Pendakian Gunung Slamet via Bambangan

Pulau Jawa banyak sekali memiliki pancang bumi alias gunung tersebar di permukaannya. Nggak heran kalau gunung-gunung di Jawa selalu menjadi tujuan pendakian. Banyak alasan kok untuk menjadikan gunung-gunung tersebut sebagai destinasi pendakian meskipun untuk menuju kesana harus rela menempuh jarak ratusan kilometer dan waktu yang gak sebentar dari daerah asal. Mulai dari view yang disajikan, jalur pendakian yang menguji kemampuan pendakian, hingga bisa melakukan pendakian beberapa gunung sekaligus dalam satu rangkaian waktu, karena memang banyak gunung di Jawa yang bersebelahan; misal Gunung Gede Pangrango, Sindoro Sumbing, Merbabu Merapi, sampai yang di bagian timur Jawa ada Arjuno Welirang. Pengalaman sih, beberapa kali ketemu pendaki di jalur pendakian dan ternyata dia barusan juga mendaki gunung di sebelahnya, alasannya tak lain karena mumpung udah jauh-jauh kesitu jadinya sekalian saja mendaki gunung lain yang basecampnya nggak saling berjauhan.

Saya sendiri khusus untuk gunung-gunung di Jawa Tengah sampai akhir 2016 kemarin sudah hampir semua gunung yang ketinggiannya sekitaran 3000an mdpl pernah saya pijakkan kaki di puncaknya. Kurang satu yang belum yaitu Gunung Slamet yang letaknya berada di bagian barat Jawa Tengah, lumayan jauh juga dari rumah soalnya. Pernah sih sampai di bawah gunungnya namun sayang belum berkesempatan mendaki Slamet. Hingga pada akhir Desember 2016 lalu saat ada tanggal merah, maka rencana pendakian ke atap tertinggi Jawa Tengah itu bisa direalisasikan. Biar ntar kalau ditanyain sudah ndaki kemana aja, jawabnya gampang; gunung di Jateng yang 3000an mdpl sudah semua. Hahaha, enggak gitu juga sih. Pokoknya jangan ada kesombongan sedikit pun sebagai pendaki gunung, ntar bisa “kena batunya” pas mendaki. Gak sedikit kok yang karena kesombongannya saat mendaki berakhir dengan celaka. Jadi anggap saja nambah pengalaman kalau memang sudah mendaki banyak gunung. Yang berhak sombong hanya Tuhan semata, karena Dia-lah yang maha mencipta alam yang manusia tempati dan gunung-gunung yang kita daki ini sodara-sodara. Lanjutttt…

Gunung Slamet

Kenalan dulu yuk dengan gunung yang punya ketinggian maksimal 3.428 mdpl ini. Tinggi banget yak, gak heran sih gunung ini jadi atap tertingginya Provinsi Jawa Tengah. Gunung ini masuk wilayah administrasi beberapa kabupaten diantaranya adalah Purbalingga, Purwokerto, Brebes, dan Tegal yang familiar kita kenal dengan wilayah Jawa Ngapak. Puncaknya bernama Puncak Surono yang konon bermula dari seorang pendaki di jaman dahulu bernama Surono yang terpeleset di puncak dan akhirnya meninggal. Entah kenapa alasannya, nama Surono diabadikan sebagai nama puncak Gunung Slamet. Selain itu untuk mengenang almarhum juga dibangun sebuah tugu di puncak. Di dekat puncak terdapat kawah menganga bernama Segoro Wedhi (Lautan Pasir) yang masih aktif mengeluarkan asap belerang yang baunya sangat pekat menusuk hidung terutama kalau kita lagi di puncaknya.

Jalur Pendakian


Ada beberapa jalur pendakian resmi Gunung Slamet yang bisa kita pilih untuk menuju ke puncaknya. Ada jalur Bambangan di Purbalingga, jalur Baturaden di Purwokerto, ada jalur Guci yang ada di Tegal, jalur Kaliwadas di Brebes, dan juga jalur Dipajaya yang masuk Kabupaten Pemalang. Setiap jalur punya karakteristiknya masing-masing. FYI aja nih, kalau ada beberapa spot di jalur pendakian Slamet yang konon katanya angker dan udah jadi rahasia umum sih. Ada air terjun Guci yang konon katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, ada mitos manusia kerdil yang dulunya adalah pendaki yang tersesat yang lama-kelamaan memakan tanaman untuk bertahan hidup sampai-sampai kehilangan jati dirinya sebagai manusia, dan yang paling menyeramkan adalah dua pohon besar di jalur pendakian Bambangan yang konon merupakan pintu gerbang menuju alam gaib serta terdapat pos yang bernama Samarantu yang katanya bermakna samar-samar ada hantu. Hmmm, mayan bikin bulu kuduk merinding sih. Tapi bisa dijadikan referensi aja siapa tahu emang ntar ketemu. Eh, bercanda… Jadikan semua itu kearifan lokal yang patut dihormati dan yang penting jaga sopan santun saat mendaki.

Kala itu kami menuju puncak Gunung Slamet lewat jalur paling mainstream namun menjadi yang difavoritkan pendaki kalau mendakinya yaitu jalur Bambangan yang ada di Kabupaten Purbalingga.

Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan

Kalau ditanya kenapa pilih jalur Bambangan sebagai awal pendakian menuju puncak Gunung Slamet tak lain karena memang jalur tersebut yang paling populer di kalangan pendaki. Untuk yang pertama kali emang enaknya kalau pakai jalur yang paling rame dulu gapapa lah, baru yang selanjutnya bisa mencoba jalur lain yang lebih menantang.

Menuju basecamp Bambangan makin kesini makin gampang aja. Di Stasiun Purwokerto sudah ada angkutan yang khusus untuk pendaki yang ingin menuju basecamp. Saran saya sih mending kalau yang dari luar kota dan ada jalur kereta ke Purwokerto lebih enak kalau pakai kereta dan dilanjut dengan angkutan umum yang khusus untuk pendaki tersebut. Bahkan sampai ada paguyuban dan tanda pengenalnya juga lho. Mereka akan mengantar ke basecamp sekaligus menjemput untuk diantarkan lagi ke stasiun atau terminal.

Waktu tempuh antara Stasiun Purwokerto dan Basecamp Bambangan hanya satu jam perjalanan saja. Sembari menuju basecamp juga bisa sekalian membeli logistik yang belum lengkap. Banyak warung-warung kok sepanjang jalan menuju Bambangan.



Sampai di basecamp kita wajib melakukan registrasi dan mengurus administrasi. Kalau datang secara rombongan kita harus menulis nama seluruh anggota rombongan dan meninggalkan KTP salah satu wakilnya. Buku tamu dipisahkan perwilayah antara Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur & Luar Jawa. Jadi buku tamu untuk pendaki dari Jawa Timur dan Luar Jawa dijadikan satu, mungkin karena masih belum terlalu banyak pendaki yang naik Slamet yang berdomisili dari daerah tersebut. 
Tak lupa membayar karcis masuk yang masih lumayan terjangkau lah untuk kalangan mahasiswa. Saat akan mendaki kita juga bakal dibekali dengan peta jalur pendakian yang terdapat pula estimasi waktu dan jarak tempuh antar pos. Selain itu juga bakal diminta membawa dua bibit pohon yang harus dibawa naik dan ditanam di gunung.

Basecamp – Pos 1 (2,5 jam)

Pendakian dimulai dengan melewati gerbang hits di dekat basecamp. Belum terlalu menanjak karena masih melewati area perkebunan warga, namun susahnya banyak cabang jalan yang ada di kebun-kebun itu yang sedikit membingungkan. Belum apa-apa kami sudah bertanya sama warga dimana jalur pendakian yang benar. 


Saat di ladang yang banyak cabangnya, ikuti jalur pendakian yang ke arah kiri. Setelah beberapa tanjakan terlewati kita bakal menemukan deretan warung sederhana berjajar dengan senyum ramah ibu-ibu menawarkan dagangannya. Awal sampai disitu pasti mengira kalau sudah sampai di Pos 1, ternyata itu hanya pos bayangan saja. Pos 1 masih jauh banget coy. Tapi segarnya semangka yang menggoda apalagi pendakian di siang bolong yang terik, sepertinya tak ada salahnya untuk mampir sejenak sekalian mencicipi tempe kemul yang hangat untuk menambah tenaga.
Tak berapa lama bakal dijumpai trek Slamet yang sebenarnya dengan tanjakan yang menghajar dengkul. Vegetasi juga mulai memasuki hutan pinus yang rimbun.

Sampai juga kami di Pos 1 yang bernama “Pondok Gembirung”. Terdapat beberapa warung di Pos 1 tersebut yang sebagian besa menjajakan makanan ringan, nasi, dan yang menjadi ciri khas adalah setiap warung pasti ada yaitu semangka dan tempe mendoan. Waktu tempuh kami dari basecamp menuju Pos 1 memang agak molor yaitu 2,5 jam karena banyak penggoda iman yang memaksa kami untuk singgah agak lama untuk menikmati santapan khas Gunung Slamet.

Pos 1 – Pos 2 (±1 jam)

Menuju Pos 2 trek pendakian makin dipersulit dengan keadaaan semalam yang sepertinya turun hujan. Tanjakan yang sebetulnya mudah dilalui, tapi karena becek dan licin sehingga perlu tenaga ekstra untuk melewatinya. 
Hingga sampai di ujung suatu tanjakan terlihat beberapa warung dengan aroma tempe mendoan yang menyeruak. Itulah pos 2 yang bernama "Pondok Walang".

Pos 2 – Pos 3 (±1 jam)

Makin ke atas, hutan makin lebat dan akan banyak melewati jalur pendakian yang menyerupai cerukan sempit sebagai jalan air mengalir.
Kami sampai di Pos 3 menjelang magrib, karenanya kami singgah sejenak untuk menyeruput teh hangat yang tentunya kami nggak masak air sendiri tapi beli di warung yang ada di pos tersebut. Hingga Pos 3 kami masih bisa menjumpai warung. Enak juga ya, Gunung Slamet sekarang bisa bikin tas carrier jadi lebih enteng.

Pos 3 – Pos 4 (±1 jam 20 menit)

Karena kami mulai pendakian sekitar jam 1 siang, sehingga selepas Pos 3 pun hari sudah gelap. Kami keluarkan head lamp untuk menerangi jalan kami menuju Pos 4 yang bernama Samarantu. Yap, pos yang cukup tenar namanya karena cerita-cerita mistis yang beredar. Kami sih yakin saja karena kami mendaki dengan niat baik dan gak berulah macem-macem.

Pos 4 ternyata berbentuk tanah yang tidak begitu lapang dan banyak pohon besar yang sudah tumbang. Kami lihat saat itu ada dua tenda yang ngecamp disitu. Kami kira karena banyak cerita horror tentang Pos 4 sehingga bikin pendaki menghindari mendirikan tenda di Pos Samarantu, ternyata nggak semua berfikir kayak gitu juga kan
Kami pun beristirahat sejenak sembari melihat sekeliling yang keadaannya memang cukup mencekam. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara wanita tertawa. Kami yang awalnya sedang mengobrol pun seketika terdiam. Setelah kami telusuri arah suara berasal dari tenda. Hmmm, berarti emang ada pendaki wanita disitu. Positive thingking saja lah.
Kami berencana ngecamp di Pos 5. Itu pun kami harap-harap cemas dapet lapak buat mendirikan tenda atau tidak.

Pos 4 – Pos 5 Camp (±30 menit)

Jarak antara Pos 4 ke Pos 5 memang tidak terlalu jauh, tapi rasanya jadi agak jauh. Mungkin karena badan sudah lelah mendaki dan ingin segera merebahkan diri di dalam tenda.
Sampailah kami di Pos 5 yang ternyata ramai banget dengan tenda yang sudah berdiri. Oh iya, masih ada warung juga di Pos 5 loh. Kami keliling di sekitaran pos tersebut untuk melihat apakah masih ada lokasi untuk kami mendirikan tenda. Lalu kami putuskan menaruh carrier terlebih dahulu dan sebagian anggota mencari lokasi agak ke atas.  Alhamdulillah masih ada satu lokasi untuk 2 tenda tersisa. Benar-benar tinggal itu saja yang tersisa. Entah kebetulan atau apa kami nggak tahu yang jelas kami sangat beruntung. Coba kalau tempat itu sudah ada yang menempati, artinya kami harus lanjut ke Pos 6 untuk dijadikan tempat bermalam kami.


Pos 5 – Pos 6 (±10 menit)

Malam saat itu kami lewati dengan begitu cepat. Rasanya baru saja merebahkan badan di dalam hangatnya sleeping bag tau-tau alarm berdering tanda kami harus bangun dan memulai summit attack dengan jarak yang masih lumayan jauh. Kami tak terlalu banyak berharap mendapat sunrise di puncak mengingat masih ada Pos 6 sampai Pos 9 yang harus kami lewati meski jarak antar posnya sudah gak begitu jauh seperti pos-pos sebelumnya. Kami memulai perjalanan meninggalkan Pos 6 sekitar pukul 04.30 WIB setelah sebelumnya mengisi perut dengan yang anget-anget dan sekalian sholat subuh.


Pos 6 – Pos 7 (±20 menit)

Seperti jarak Pos 5 menuju Pos 6 yang nggak terlalu jauh, begitu pula Pos 6 menuju Pos 7. Hingga kami mendapati pemandangan sunrise keren di Pos 7 itu. Kondisinya banyak pepohonan rimbun namun untungnya bagian yang menghadap timur lumayan terbuka sehingga pendaki yang kesiangan termasuk kami bisa menikmati hangatnya matahari terbit di Pos 7. Di pos ini juga ada warung loh. Inilah warung yang paling tinggi di jalur pendakian Slamet via Bambangan. Bisa lah kalau mau menyeruput kopi atau teh manis panas sambil menikmati munculnya mentari di ufuk timur.



Pos 7 – Pos 8 (±10 menit)

Tak perlu berlama-lama di Pos 7 karena masih ada 2 pos lagi sebelum puncak, Dari pada ntar kesiangan dan bau belerang dari kawah Segoro Wedhi makin menusuk hidung, kami pun memutuskan untuk melanjutkan pendakian menuju Pos 8 dengan melewati tenda-tenda pendaki di Pos 7 yang tersebar dimana-mana karena memang pos ini tidak berbentuk tanah lapang namun pendaki-pendaki biasa mendirikan tenda diantara pepohonan dengan tanah yang berundak.

Pos 8 – Pos 9 Plawangan (±15 menit)

Tak lama berjalan kami sampai juga di Pos 8 yang juga bisa digunakan untuk tempat ngecamp tapi perlu diingat kalau tempat ini sudah mulai terbuka dan jarang pepohonan, jadi perlu dipertimbangkan mengenai kondisi angin maupun saat hujan. Oh iya, selang dua hari setelah kami mendaki, dunia pendakian kembali berduka dengan meninggalnya dua pendaki di Pos 8. Sebabnya adalah sambaran petir ketika mereka berdua sedang berada di dalam tenda. Alam memang tidak dapat diprediksi namun segala mara bahaya bisa diantisipasi dengan salah satunya mempertimbangkan lokasi mendirikan tenda saat di gunung agar kejadian malang seperti itu tidak terulang lagi.


Pos 9 – Puncak (±30 menit)


Sampai di Pos 9 yang juga sering disebut sebagai Plawangan kami dibuat kagum dengan jalur menuju puncak yang sungguh luar biasa keren. Ukiran-ukiran alam membentuk trek sebelum puncak begitu indah, meski untuk melewatinya butuh tenaga ekstra karena kemiringannya yang tidak main-main dan juga kondisi bebatuan yang sangat labil dan mudah sekali menggelinding ke bawah. Dengan kondisi jalur pendakian yang demikian, sangat perlu kehati-hatian untuk melewatinya agar tidak terperosok dan juga agar batuan tidak mengenai pendaki yang berjalan di bawah kita.




Jalur pendakian hanya sedikit pasir, nggak seperti Mahameru maupun Merapi yang banyak pasirnya. Jalur menuju puncak Slamet didominasi tanah keras dengan bebatuan cadas yang tidak benar-benar tertancap di tanah.

Setelah terengah-engah dihajar trek menuju puncak slamet yang luar biasa itu akhirnya kami bisa sampai di dataran sebelum puncak. Kami istirahat sejenak untuk menunggu semua anggota ngumpul. Di puncak sudah rame banget pendaki yang mulai foto-foto pake kertas bertuliskan “Sayang kapan nanjak bareng…” sampai ada juga yang selimutan sarung karena memang angin disana semribit banget yang kadang agak sedikit kenceng membawa hawa dingin yang lumayan menusuk tulang.







Kami segera menghampiri tanah tertinggi Jateng dan berfoto dengan plang bertuliskan Puncak Slamet, biar afdhol gitu loh. Oiya, saya kira dari puncak sudah terlihat kawah Segoro Wedhi, tapi untuk melihatnya kita harus berjalan turun berkebalikan arah dengan saat tadi menuju pucak.



Menuju Kawah Segoro Wedhi

view kawah yang super keren

Cukup lama kami berfoto-foto di puncak kawah karena memang viewnya sungguh ciamik. Berlatar kawah Segoro Wedhi yang sangat lebar berwarna kuning dan juga mengepulkan asap, berpadu dengan gagahnya Gunung Ciremai yang beberapa waktu yang lalu sempat saya daki turut menampakkan diri di kejauhan. Sungguh perpaduan yang luar biasa. 
Menjelang siang kami memutuskan untuk turun ke tempat kemah untuk segera packing dan lanjut turun ke basecamp.

Perjalanan turun cukup lancar meski sempat diguyur hujan. Sekitar jam 7 malam kami baru sampai di basecamp Bambangan. Rencananya kami dijemput mobil yang mengantar kami kemaren esok hari, sehingga malam itu kami menginap di basecamp. Btw, kalau sedang ramai pendakian, basecamp bisa sangat penuh pendaki-pendaki yang juga bermalam. Sama seperti saat itu yang rame banget, jadinya kami menginap di warung depan basecamp. Banyak juga rumah-rumah warga yang bisa dijadikan tempat bermalam kok. Sang pemilik juga tidak mematok harga untuk pendaki yang ingin menginap. Yang penting kalau bisa beli makan atau minum di warung tempat kita menginap itu sudah cukup.



Pagi hari pun datang. Kami disuguhi sunrise yang sepertinya malah lebih keren dari yang kami lihat saat di Pos 7 kemarin. Setelah bersih-bersih dan packing ulang kami pun memasukkan barang-barang ke dalam angkot yang sudah menunggu di depan warung. Kami diantar menuju terminal Purwokerto dengan melewati jalan berbeda dengan yang kami lewati kemarin. Kami dilewatkan di objek wisata Taman Baturraden yang juga menjadi salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Slamet.




FYI guys, berikut ini adalah perkiraan perubahan elevasi dan waktu tempuh antar pos yang bersumber dari IG +Info Slamet. Nggak beda jauh lah dengan waktu tempuh pendakian kami yang ada di atas.



A post shared by Info Slamet (@infoslamet) on

Okay, cukup segitu cerita dan info yang bisa saya bagi tentang pendakian Gunung Slamet. Gunung menyimpan banyak rahasia yang hanya bisa kita ketahui setelah mendakinya. Gunung bisa baik dan bisa juga seketika menjadi kejam saat kita bertindak melampaui batas. Semua bahaya bisa kita antisipasi, jadi persiapkan pendakian sebaik mungkin dan pertimbangkan segala yang akan kita lakukan dengan matang-matang.

Share:

33 komentar

  1. Insya Allah tgl 13 nanti saya akan berangkat ke G. Slamet. Seandainya dijelaskan lebih detail tentang transportasinya dari Stasiun Purwakarta ke Basecamp Blambangan akan lebih bagus lagi. Terima kasih informasinya sangat membantu. Salam lestari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hallo mas... thanks atas kunjungan ke blog saya.
      saya rasa cukup jelas kok untuk transport ke basecamp dari Stasiun Purwokerto (bukan Purwakarta yaaa). Meskipun yang saya tuliskan cuman satu jenis moda transportasi saja.

      Delete
    2. ada nomor tlp paguyuban nya mas bro?? apakah tiap hari ada dan tiap waktu ada sampai malam? kalau ada infonya mohon di bantu update nya. makasih mas

      Delete
  2. sekiranya kalo ada nomer dari pihak basecamp nya mohon d cantumin mas. terima kasih

    ReplyDelete
  3. Insha Allah tanggal 24 des 2017 ke gunung slamet , oh iya jalur dari pos ke pos tidak bercabang gan ? Lebih aman kira" ngecamp di 5 atau 7 , coba di perjelas lagi soal jalur nya mas. makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak ada cabang kalau sudah sampai pos. yg membingungkan malah pas awal pendakian karena banyak kebun otomatis banyak juga jalan setapak nya.
      lebih aman pos 5 sih, setelah itu jarak antar pos sudah saling berdekatan, nggak kayak pos2 di a wal yg jaraknya jauh2. yang kurang jelas bagian mana mas?

      Delete
    2. Oalah oke siap mas makasih info info nya sangat mambantu , udah cukup jelas mas.

      Delete
  4. Assalamualaikum....jika dakinya sendirian aja nyaman ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. aman atau nggak itu relative mas, tinggal tergantung kesiapan aja...

      Delete
  5. permisi mas mau tanya, selama perjalanan melewati pos-pos tersebut sampai di puncak slamet apakah ada sumber mata air yg bisa langsung diminum ? jika ada di Pos berapa ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap pos sampai di Pos 7 itu ada warung mas, kecuali di Samaranthu.
      Kalau mata air dulu kami ngisi dari Basecamp bawah sih, ga sempat ngisi di Pos atas.

      Delete
  6. ada contact person buat sewa kendaraan dari stasiun engga ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya kirim via email mas bro, apa emailnya?

      Delete
    2. sekalian mas nandaputra02@gmai.com
      Trimakasih heheh

      Delete
  7. Ayo bro yang mau ikut gabung saya ma temen2 naik slamet ??? Rencana mau naik tgl 24-25

    ReplyDelete
    Replies
    1. 24-25 desember 2017 via bambangan purbalingga

      Cp:0896-2590-2176

      Delete
  8. assalamualaikum, permisi bang punya kontak penyewaan mobil buat ke basecamp bambangan dari stasiun purwokerto ?

    ReplyDelete
  9. MAS MINTA CONTAC PERSON NYA??
    UNTUK AWAL TAHUN JALUR PENDAKIAN DI TUTUP NDAK???
    TERIMAKSIH

    ReplyDelete
  10. Saya ada rencana ke puncak gn.slamet pertengahan februari 2018,kira2 jalur pendakian tutup atau tidak....?
    Kira2 dr jakarta sampai bambangan butuh budget berapa per orang nya....?
    Biaya tiket pendakian berapa per orang nya....?
    Mohon bantuan info nya bagi yg sudah berpengalaman ke puncak gunung slamet.
    Jika ada no contact yg aktif dipos pendakian yg bambangan.
    Terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete
  11. Thanks bro lengkap pisan info nya .

    ReplyDelete
  12. Bagus tulisan dan foto-fotonya, warung nya apakah setiap hari buka? baru mau berangkat ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya cuman pas weekend aja warung di pos pos itu buka.

      sippp. safety first...

      Delete
  13. gan,,mau nanya, apabila sampe staisun pwt malam hari apakah ada angkutan umum menuju basecamp bambangan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus janjian sama angkot yg bakal jemput mas

      Delete
    2. ada nomor kontak paguyuban nya mas di stasiun?? atau angkot nya?? karena sampai sana tengah malam. mohon di bantu email ke jimmusonka@gmail.com. makasih mas

      Delete
  14. emailnya salah ya bro, ga kekirim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas saya minta kontak buat angkutan ke basecampnya ada mas kayanya saya sampai malem trims

      Delete

  15. Assalamu'alaikum gan ardi yanta
    Saya minta contac angkot nya dong
    Azisetiawan13@gmail.com
    Trimakasih sebelum dan sesudah nya gan

    ReplyDelete
  16. Selamat pagi bro, mohon info, untuk transport dari stasiun purwokerto menuju basecamp bambangan ada yg langsung atau ga y?
    Karena saya lihat2 bnyak yg mnyarankan naik trnsport umum dlu sampai tr.bobotsari baru ada kendaraan yg menuju basecamp.
    Mohon pencerahan bro. Trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada yg langsung kok, cuma itu angkot carteran.
      angkot khusus untuk pendaki.
      bisa diantar dr stasiun pwt smaoai6 basecamp bambangan.

      Delete
  17. terimaksih informasinya yang sudah di sampaikan kang, cukup bermanfaat untuk informasi awal bagi calon pendaki yang baru pertama ke gunung slamet.

    ReplyDelete

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!