan keadaan fisik yang terforsir, bakal mendorong seseorang untuk bertindak tanpa menutup-nutupinya dan tanpa embel-embel apa pun. Coba deh...
  • Pemahaman (medan dan karakteristik gunung)

Pemahaman adalah hal yang sangat esensial. Dalam hal ini terkhusus mengenai medan dan karakteristik gunung yang mau didaki. Dalam satu kelompok, saran saya paling nggak ada satu atau kalau lebih malah makin bagus, anggota yang memahami medan dan karakteristik gunung.
  • Pengaturan (logistik)

Tips membawa makanan dalam mendaki gunung juga penting. Bawalah makanan yang ringan dan ringkas namun cukup mengandung kalori. Termasuk bahan makanan yang cepat dimasak meskipun kata orang yang instan itu kadang nggak baik, tapi sesekali nggak papa kok bawa mie instan ke gunung.
Jangan membawa dan mengonsumsi minuman beralkohol karena meskipun hangat, minuman tersebut dapat memicu pecahnya kapiler darah karena terlalu cepatnya kapiler darah memuai dalam tubuh.
  • Jaga Diri dan Sikap

Sebelum pendakian dilakukan, kita musti melapor dan memperoleh izin dari pihak-pihak terkait terutama di pos pendakian. Di pos pendakian ini, kita wajib mengisi buku tamu dengan mencantumkan lama pendakian, alamat lengkap dan nomor telepon keluarga atau teman yang dapat dihubungi bila terjadi musibah di gunung (amit2). Setelah turun dari puncak jangan lupa untuk melapor kembali ke Pos Pendakian. Banyak sekali kejadian pendaki yang mengalami hal buruk di gunung karena tidak ijin saat mau naik akibatnya pertolongan pun terlambat datang. 

Sebagai informasi, ada beberapa gunung yang memberlakukan semacam pantangan kepada pendaki saat naik gunung. Misalkan Gunung Lawu yang melarang untuk melakukan pendakian dengan mengenakan pakaian berwarna hijau. Memang secara logika nggak masuk akal, namun karena itu aturan dan mungkin sudah menjadi adat dan tradisi apa salahnya kita patuhi. Kalau disepelekan bisa jadi kejadian seperti yang saya alami beberapa saat yang lalu saat mendaki Gunung Lawu dengan menggunakan celana warna hijau. Ceritanya bisa dibaca disini nih. Tapi saat itu memang jujur karena saya nggak tahu sih, bukan menyepelekan adat atau gimana.
Minimal itu dulu sih untuk jadi bahan pengetahuan sebelum mendaki gunung. Selanjutnya saya mau share pengalaman pendakian yang lumayan mengesankan nih.

 

PENDAKIAN MERBABU JALUR SUWANTING


Gunung Merbabu Jalur Suwanting dan view Gunung Merapi

Beberapa waktu lalu seperti yang saya ceritakan di atas kalau saya bersama Dacko sempat mencicipi salah satu jalur pendakian Merbabu yang menurut saya termasuk yang paling indah se-Indonesia. Jalur yang bernama Suwanting tersebut sesuai namanya berada di Dusun Suwanting, Desa Banyuroto, Kec. Sawangan, Kab. Magelang. Jalur ini sebenarnya sempat dibuka di periode 1990-1998 namun karena suatu sebab dan alasan tertentu akhirnya ditutup dan dibuka lagi di bulan Maret 2015. Hmmm, jalur yang sekian lama ditutup dan akhirnya dibuka lagi pastinya bisa dibayangin kan bagaimana kondisinya.

Gunung Merbabu Jalur Suwanting

Saat itu kami berencana mendaki tanpa berkemah atau dalam dunia perpendakian dikenal dengan sebutan “tek tok”. Naik di tengah malam dan turun pagi harinya. Jalur Merbabu via Suwanting sebenarnya sayang untuk dilewatkan untuk tidak berkemah di pos sabananya, tapi karena kami tahu kalau jalur ini tidak terlalu panjang dan mempertimbangkan pula tenda yang sedang nggak berada di rumah (sebenarnya sih emang nggak bawa tenda biar bawaan nggak berat-berat banget) jadinya kami putuskan untuk tek tok saja. 

MENUJU BASECAMP SUWANTING INDAH

Kami sampai di basecamp Suwanting Indah, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan sekitar jam 10 malam setelah melewati jalanan Kota Magelang yang makin mendekati basecamp makin dingin saja. Kami juga melewati salah satu tempat wisata andalan Magelang yaitu Gardu Pandang Ketep. Lokasi basecamp memang nggak jauh-jauh dari tempat wisata itu. Kalau masih bingung mencari Suwanting, kita bisa pakai petunjuk ke arah Ketep Pass dulu saja. Kalau sudah sampai situ gampang deh nyari Suwanting, toh bisa tanya juga warga sekitar yang sampai tengah malam pun banyak yang masih beraktifitas mempersiapkan sayur-mayur untuk dijual di pasar. Kalau nggak pake GPS deh, gampang kan.

Sampai di Suwanting kami langsung menuju rumah salah satu penduduk yang dijadikan tempat para pendaki untuk beristirahat maupun menunggu waktu untuk mendaki. Seperti saat itu kami putuskan untuk istirahat dulu sebentar sebelum memulai pendakian sembari ngorol-ngobrol dengan pendaki lain.

Tepat pukul 11 malam kami  memulai pendakian dengan sebelumnya melakukan registrasi dan mengurus administrasi pendakian di pos lapor yang letaknya nggak jauh dari basecamp. Biaya administrasi pendakian sangat terjangkau, sehingga Merbabu cukup pantas menjadi gunung yang paling rame disambangi saat akhir pekan disamping memang view yang ditawarkan yang menjadi daya tarik utamanya.

Pendakian di malam hari ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya yaitu kita bakal terhindar dari sengatan matahari yang kalau mendaki saat siang hari bisa membakar secara perlahan tanpa disadari karena saat di gunung udaranya kan dingin tapi panas menyengat, tau-tau gosong aja kulitnya. Selain itu, pendakian di malam hari karena tidak ada panas matahari, secara otomatis akan mengurangi konsumsi air karena kita bakal lebih tahan haus. Tapi perlu diingat meskipun begitu, karena kita jalan terus, panas tubuh tetap akan menyebabkan produksi keringat. Tanpa disadari pas kita naruh carrier, baju kita basah kuyup terutama bagian punggung. Jadinya untuk mengganti cairan tubuh yang keluar, kita harus cukup minum agar nggak dehidrasi. 
Pengalaman beberapa kali mendaki saat malam hari rasa capek juga bakal nggak seberapa terasa sehingga perjalanan menuju ke puncak akan terasa lebih cepat.

Nah, kalau kekurangannya adalah kita jadi nggak bisa ngeliat pemandangan sekitar yang mungkin bisa sangat menakjubkan. Gelap gulita pokoknya. Tapi santai, biasanya kalau cuaca cerah, pemandangan kelap-kelip lampu kota yang terlihat dari atas bisa lumayan menghibur. Apalagi kan esok hari atau pas turun kita juga pasti dapet pemandangannya kan. Bukan pasti, tapi semoga dapet karena memang cuaca sangat sulit diprediksi. Begitu pula yang kami alami saat pendakian itu. Kami juga mendapati perubahan cuaca yang begitu ekstrim. 

Pada saat pendakian itu, kami dengan percaya diri bisa memastikan kalau bakal dapet sunrise karena cuaca pada malam itu sangat cerah. Bintang dan bulan tampak terang benderang tanpa malu-malu menampakkan dirinya. Lampu kota juga jelas terlihat tanpa tertutup awan, dan Merapi pun tak segan menunjukkan kegagahannya meskipun dalam remang-remang. Ternyata menjelang sampai di Pos Sabana I dimana disitu adalah tempat camp favorit pendaki, cuaca berubah seketika. Kabut tebal tiba-tiba turun disusul dengan rintik-rintik hujan dan lama-kelamaan menjadi hujan deras. Untunglah kami belum terlalu sampai di atas sehingga vegetasi belum terlalu terbuka. Meski harusnya vegetasi sudah berubah menjadi perdu alias pepohonan yang kecil-kecil, beruntungnya kami karena masih ada pohon yang lumayan teduh yang bisa untuk kami berlindung. Saat itu waktu belum tepat menunjukkan pukul 4 pagi, seharusnya kami bisa lanjut ke puncak dan menikmati mentari terbit di puncak Merbabu. Namun mungkin karena kami terlalu yakin kalau cuaca pasti cerah, makanya Tuhan menguji kami dengan turunnya kabut tebal yang disusul hujan deras disaat kami hampir sampai puncak. Meskipun agak ndongkol, tapi pengendalian diri wajib diprioritaskan. Percuma saja sudah berkali-kali mendaki namun belum juga bisa mengendalikan diri kan sama saja. Jadi, anggap saja cuaca yang kurang bersahabat menjadi sahabat kita. Jadikan saja sebagai ujian dan pengalaman. Masak mau cerah terus saat naik gunung, kan impossible banget kan.

Di bawah pohon, saya dan Agung Dacko berteduh hingga tak terasa adzan Subuh sayup-sayup terdengar tapi hujan masih belum juga reda. Hingga akhirnya saat sudah agak terang dan kami nggak tahu kapan sang mentari muncul dari peraduannya kami terbangun dari tidur dalam posisi terduduk. Alhamdulillah hujan sudah reda dan mulai lebih terang meski kabut masih menutupi pandangan. Kami lalu bergegas bertayamum dan menunaikan sholat subuh biarpun sudah terlambat. Lebih baik terlambat dari pada tidak.

Gunung Merbabu jalur Suwanting
kabut masih tebel banget  T_T

Rasa putus asa sempat datang di lubuk hati, tapi kami tetap kekeh nunggu kabut tersibak. Sembari menunggu, kami memasak makanan dan minuman untuk menghangatkan badan dan mengisi perut yang mulai konser.
Sedikit demi sedikit kabut menyingkir, tapi kemudian menebal lagi. Kayak memberi harapan palsu gitu.
Belum benar-benar tersibak dengan sempurna, kami putuskan untuk lanjut naik menuju puncak. Apapun yang nanti terjadi kami bakal terima, apakah diberi cuaca cerah ataukah mendung kami pasrah.

Gunung Merbabu jalur Suwanting
mulai tersibak kabutnya dan saya pun mulai tersenyum

Tuhan memang memberi ujian masih dalam kemampuan hambanya. Mungkin berkat kesabaran kami dan tanpa ada umpatan-umpatan yang biasanya terlontar, akhirnya saat kami tiba di Sabana II yang ditandai dengan tanah yang lumayan lapang dan datar, cuaca kembali bersahabat. Matahari mulai memancarkan sinarnya yang perlahan memberi kehangatan. Hingga kemudian langit biru datang menyusul, menjadi pemandangan yang tampak begitu WOW berpadu dengan sabana Merbabu yang menghijau layaknya permadani yang super luas.

Merbabu Jalur Suwanting
memandang ke arah Gunung Andong, Telomoyo, dan Ungaran

Mulai dari situ jepretan demi jepretan pun tersimpan dalam memori kamera. Sungguh kesabaran yang berbuah manis. Pemandangan sempurna akhirnya kami dapat. 

TABEL PEWAKTUAN PENDAKIAN


Basecamp - Lembah Lempong (Pos 1)
 1 jam 15 menit
Lembah Lempong - Lembah Gosong
15 menit
Lembah Gosong - Lembah Cemoro
 20 menit
Lembah Cemoro - Lembah Ngrijan
 10 menit
Lembah Ngrijan - Lembah Mitoh
 30 menit
Lembah Mitoh - Pos 2 (Pos Bendera)
30 menit
Pos 2 (Pos Bendera) - Lembah Manding
1 jam 15 menit
Lembah Manding - Pos Air
 1 jam 30 menit
Pos Air - Pos 3
 15 menit
Pos 3 - Puncak Suwanting
45 menit
Puncak Suwanting – Puncak Kenteng Songo
15 menit
 

JEPRETAN YANG BERHASIL DIABADIKAN


Gunung Merbabu Jalur Suwanting
gimana, savananya keren kan??? apalagi langsung menghadap Merapi

Gunung Merbabu Jalur Suwanting
pendakian bakal lebih lengkap jika datang pas musim edelweiss mekar

Gunung Merbabu Jalur Suwanting
pemandangan khas jalur Suwanting nih

Gunung Merbabu Jalur Suwanting
meskipun banyak banget tanjakannya tapi keindahan viewnya bisa ngobatin cape

Gunung Merbabu Jalur Suwanting
jangan lupa selfie, jangan lupa juga bawa sampahmu turun...!!!

Share:

19 komentar

  1. Merbabu via Suwanting ada 3 pos saja, namun diantara pos-pos itu ada pos bayangan yang namanya berawalan dengan "Lembah" di tiap-tiap pos bayangannya.

    ReplyDelete
  2. Bisa di ulang lagi nga nih. Tapi bareng sy ya. Heheh.

    ReplyDelete
  3. Kak .. Jaga sikap itu macam mana ??? Kalo mau ketemu pacar juga mesti jaga sikap juga kan ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaga sikap dengan senantiasa menutup aurat om...
      kalo ketemu mantan yg repot...

      Bagi tipsnya dong biar ranking satu

      Delete
  4. Bagus banget viewnya, kalau boleh tau mas Ardi naiknya bulan apa mas, pas edelweisnya mekar?

    ReplyDelete
  5. ane rencana 19-20 nov.
    naik suwanting, turun selo.
    kalo mau gabung, email aja yogaraditya@gmail.com

    ReplyDelete
  6. Mas, foto-fotonya tajam banget, jernih. Saya jadi kepengen coba jalur Suwanting nih hahaha, dulu 2013 naik Tekelan turun Selo, lumayan hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. faktor cahayanya itu mas hehe...

      Emang baru dibuka lagi 2015 kmrn mas, coba aja deh

      Delete
  7. Bagus banget pemandangannya, cerah! Makasih tips2-nya. berguna banget buat kami yang blm banyak naik gunung di Indonesia.

    Adam & Susan
    www.pergidulu.com

    ReplyDelete
  8. Jadi pengen naik gan. Bener bener bermanfaat gan infonya.
    Makasih udah bersedia berbagi gan ! :D

    ReplyDelete
  9. Ada ga ya yg mau mendaki merbabu hari sabtu tgl 5 agustus 2017,sy berencana mau naik Gn merbabu sm istri.bila ada kontak pin bbm d0dfa261 wa 082282824567

    ReplyDelete
  10. Kalo untuk pemula lbh disarankan lewat Selo atau suwanting? Dan misalnya pingin lewat 2 jalur ini sekali jalan, baiknya brangkat lewat mana pulang lewat mana ya ( msh tetep acaranya pemula nih judulnya 😁) ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. baiknya sih naik suwanting turun suwanting baru ntar kalo ada waktu lagi naik selo turun selo. View keduanya kalo pagi lebih bagus... Kalo lewat beda jalur ntar ada salah satu yg gak dapet pas pagi.

      Delete
    2. Maturnuwun infonya mas Ardi...Krn rencana berangkat dr SBY malem, jd inshaAllah pagi udah bs start naik, berharap pagi dan sore dpt nuansa yg beda di jalur yg beda

      Delete
  11. kameranya apa ini gan? bagus banget

    ReplyDelete
  12. Baru turun via suwanting, awal agustus. Cocok untuk tek tok. Lebih cantik sunset, matahari terbenam diantara 3 gunung, ditengah samudera awan. Luar biasa

    ReplyDelete

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!