Langkah Penuh Cerita Menuju Puncak Argopuro

Setiap pendaki gunung pastinya selalu punya ambisi untuk terus dan terus berusaha menapaki puncak-puncak gunung yang ada. Dari satu puncak lalu ingin ke puncak gunung yang lain. Jadi, apa sih sebenarnya yang para pendaki termasuk saya sendiri cari di puncak gunung sana?

Kalau ditanya seperti itu simpel saja jawaban saya, banyak rahasia tersimpan di tingginya gunung dan hanya bisa diketahui setelah kita mendakinya. Rahasia itulah yang saya atau mungkin pendaki-pendaki lain jadikan alasan kenapa mendaki gunung. Semua orang tahu kalau gunung itu dingin, tapi kita baru bisa benar-benar merasakan dinginnya jika kita telah memijakkan sendiri kedua kaki ini disana secara langsung bukan.

Argopuro, Mount of Thousands Savanas

Di postingan sebelumnya sudah saya ceritakan gimana gambaran garis besar pendakian Gunung Argopuro, apa saja keunikannya, sampai mitos dan legenda apa saja yang terkait gunung dengan jalur pendakian terpanjang se-Pulau Jawa itu. Kali ini bakal diceritakan langkah demi langkah pendakian kami mulai dari basecamp hingga sampai puncak kemudian turun menuju basecamp yang ada di sisi lain Gunung Argopuro dengan selamat.

 

Menuju Basecamp Baderan

Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 2 siang menggunakan kereta menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Tiba di stasiun tujuan kurang lebih jam 2 pagi dan nggak disangka driver elf yang bakal nganterin kami menuju basecamp Baderan sudah menunggu di depan stasiun. Yap, kami memilih carter mobil saja dari pada harus gonta-ganti bus dari Surabaya ke Bondowoso. Enaknya lagi sepanjang perjalanan bisa dipake buat tidur mempersiapkan tenaga tanpa khawatir kebablasan.  Kalau ada bro-bro dan sista-sista calon pendaki Argopuro yang berencana mau carter elf juga seperti kami, bisa drop your email on the comment form below ntar saya kasih kontak drivernya deh. Btw, jarak Surabaya ke basecamp pendakian Gunung Argopuro di Desa Baderan yang masuk wilayah Kabupaten Bondowoso itu lumayan jauh juga loh. Kami bisa puas tidur, bangun, tidur lagi, dan bangun lagi selama di jalan. Bisa sampai makan waktu sekitar 6 jam perjalanan dengan beberapa kali berhenti doang sih, cuman sekedar sholat dan belanja logistik di suatu pasar tradisional di Probolinggo. Oiya, kalau memakai moda transportasi bus, perlu diingat kalau turunnya di daerah yang namanya Besuki kalau kalian sudah sampai di Bondowoso. Abis itu tinggal ngojek aja atau kalau ada tebengan mobil pick up bisa dimanfaatkan buat nganterin ke basecamp. Jarak Besuki ke Baderan bisa ditempuh selama 50 menit dengan jalanan beraspal nan menanjak.

Setelah mengarungi jalanan yang teramat panjang, finally kami pun sampai di basecamp Baderan. So exited karena kami bakal mendaki gunung yang jalur pendakiannya panjang pula. Melihat arloji di tangan teman, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 WIB. Sudah ada beberapa pendaki yang bersiap untuk mendaki, bahkan ada pula yang sudah siap di atas motor ojeknya untuk segera ber-off road ria. Istimewa kan, Argopuro ternyata bisa didaki dengan ngojek. Gak tanggung-tanggung bisa sampai Cikasur yang rencananya bakal kami gunakan pula sebagai lokasi camp di malam kedua pendakian. Enak sih ngojek, tapi kami lebih memilih untuk menyusuri jalur pendakian Argopuro setapak demi setapak sambil menikmati keindahan apa yang dimilikinya.

Target jam 11 siang kami sudah harus mulai jalan. Jeda waktu kami manfaatkan buat packing ulang dengan membagi rata semua logistik dan peralatan yang lumayan bejibun. Setelah terpack rapi, selanjutnya nggak lupa kami mengurus perijinan dan administrasi yang dikelola oleh BKSDA Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang. Uniknya, biaya administrasi pendakian dihitung dari lama hari pendakian itu sendiri. Beda dari gunung yang lain-lainnya kan. Waktu itu sih perharinya dipatok Rp 25.000,- untuk akhir pekan dan Rp 20.000,- untuk hari biasa. Itu pun kalo belum berubah yaa, berubahnya pun biasanya naik hehe. Normalnya pendakian Argopuro selama 5 hari 4 malam, jadi sediakan minimal uang Rp 200.000,- tunai di dompet. 

Basecamp Baderan


Yap, kami siap mendaki. Tak lupa kami foto bareng dulu di depan basecamp sebagai kenang-kenangan karena besok kami turun nggak lewat basecamp ini lagi. Target pendakian hari pertama sampai di Pos Mata Air I untuk bermalam.

Pendakian Hari Pertama

Basecamp – Pos Mata Air I



Seperti biasanya, jalur pendakian yang belum terlalu jauh dari basecamp masih berupa jalan dusun yang beraspal. Makin menjauh dari rumah-rumah penduduk, jalur perlahan berganti menjadi ladang-ladang dengan percabangan jalan yang lumayan banyak dan bikin bingung. Tapi santai, disitu kita bakal masih sering berpapasan dengan para petani yang lagi beraktifitas jadi kalau bingung bisa tanya sama warga sekitar. Karena percabangan yang membingungkan ini pula kami sempat kesasar dua kali tapi untungnya kami segera menyadari kalau kami agak berjalan menyimpang dan akhirnya memutuskan berbalik arah. Sebenarnya kami sudah membawa dua gps, satu GPS konvensional dan satunya lagi GPS berupa aplikasi hp yang bisa dijalankan tanpa jaringan operator namun tetap saja bisa kesasar. Coba kami nggak bawa GPS, bisa-bisa kesasarnya makin menjadi-jadi. Di awal pendakian juga banyak sekali air terjun yang ada di tebing-tebing di seberang jurang yang lumayan menghibur dikala lelah melanda.


 


Target pendakian hari pertama adalah Pos Mata Air I yang bakal menjadi lokasi kami bermalam. Nggak sesingkat yang dibayangkan untuk sampai di pos itu. Banyak yang harus kami lalui dulu sebelumnya. Diantaranya harus melawan kebingungan karena percabangan jalur di awal pendakian yang bikin kesel karena minim sekali petunjuk, cuaca yang berubah drastis mulai dari terik hingga lama-kelamaan berubah menjadi rintik-rintik hujan, hingga masalah beberapa rekan kami yang mengalami kram yang sering kambuh. Ngomong-ngomong soal kram, penyebab pastinya nggak secara pasti diketahui namun pada umumnya karena cidera otot saat melakukan aktifitas berat termasuk mendaki gunung yang mengharuskan kita untuk menghadapi medan yang ekstrim dan juga udara yang dingin. Kontraksi otot ini biasanya terjadi secara tiba-tiba, berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit saja, namun rasa nyerinya bisa menyebabkan penderitanya sampai berteriak bahkan kalau nggak tahan menahan rasa nyeri itu bisa tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Nah, secara medis penyebab kram ini ada beberapa, misalnya:
  • Kekurangan mineral tertentu seperti kalium, kalsium, dan magnesium,
  • Tekanan saraf tulang belakang karena saat berjalanan terlalu tegang, kurang rileks, atau menggunakan terlalu banyak otot,
  • Suplay darah yang kurang mencukupi kebutuhan tubuh,
  • Dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh,
  • Dan penyebab lain.

Sebenarnya kram bisa dicegah atau bisa juga diredakan dengan:
  • Mengkonsumsi multivitamin yang mengandung mineral penting, terutama kalium, kalsium dan magnesium,
  • Melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan aktifitas berat,
  • Jangan biarkan tubuh kekurangan cairan. Minum secukupnya, jangan kurang jangan pula berlebihan,
  • Dan yang nggak boleh dilupakan adalah cara jalan, posisi tubuh, serta pilih sepatu yang bener-bener nyaman di kaki dan pas di hati #ups , biar nggak bikin cidera yang berpotensi mendatangkan kram,

Jika kram sudah menyerang maka rilekskan otot dengan duduk sembari melonggarkan sepatu dan ikat pinggang, lalu lakukan pijatan secara mandiri di bagian yang terasa nyeri, kalau tersedia bisa mengkompresnya dengan air panas.
Itu sekedar tips aja sih gaess untuk menghadapi kram yang sering menjadi masalah saat mendaki gunung.

Karena situasi dan kondisi saat itu, maka akhirnya diputuskan rombongan dibagi menjadi dua. Tim yang berjalan di depan tentunya yang membawa tenda agar bisa sampai di lokasi camp dan segera membangun terlebih dulu dan disusul tim kedua yang diharapkan mendaki dengan santai saja karena ada anggota yang terkena kram.

Nggak disangka untuk menuju pos pertama waktu yang kami habiskan lumayan lama juga. Dari mulai mendaki pukul 11 siang tim pertama baru sampai pukul 18.30 lalu tim kedua tiba setengah jam kemudian. Untung saja hujan mulai turun setelah kami semua masuk ke dalam tenda jadinya kami nggak basah-basah banget malam itu. Oiya, kami sempat mencari cari dimana lokasi mata airnya, secara nama pos yang kami jadikan tempat camp malam itu adalah Pos Mata Air I. Namun di malam gelap itu kami nggak menemukan sedikitpun petunjuk dimana posisi mata airnya. Karenanya, kami memasak dengan bekal air yang dibawa dari bawah.

Tiba juga waktu untuk kami beristirahat, hal yang sudah kami tunggu-tunggu sejak setengah perjalanan di hari pertama yang cukup berat tadi. Lumayan cepet kami tidur tanpa ada haha hihi terlebih dulu. Selain lelah, juga karena esok hari masih ada pendakian selanjutnya yang entah medannya lebih berat atau gimana yang penting kami persiapkan dulu tenaga.

Pagi hari kami terbangun dan melihat sekitar ternyata kami berada di pos yang letaknya di pinggir jurang dengan aliran sungai yang cukup kedengaran deras, meskipun sungainya sendiri nggak nampak dari lokasi kami berada saat itu. Kami sempat mengira-ira apakah itu mata air yang dimaksud atau bukan. Setidaknya semoga ada sumber air yang lebih manusiawi lagi lah ya untuk dicapai, pasalnya sungai itu bener-bener ada di dasar jurang yang dalem banget. Oiya, karena udah terang kami yang sedari malam memang penasaran dimana letak mata airnya mencoba berjalan di sekitar pos siapa tahu ada petunjuk yang mengarahkan ke mata air. Benar saja ternyata ada anak panah kecil yang ada di satu pohon yang memberi sedikit petunjuk namun nggak secara gamblang ngasih tau kalau itu ke arah mata air. Dari pada menebak-nebak kami coba saja turun. Meskipun agak susah ya medannya, malah tergolong susah banget untuk ukuran menuju ke mata air, kami mencoba menuju ke arah sumber suara gemercik yang sedikit memberi pencerahan bahwa itu memang letak mata airnya. Benar saja kami melihat satu aliran sungai yang nggak terlalu besar namun air yang ada sangat bersih dan seger. Kami isi semua botol kosong yang kami bawa untuk bekal melanjutkan perjalanan.




Sekedar info kalau lokasi sumber air di Pos Mata Air I Gunung Argopuro jalur Baderan berada di kiri jalan setapak kalau kita dari arah basecamp. Letaknya agak dibawah dan jalurnya agak curam. Nggak terlalu jauh kok, paling jalan 5 menit untuk ke lokasi.

Kejadian unik lain yang kami alami di Pos Mata Air I adalah kejutan datangnya segerombolan kera ke tenda kami. Pas lagi masak-masak tiba-tiba ada tamu yang datang kirain siapa ternyata seekor kera terpuruk terpenjara dalam goa. Eh nggak cuma satu doang, ada kali sekitar 5 ekor datang menyapa kami di pagi hari yang sedikit berkabut itu. Mereka nggak nakal kok, cuman minta sedikit makanan doang. Kera-kera itu meski agak bikin kaget, tapi menjadi sedikit hiburan buat kami. Iya, hiburan ngeliat binatang tanpa harus ke kebun binatang, tapi di alam langsung. Lebih greget kan...

ini adalah tamu yang ngetok pintu tenda kami di pagi hari

indahnya berbagi

Selesai makan kami lanjut packing untuk menuju ke target selanjutnya. Jalan masih panjang men, sepanjang jalan kenangan. Dan pendakian ini tentunya bakal jadi kenangan di masa depan. Lanjut bang...

 

Pendakian Hari Kedua

Pos Mata Air I – Savana Cikasur



Kami mulai jalan dari Pos Mata Air I pukul 9 pagi. Target hari kedua adalah Savana Cikasur yang akan menjadi tempat camp di malam yang kedua. Sebelum sampai Cikasur kami masih harus melewati beberapa pos terlebih dulu. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya bahwa jalur setelah Pos I sudah mulai sangat jelas, nggak seperti jalur di awal-awal pendakian yang banyak sekali percabangannya. Paling kalau ada cabangnya juga itu adalah antara jalur pendaki sama satunya adalah jalur buat motor ojek. Kalau mau lewat jalur ojek sah-sah aja sih, cuman lebih enak jalan di jalurnya hehe. Ketahuan banget kok mana jalur buat pendaki dan mana yang buat ojek. Selain ada jejak ban motor, jalur buat ojek cenderung ada cekungannya yang seukuran satu ban motor lebih dikit.

kami mencoba lewat jalur ojek

Beberapa menit berjalan kami sampai di satu portal yang menurut info adalah batas kawasan. Entah batas kawasan cagar alam atau batas kabupaten kami agak kurang tau. Yang kami rasakan setelah melewati portal itu, hutan di sekitar keliatan beda aja gitu. Nggak berapa lama dari situ kami pun sampai di Pos Mata Air II. Berarti kira-kira dari pos sebelumnya jarak tempuhnya sekitar 2 jam kurang 15 menit. 

portal batas kawasan

Kami istirahat sekaligus memasak untuk mengisi tenaga karena masih lumayan jauh jarak yang harus kami tempuh untuk sampai di Cikasur. Kali ini saya lagi yang bertugas ngambil air, selain karena penasaran gimana bentuk sumber airnya, saya juga mau membandingkan dengan kondisi mata air di Pos Mata Air I.

leyeh-leyeh di Pos Mata Air 2


Kali ini letak sumber air berada di sebelah kanan jalur pendakian kalau dari arah Baderan. Sama-sama harus ke bawah dulu namun nggak securam sebelumnya. Sampai di lokasi sumber air ternyata berupa sungai jernih yang alirannya lebih deras. Karena letaknya lebih atas jadinya suhunya pun lebih dingin dari mata air yang pertama.

sumber air Pos Mata Air 2


Oiya, nggak sengaja ada petunjuk di pohon yang menginformasikan kalau di lokasi kami saat itu terdapat sinyal operator. Saya pun mengaktifkan ponsel untuk sekedar mengecek ada notif apa yang masuk. Ternyata nggak ada jaringan internet sih, cuman sinyal biasa saja. Keberadaan sinyal operator itu saya manfaatkan untuk berkabar dengan orang tua, terlebih saya belum ngabari sejak mau mendaki. Seharusnya kalau mau naik gunung, ngabari atau minta ijin ortu jauh-jauh sebelum mendaki dong yaaa, jangan pas udah di ketinggian baru ngabari. Jangan di contoh yaaa, saya pun khilaf. Karena doa dan ijin orang tua adalah kunci suksesnya pendakian kita. Dengan doa ortu bisa jadi pemandangan dan cuaca yang kita dapatkan cerah tanpa kabut. Mungkin kalau kalian para pendaki yang kalau naik gunung seringnya dapat kabut doang, mungkin kalian belum ijin orang tua haha.

Okay, kami lanjut lagi dan titik yang kami lewatin selanjutnya adalah alun-alun kecil yang waktu tempuhnya sekitar satu setengah jam dari Pos Mata Air II. Tempat ini adalah savana pertama yang kami lewati sebelum nantinya bakal ketemu savana-savana Argopuro lain yang jumlahnya nggak kehitung. Sebenarnya savana-savana ini adalah bekas hutan yang mati lalu tumbuhlah rerumputan yang memenuhi permukaan tanahnya lalu terciptalah savana. Dan di Argopuro jalur Baderan ini jumlah savana yang dilalui pendaki banyak banget, Itu baru yang dilalui jalur pendakian saja loh ya, belum yang nggak di jalur pendakian.


berbaris di pinggiran savana Alun-alun Kecil

Savana pertama bernama Alun-alun kecil entah sekecil atau sebesar apa kami nggak tahu batesnya, soalnya waktu kami sampai disana kabut begitu pekat sehingga menutupi pemandangan. Namun, kecantikan savana tersebut masih kelihatan. Berkabut aja cantik,  apalagi kalau cerah yah, pasti secantik kamu yang disana.

Puas berfoto ceprat-cepret, kami lanjut ke point selanjutnya yaitu Alun-alun Besar. Waktu tempuhnya 1,5 jam dari Alun-alun Kecil. Kali ini seberapa besar Alun-alun besar bisa keliatan, sebab pas nyampe disitu lumayan agak cerah. Bener saja sesuai namanya, luas banget nget nget. Disitu kami berhenti di tengah-tengahnya untuk ngopi-ngopi tampan sambil menikmati ciptaan-Nya yang sungguh-sungguh terlalu mempesona.

Alun-alun Besar

lari-lari dulu ah biar panas...!!!

Keluar dari Alun-alun Besar hujan mulai turun dan karena hari mulai sore jadi sepertinya hujan bakal agak lama. Kami putuskan untuk memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan yang sebagian besar masih berupa dataran, hanya beberapa kali tanjakan dan turunan yang nggak seberapa. Kenapa dataran, nggak lain dan nggak bukan karena emang sebagian besar yang kami lewati adalah savana-savana luas.

Mendaki gunung harus sabar emang, nggak cuma Argopuro doang sih tapi semua gunung harus didaki dengan lapang dada selapang savana Cikasur yang sebentar lagi kami temui. Meski capek jangan sampai terlontar kata capek dari mulut kita yang penuh dosa ini. Rasa seolah nggak nyampe-nyampe pasti bakal muncul pas mendaki Argopuro, tapi kalau sabar pasti ntar banyak kejutan yang bakal diperoleh dengan nama dan bentuk apapun.

Setelah berjalan 4,5 jam dari Pos Mata Air 1 finally kami sampai juga di target kami di pendakian hari kedua ini yaitu savana maha luas benama Cikasur. Sungai Qolbu pun menyambut kedatangan kami dengan menampakkan hijaunya selada air yang memenuhi permukaan airnya seolah meminta untuk segera dijadikan pecel selada air khas Argopuro. Yeah, karena kami sudah memperoleh info kalau sungai yang berada di dekat Savana Cikasur itu ditumbuhi banyak tanaman yang kata para pendaki selada air, kami sudah menyiapkan bumbu pecel untuk menjadikannya lauk makan malam. Spesial banget dan baru pertama kali dalam sejarah pendakian gunung saya bisa makan pecel yang sayurnya ngambil langsung di gunung. 

Sungai Qolbu nih gaess

Sungai Qolbu dan hamparan selada air nan melimpah

Tanaman yang ada di Sungai Qolbu itu kalau dilihat dari bentuknya nggak sama seperti slada yang sering ditemukan di tengah-tengah burger, tapi lebih mirip tanaman yang memang sejenis sayuran yang tumbuh subur di sekitaran umbul yang ada di daerah Klaten. Tau gak sih?

Sambutan untuk kami di Cikasur juga berasal dari aura mistis yang entah dari mana datangnya namun begitu terasa. Hujan yang menemani kami semenjak keluar dari Alun-alun Besar juga menambah dingin suasana sore itu. Begitu sampai di Cikasur kami langsung mencari tempat berteduh sementara yaitu di puing-puing bangunan dengan atap seng yang sepertinya memang sering digunakan untuk berteduh karena didalamnya terdapat bekas api unggun. Nggak perlu diceritakan lagi kali yak tentang bangunan itu dan sejarah apa yang pernah terjadi di Cikasur. Di postingan sebelum ini udah diceritain lumayan lengkap kan. Kalau belum baca bisa dibaca disini nih.

puing bangunan di Cikasur

Dirasa hujan yang kami nanti nggak kunjung reda, kami pun memaksakan diri untuk membangun tenda saat hujan turun. Lokasi yang kami pilih adalah di bawah pohon yang ada di tengah-tengah savana. Pohon soliter yang cuman sendirian gitu di tengah savana yang luas, hanya dikerumuni semak-semak yang seolah menjadi pelindungnya. Namun, formasi pohon dan semak-semak itu membentuk sebuah lokasi camp yang aman dari angin loh. Hingga tenda berhasil kami dirikan hujan belum juga reda, tapi sudah agak mendingan lah dari pada yang tadi-tadi. Kami lalu membagi tugas ada yang menyiapkan alat masak dan ada pula yang mengambil air sekaligus memetik slada air yang ada di Sungai Qolbu.

camp area


Malam pun datang dan masakan spesial sudah tersaji di hadapan kami masing-masing. Kami makan dengan lahapnya karena perut memang sudah minta diisi, terlebih lagi dengan menu  yang sangat istimewa. Malam itu tak banyak kami isi dengan kegiatan, namun kami gunakan untuk istirahat dan tidur. Berharap tidur nyenyak dan nggak kepikiran dengan cerita-cerita serem Cikasur.

Alhamdulillah, akhirnya pagi dan di luar tenda sudah sangat berisik suara-suara unggas yang bersahut-sahutan dari segala penjuru. Suara itu nggak seperti suara ayam jantan yang berkokok seperti di kampung-kampung, namun suara yang entah dikeluarkan oleh hewan apa kami belum bisa pastikan. Kami sempat mengira kalau itu adalah merak. Memang Cikasur adalah habitat hewan-hewan liar, salah satunya adalah merak hijau. Sebenarnya kami juga mengharapkan bisa melihatnya secara langsung. Hingga untuk mengobati rasa penasaran, saya dan beberapa teman keluar tenda untuk mencari sumber suara. Kami mencoba mendekati sumber suara di semak-semak, namun semakin kami mendekat suara itu makin hilang. Tiba-tiba di kejauhan terdengar kepakan sayap dan ada sesuatu berwarna hijau dan ukurannya lumayan gede terbang ke pohon. Benar saja itu adalah merak hijau yang hidup bebas di Argopuro. Sepertinya suara yang bersahut-sahutan sejak pagi itu bukan berasal dari mulut merak, namun ayam hutan yang juga hidup bebas disana. Pengalaman yang keren banget bisa melihat binatang-binatang tanpa harus ke kebun binatang atau taman safari, tapi jangan sampai deh ketemu macan kumbang yang katanya juga masih ada di Argopuro.

bukan ini loh meraknya


Pendakian Hari Ketiga

Cikasur – Rawa Embik

Kami sudah memasuki hari ketiga pendakian di Argopuro. Kondisi fisik kami mulai terbiasa dengan medan dan suasana yang ada. Rasa lelah juga perlahan sudah menjadi kawan yang keberadaannya turut mewarnai perjalanan. Kami pun siap melanjutkan perjalanan makin mendekati puncak. Hari itu menjadi perjalanan yang paling panjang karena kami juga berencana akan melakukan pendakian pada malam harinya.

boys talk di tengah jalur pendakian

Keluar dari savana maha luas Cikasur, kami perlahan berjalan di tepian padang rumput dan menghadapi tanjakan di satu bukit yang mengarahkan kami menuju Cisentor, check point selanjutnya. Disitu makin banyak savana-savana yang kami lewati. Jalur pendakian menuju Cisentor masih nggak terlalu beda dengan sebelumnya. Landai-landai dengan sedikit tanjakan dan turunan manja. Hanya saja pemandangan akan lebih didominasi dengan pepohonan pinus yang lumayan tinggi-tinggi. Sekiranya butuh waktu 3 jam perjalanan dari Cikasur sampai Cisentor.

savana lain setelah Cikasur

hati-hati dengan tanaman ini yang banyak tumbuh di sepanjang jalur pendakian

ini kerap disapa "Jancukan" atau Jelatang yang kalau kena kulit bisa gatel dan perih

pemandangan sebelum sampai di Cisentor

Cisentor adalah salah satu pos di jalur pendakian Gunung Argopuro yang ditandai dengan adanya sebuah gubug dan satu sungai. Letaknya agak di suatu lembahan yang dikelilingi hutan penuh Lutung Jawa nan lucu dengan pekikan-pekikannya. Kami menyempatkan singgah agak lama di Cisentor untuk makan siang sekalian istirahat. Mumpung ada di pinggir sungai, kami pun nggak menyianyiakan kesempatan buat mandi-mandi ala bebek. Meski agak terik, air sungai disitu lumayan dingin juga kalau kena badan. Apalagi sedari awal pendakian, badan ini belum sedikitpun kesentuh air sama sekali kecuali dengan air hujan. Pantes lah disebut pendaki, soalnya banyak daki-nya hahaha.


Pos Cikasur dengan gubung dan sungainya
 
isi botol dulu abis itu mandi

masak-masak bang

Cisentor juga terdapat percabangan jalur dimana ada yang mengarah langsung ke Danau Taman Hidup dan ke Puncak. Kalau mau langsung ke Taman Hidup dan secara otomatis bisa sampai Bremi lebih cepat dengan melewati jalan setapak di sebelah kiri gubug jika kita menghadap gubug, tapi kalau mau ke puncak kita harus ke Rawa Embik dulu dengan melewati jalan setapak yang menanjak di sebelah kanan teras gubug. Karena misi kami ingin “menyapa” Dewi Rengganis dan juga melihat arca yang berada di puncak, maka kami memilih jalur yang mengarah ke Rawa Embik. Seiring dengan langkah kami yang meninggalkan Cisentor, sore pun tiba dan jalur pendakian yang menuntun kami berubah menjadi bukit-bukit yang cukup terjal. Tenaga kami pun perlahan hampir terkuras disaat-saat hampir sampai di Rawa Embik. Sekira perlu waktu satu jam untuk sampai di savana dengan satu sungai berair sangat jernih itu dari Cisentor.

Rawa Embik konon adalah tempat menggembala hewan ternak di jaman Kekeratonan Dewi Rengganis karena ketersediaan rumput dan air yang melimpah disana. Tapi kalau dipikir-pikir jarak dari puncak masih jauh loh, namun karena orang-orang dulu strong-strong mungkin bisa saja hanya untuk menggembala hewan ternak rela harus jalan jauh dulu. Satu hal yang masih menjadi tanda tanya adalah kenapa dinamakan Rawa Embik sedangkan nggak ada rawa disitu. Kalau “embik” kan artinya kambing, masih nyambung lah dengan latar belakang sejarahnya.

inilah Pos Rawa Embik yang dingin banget

dandelion

sumber air super jernih di Rawa Embik

Khusus untuk hari ketiga, pendakian dilakukan sampai malam hari. Karenanya, di Rawa Embik kami persiapkan segala sesuatunya agar nggak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Kami memasak, sholat, dan menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk pendakian malam. Udara di Rawa Embik sangat dingin secara tempatnya terbuka banget. Nggak kebayang kalau camp disitu dinginnya kayak apa.

Pukul 8 malam kami lanjutkan lagi pendakian dengan target Savana Lonceng yang sudah sangat dekat dengan ketiga puncak. Suasana malam itu sangat cerah dengan taburan bintang di langit, namun baru berjalan nggak seberapa jauh tiba-tiba kabut pekat datang dan membatasi jarak pandang yang sebenarnya tanpa kabut pun jarak pandang sudah terbatas karena gelap. Saat itu yang kami rasakan hanya ingin segera sampai di Savana Lonceng, tapi harus tetep sabar berjalan setapak demi setapak di tengah tanaman perdu yang kadang akarnya nyrimpet-nyrimpet di kaki. 

Sampailah kami di suatu pertigaan yang bernama Pertigaan Gunung Semar. Jangan salah pilih jalan karena yang mengarah ke Savana Lonceng adalah yang ke kiri dengan jalur agak menurun. Kami sampai di suatu tanah lapang yang sangat luas namun kami nggak lantas yakin kalau itu adalah Savana Lonceng, pasalnya di Argopuro sangat banyak savana. Jadi saat itu kami pun terus berjalan saja hingga ternyata ada petunjuk yang meyakinkan bahwa itu adalah savana yang menjadi tujuan kami malam itu. Savana terakhir yang kami lihat malam itu memang Savana Lonceng. Lokasi camp bukan di tengah savana tapi di bagian pinggirnya yang juga terdapat beberapa pohon rimbun yang bisa menjadi pelindung dari angin yang membawa hawa super dingin. Tanpa pikir panjang kami langsung meletakkan tas kami dan langsung mengeluarkan tenda dan membangunnya tanpa banyak bicara. Kami pun memejamkan mata dan menanti kejutan esok hari.


Hari Keempat Pendakian

Menuju Puncak Argopuro

Sebelum fajar menyingsing kami sudah dibangunkan oleh alarm ponsel. Kami sholat subuh kemudian sarapan dan minum yang anget-anget untuk menghangatkan badan dan menyiapkan tenaga untuk summit attack menuju ketiga puncak Argopuro. Urutan puncak yang kami datangi adalah Puncak Rengganis lalu Puncak Argopuro baru kemudian Puncak Hyang/Arca. Ketiga puncak tersebut dari Savana Lonceng sudah bisa dilihat di depan mata secara langsung. Letaknya nggak saling berjauhan, namun Puncak Rengganis letaknya yang paling terpisah. Jika kita berdiri di tengah-tengah savana dan menghadap ke ketiga puncak, maka Puncak Rengganis ada di sebelah kiri dan dua puncak lainnya ada di sebelah kanan. Saat mendaki ke Puncak Rengganis untuk menghemat tenaga, kami membawa barang-barang seperlunya saja, tenda dan seisinya kami tinggal di Savana Lonceng karena nanti kami bakal turun lagi kesitu.

Membahas soal Puncak Rengganis memang seolah membicarakan Argopuro secara keseluruhan. Seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya bahwa masyarakat sekitar malah lebih dahulu mengenal Rengganis ketimbang Argopuro itu sendiri. Nggak dipungkiri memang Rengganis-lah yang menjadi latar belakang bagaimana nama Argopuro tercipta. Soal sejarah, mitos, dan misteri di Argopuro bisa dibaca disini bro.

camp kami

Menuju Puncak Rengganis agak melipir ke kiri yak gaess. Perhatikan petunjuk yang mengarahkan ke Gunung Welirang. Nggak perlu waktu lama kok untuk sampe ke puncaknya, cukup 15 menit kalo gak pake foto-foto di sekitaran kawah. Masalahnya pasti bakal foto-foto dulu di sekitaran kawah karena viewnya keren parah (kalau cerah dan nggak berkabut). Set waktu juga kalau punya rencana ”mengejar” sunrise karena Puncak Rengganis bisa menjadi spot menikmati pemandangan matahari terbit yang pas. Nah, di puncak tersebut kita juga bakal disuguhi puing-puing penuh unsur sejarah. Di sekitaran kawah terdapat dua pondasi bangunan yang masih bisa kita lihat sampai sekarang. Selain itu ada pagar batu yang seperti membatasi kompleks kraton. Ada pula kolam pemadian yang kini dipenuhi rerumputan namun masih terlihat jelas bentuknya kalau itu dulunya adalah sebuah kolam pemandian.

menuju Puncak Rengganis

bekas kolam pemandian yang kini ditumbuhi rerumputan

di sekitaran kawah di bawah Puncak Rengganis

bekas pondasi candi

foto kece dulu

tampak Puncak Argopuro dan Puncak Hyang masih berkabut

Kami nggak berlama-lama di puncak pertama karena kami masih harus menuntaskan pendakian yang sudah masuk di hari keempat. Rasanya kami sudah menganggap Argopuro seperti rumah sendiri karena hari demi hari kami menghirup udara Argopuro, meminum air yang bersumber dari Argopuro, dan seolah hati kami sudah terpaut dengan Argopuro. Hari itu pula kami akan turun melewati jalur pendakian yang mengarah ke Basecamp Bremi setelah kesemua puncak kami datangi. Kami turun lagi ke Savana Lonceng untuk packing semua barang kami termasuk tenda, kemudian menuju puncak tertinggi Argopuro. Makin siang ketiga puncak makin terlihat dan jalur pendakian juga bakal makin jelas jadi nggak perlu bingung kemana akan melangkahkan kaki

beberapa carrier kami yang ditempeli bunga es saat kami tinggal ke Puncak Rengganis

Menuju puncak tertinggi Argopuro yang punya elevasi atau ketinggian 3.088 mdpl bakal menguras tenaga karena jalurnya yang sangat curam terlebih lagi semua barang-barang dibawa, nggak seperti saat naik Puncak Rengganis yang hanya membawa yang diperlukan saja. Waktu tempuh dari Savana Lonceng nggak berbeda jauh dengan puncak sebelumnya yaitu sekitar 15 menit. Sungguh kebahagiaan tersendiri setelah 4 hari mendaki akhirnya kami sampai puncak. Tapi perlu diingat, puncak bukan tujuan utama kami mendaki, tapi perjalanan panjang penuh perjuangan untuk menuju puncak lah yang memberi banyak pelajaran berharga. 


menuju Puncak Argopuro

nanjak nanjak dan terus nanjak

yeah finally Puncak Argopuro 3.088 mdpl

Tinggal satu puncak lagi yang akan kami datangi yaitu Puncak Hyang. Dari Puncak Argopuro kita harus turun dulu melalui jalan setapak curam yang penuh bebatuan lalu berjalan di antara pepohonan pinus yang mirip jalur jembatan setan GunungMerbabu, sebelah kanan dan kiri langsung jurang. Jalur diantara Puncak Argopuro dan Puncak Hyang ini bisa dibilang sangat istimewa. Selain pemandangan yang nggak biasa, juga atmosfer dan suasana yang terasa beda entah yang merasa saya sendiri atau teman-teman yang lain juga merasa demikian. 

Puncak Hyang juga biasa disebut Puncak Arca karena disitu terdapat arca berbentuk sapi yang terpenggal bagian kepalanya. Sangat menimbulkan tanda tanya besar dalam lubuk hati bagaimana bisa terdapat patung di puncak gunung yang teramat sepi dan susah sekali untuk dijangkau. Kalau boleh nebak sih sepertinya dibuat langsung di puncak soalnya disekitaran puncak tersebut terdapat batu-batu gede yang mirip batuan bahan candi. Tapi bisa jadi dipahat dibawah lalu ditaruh di puncak. Yah, inilah misteri yang masih menjadi rahasia kehebatan dan kekuatan orang-orang jaman dulu. Kebanggaan tersendiri hidup di nagara dengan latar belakang sejarah yang sangat kaya.

jalur dari Puncak Argopuro menuju Puncak Hyang/Arca

penuh bebatuan gede-gede

this is it Puncak Hyang dengan Arca Sapi yang nggak ikut kefoto (foto arca sapi di postingan sebelumnya)

Ketiga puncak sudah berhasil kami datangi satu per satu. Tiba saatnya untuk turun gunung. Yap, finally kami turun gunung. Kami sudah kangen berat dengan peradaban. Selama mendaki belum pernah bertegur sapa dengan orang lain selian anggota rombongan kami saja. Terakhir ketemu pendaki lain paling pas hari kedua dan hari ketiga itupun masing-masing satu rombongan saja yang berpapasan dengan kami. Selebihnya kami hanya bertujuh doang di sepanjang jalur pendakian yang kami lewati. 

Bayu yang sedang memantau jalur pendakian melalui applikasi Orrux Map

Kami turun dari Puncak Hyang melewati jalur yang sangat nggak biasa. Mungkin ini menjadi jalur yang paling ekstrim selama kami di Argopuro. Bahkan ada catatan perjalanan yang menyarankan untuk menggunkan webbing sebagai pengaman. Untuk berpindah tempat saja kami harus ngesot karena saking curamnya dan kami nggak berani turun dengan posisi berdiri. Jalur ini kerap disebut “Jalur Trabasan” alias jalur potong kompas agar nggak terlalu jauh harus balik ke Savana Lonceng dulu untuk turun gunung.

Sampailah kami di akhir jalur yang sangat menegangkan tersebut. Trek pendakian kembali normal dan otomatis tanjakan-tanjakan berganti dengan turunan, secara kami sudah masuk fase turun gunung. Beberapa meter dari puncak di jalur ini terdapat satu mata air yang berupa air terjun kecil yang entah kalau musim kemarau masih ada atau mengering. Oiya, sangat nggak disarankan turun dari puncak saat malam hari karena jalur menuju Basecamp Bremi ini kebanyakan mlipir jurang.

Sepat di tengah hari saat kami asik dengan jalur pendakian yang menurun, tiba-tiba hujan turun dan menjadikan jalur pendakian menjadi sangat licin dan makin lama malah menjadi seperti aliran air. Nggak heran kami satu per satu merasakan terpleset dan pakaian yang kami pakai pun menjadi belepotan lumpur. Makin siang hujan bukannya berhenti malah makin mejadi-jadi saja derasnya. Jalur pendakian pun makin seperti sungai. Luar biasanya lagi tanah di jalur pendakian sebagian besar berupa tanah lempung yang sangat licin jika basah. Sungguh terasa kontras banget dengan jalur Baderan yang kebanyakan berupa dataran dan savana, jalur Bremi ini seolah menghajar kami dengan curamnya medan ditambah dengan hujan yang super duper deras menambah sulitnya kami melangkah.

Keadaan anggota rombongan saya perhatikan makin down. Kami hanya berharap semoga segera sampai di Taman Hidup untuk segera melepas lelah yang sungguh luar biasa itu. Sepanjang perjalanan kami nggak banyak bicara satu dan yang lain, hanya fokus untuk melangkahkan kaki di jalan setapak yang seolah tak berujung. Saya sendiri pun seperti sudah mati rasa dengan gesekan dan benturan dengan batu dan pepohonan. Semua rasa sakit, perih, dan nyeri saya abaikan. Jatuh tersandung akar maupun batu satu per satu dari kami secara bergantian mengalaminya, namun luar biasanya kami bisa segera bangkit dengan sendirinya, mungkin agar anggota yang lain nggak direpotkan dalam keadaan yang memang masing-masing dari kami hanya punya sisa-sisa tenaga saja.

Dalam perjalanan turun Argopuro kami sempat bertemu satu rombongan pendaki yang naik via Bremi. Saat itu kami hanya berharap agar mereka bisa kuat menghadapi jalur yang sungguh luar biasa ektrimnya itu, apalagi dalam rombongan itu ada satu perempuan yang saya lihat seperti sudah nggak kuat. Kami saja yang dalam posisi turun gunung merasa sangat dihajar dengan kondisi yang ada saat itu, gimana yang naik coba


Kami sempat melewati Pos Cemara Lima dan juga pertigaan menuju Pos Aing Kenek yang mengarah langsung ke Cisentor tanpa harus ke puncak dulu. Setelah itu kami mulai masuk ke dalam hutan yang sangat rimbun dan dengan pepohonan yang sangat tinggi-tinggi. Kondisi hujan deras makin parah dengan adanya angin badai. Guys, di hutan lumut ini please hati-hati banget entah itu pas cuaca cerah maupun pas hujan badai. Sepertinya pepohonan di hutan lumut ini sangat rawan tumbang. Terbukti saat kami melintas di hutan lumut tersebut kami sempat hampir ketimpa pohon besar. Untung saja jatuhnya pohon nggak sampai melintang di jalur pendakian. Kami selamat tapi penuh was-was karena kami belum betul-betul keluar dari hutan dengan pepohonan yang batangnya penuh ditumbuhi lumut itu. Mungkin karena lumut yang tumbuh di batang itu pula yang menyebabkan pohon disana sangat rapuh dan mudah tumbang. So, please hati-hati banget yak!

Keluar dari hutan lumut kami masuk ke hutan lainnya. Pepohonan mulai tampak berbeda dengan sebelumnya yang penuh lumut. Kami melintasi kurang lebih 2 sungai lumayan besar dan airnya lumayan jernih. Bisa dijadikan sumber air tuh kalau mau ngisi botol-botol kosongnya untuk bekal camp di Taman Hidup yang air danaunya masih disangsikan apakah layak konsumsi atau nggak. 

Beberapa meter dari sungai kami menjumpai pertigaan yang mengarah ke Danau Taman Hidup dan Bremi. Jelasnya sih antara menuju Taman Hidup dan Bremi lebih dekat ke Taman Hidup. Jarak ke Bremi masih jauh banget bro. Sesuai rencana kami bakal bermalam di tepian Danau Taman Hidup. Ada petunjuknya kok mana yang mengarah ke Taman Hidup, jadi ga perlu bingung kalau sampai di pertigaan itu. Kalau pun petunjuknya copot atau hilang, arah kiri adalah yang menuju Danau Taman Hidup. Sekitar setengah jam dari pertigaan tersebut kami mulai melihat penampakan genangan air yang diatasnya berselimut kabut tipis yang menimbulkan kesan mistis diawal perjumpaan kami dengan Danau Taman Hidup, terlebih lagi hari sudah mulai sore dan cahaya disekitar pun agak remang-remang.

Kami sampai di Danau Taman Hidup sekitar pukul 4 sore dalam suasana sekitar yang sungguh sunyi dan terkesan “wingit”. Terhitung 7 jam perjalanan dari Puncak Arca menuju Danau Taman Hidup. Sesaat sebelum benar-benar sampai, kami melihat danau tersebut dari kejauhan namun ternyata sulit untuk mencapai tepiannya karena jalanan sangat becek dan berlumpur. Lokasi camp agak jauh dari tepian danau. Selain itu juga tertutup semak yang lumayan tinggi sehingga dari tempat kami mendirikan tenda nggak bisa melihat danau secara langsung. Untuk melihatnya harus melewati jalan becek itu tadi. 

The Misty Taman Hidup Lake

Lokasi camp kami yang juga becek

horor gak sih suasananya bang

Setelah tenda berhasil didirikan saya memberanikan diri mendekati danau karena rasa penasaran saya yang meluap. Saat beberapa langkah melewati jalanan becek, saya pun menyerah dan nggak melanjutkan lagi untuk medekati danau. Sangat susah sekali untuk melangkah pada jalan yang penuh lumpur. Saya cari di sekitar memang nggak ada jalan lain untuk lebih mendekat dengan danau. Lebih baik paginya saja kami mendekati danau itu, mungkin kalau bareng-bareng bakal lebih semangat.

Malam di dekat Danau Taman Hidup sungguh mencekam. Angin yang berhembus menerpa pepohonan dan ranting-ranting menimbulkan suara-suara yang bikin bulu kuduk merinding. Semacam backsound film-film horor gitu lah. Saat kami tertidur pun kerap terbangun karena di luar tenda terdengar suara langkah kaki yang sepertinya juga bukan manusia. Suara itu makin dekat dan tiba-tiba “kresek-kresek” berulang kali. Ahhh, dasar babi...! Iya, itu adalah suara babi yang mencari makanan dengan mengais-ngais sisa makanan kami di depan tenda. Pas kami bangun barang-barang dan plastik sampah pun semua berantakan. Bagi kalian yang camp di lokasi yang berpotensi terdapat babi hutannya alangkah lebih baik jika menyimpan bahan makanan dan sisa makanan dengan cara digantung di pohon agar nggak diobrak-abrik babi hutan.

Pagi pun tiba, suasana sudah nggak semencekam hari sebelumnya. Kami berencana melihat keindahan Danau Taman Hidup dari dekat meski sepetinya harus berbecek-becekan. Air danau tampak bertambah banyak akibat hujan kemarin sehingga dermaga yang ada di pinggir danau pun agak tenggelam. Saat itu udara di tepian danau sangat dingin sekali. Matahari pun masih enggan muncul. Yang kami lakukan saat itu hanya jeprat jepret sambil sesekali masuk ke genangan air danau untuk membersihkan lumpur yang menempel di kaki. Puas berbecekan ria, kami kembali ke tenda dan melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan di hari terakhir pendakian dengan target Basecamp Bremi.

beautiful Taman Hidup Lake lengkap dengan dermaga ala-ala

Taman Hidup in panorama


Pendakian Hari Kelima

Danau Taman Hidup – Bremi

Hari itu kami sangat bahagia sekali karena kami akan kembali ke peradaban. Dengan semangat kami mempacking semua barang-barang termasuk tenda yang makin berat karena masih dalam keadaan basah akibat hujan semalam. Untuk menuju Bremi dari Taman Hidup kami haru kembali ke pertigaan yang kemarin kami lewati dan mengambil jalan yang agak menanjak sesuai petunjuk anak panah. Trek saat itu nggak terlalu gimana-gimana banget karena kami telah kenyang merasakan trek Argopuro yang benar-benar menghajar kami saat turun dari puncak. Perjalanan hari terakhir begitu nyaman dan damai. Hingga di satu titik kami mulai melihat perkampungan lengkap dengan ladang-ladangnya. Kami pun makin semangat untuk segera sampai disana meskipun memang kalau dilihat-lihat masih sangat jauh. Yahhh, paling nggak udah kelihatan lah

Satu jam berjalanan dari Taman Hidup, kami mulai memasuki area hutan Damar. Pepohonannya sangat tersusun rapi menandakan memang hutan itu adalah hutan buatan. Sampai disitu kami belum menjumpai penduduk sama sekali. Hingga memasuki ladang-ladang akhirnya kami bisa bertemu dan bertegur sapa dengan orang lain selain anggota rombongan kami. Setelah kurang lebih berjalan 2 jam dari Taman Hidup kami pun sampai di Dusun Bremi. Kami tak segera menuju basecamp Cak Arifin tapi malah singgah dulu di warung nasi yang sedari kemarin ingin kami datangi. Kami rindu sekali nasi yang benar-benar nasi ditambah lauk yang benar-benar lauk. Lidah kami serasa sudah terlalu akrab dengan nasi yang masih berasa beras, sarden, kornet, mie, dan juga teman-temannya sehingga membuat kami ingin segera “mencuci” mulut kami dengan makanan yang cita rasanya berbeda dengan makanan lima hari kebelakang.

alhamdulillah sampai Bremi, lihat ada 2 pendaki yang sedang sujud syukur ga gaess?

pulang, udah dijemput elf juga nih

Kalau diingat-ingat pendakian kala itu memang sangat melelahkan dan nggak kepingin mengulangnya lagi, tapi setelah beberapa bulan berlalu dan sampai disaat tulisan ini selesai dibuat, rasanya masa-masa seperti itu sangat ngangenin. Ingin rasanya terus mendaki dan mengumpulkan memori sebanyak-banyaknya.

Argopuro nggak memberi sekedar keindahan alam, lebih dari itu. Kekayaan sejarah dan budaya turut disajikan dengan beragam misteri dan mitos-mitosnya yang makin mewarnai pendakian. Luar biasa kan...?
Salam Pendaki, Salam Lestari...!!!

nih timing kalau mendaki dari Bremi ke Baderan, kalo kami dari arah sebaliknya sih jadi agak beda timing naik dan turunnya

stiker peta jalur pendakian, zoom zoom zoom

kaos Argopuro kece kenang-kenangan dari Cak Arifin


Turun Argopuro gw langsung menuju Bandara Juanda gaess, masih belum mau balik ke rumah nih. Mau lanjut Flores dulu. Setelah hampir seminggu puas bergelut dengan gunung, saatnya berjemur di pantai-pantai di Taman Nasional Komodo yang kece-kece.

Tunggu cerita gw menghitamkan kulit di Flores yah... Stay tuned...!!!

Share:

50 komentar

  1. Kecee bangettt kakkkk....

    ReplyDelete
  2. Mas boleh minta nomor kontak elfnya??
    Partogipramono@gmail.com

    ReplyDelete
  3. Wahyu.apf@gmail.com

    Minta kontaknya bang

    ReplyDelete
  4. Mas, makasi utk postingannya. Jelas dan sangat membantu. Hehehe

    Btw, bagi kontak elf dan kontaknya Mas Ardi juga ya.

    amsiahaan@gmail.com

    Terima kasih

    ReplyDelete
  5. bang boleh minta no kontak elf? terimakasih.

    afidsc@yahoo.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. mas boleh no kontak elfnya kaga
      muammadfadillah@gmail.com

      Delete
  6. Boleh minta nomor kontak yg punya elf? argocondro@gmail.com

    ReplyDelete
  7. Boleh minta nomor kontak yg punya elf? argocondro@gmail.com

    ReplyDelete
  8. Baca nya kok merinding disko yak, terimakasih Bang, tulisan buat Saya punya gambaran medan Argopuro.

    InsyaaAllah oktober 2017 mau kesana, semoga Allah beri kesehatan, kekuatan, kemampuan dan keselamatan buat kami dan siapa pun yang kesana.

    Tararengkyu Bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siiip, emang argopuro menimbulkan sensasi yg berbeda sejak mau mendaki sampai sudah turun gunungnya...
      Ati2 yah...!!!
      Safety first.

      Delete
  9. bang, boleh minta no kontak elfnya ?
    agustinus_dwiantoro@yahoo.com

    ReplyDelete
  10. Wah sangat menikmati tulisannya bang. Berasa ngalamin sendiri. Ane cmn pernah naik lewat bremi dan turun bremi lagi. Emg ngangenin dah argopuro ini. Gunung terindah menurut ane. Salam lestari bang

    ReplyDelete
  11. Wah keren ya Argopuro. Dulu aku pernah ke air terjun di Bermi tapi gak sampe muncak ke Argopuro hehe. Btw mas gambarnya bagus-bagus izin ambil gambanrnya ya, makasih.

    ReplyDelete
  12. Mas minta kontak elfnya, sekalian info harganya dong mas. Makasih
    alfahasnh@gmail.com

    ReplyDelete
  13. Keren bang.. Bermanfaat banget.. Boleh minta contact elf nya??

    husnichowder@gmail.com

    ReplyDelete
  14. ninik.joen@hotmail.com... share no hp elf nya yahh makasihhh

    ReplyDelete
  15. bagus bgt tulisannya, pengemasan kalimatnya menarik jadi ga bosen bacanya. oh ya bang minta nomor telepon elfnya dan informasi harganya ya ke handika_hpp@ymail.com , thanks bangg

    ReplyDelete
  16. sent semua yah, cek email...!!!

    ReplyDelete
  17. Bang, mnt contact elf (sby-baderan)
    E-mail : keliananta.julian@gmail.com

    Tanks

    ReplyDelete
  18. Info yg bermanfaat om. Boleh minta CP Elf nya om??
    e-mail: lelembutlembahtengkorak@gmail.com
    Terima kasih....

    -salam lestari-

    ReplyDelete
  19. mantappp ini, mas boleh minta kontak elf, mau ke sana rencana sama istri n beberapa temen

    docaypasma@gmail.com

    ReplyDelete
  20. ga nyangka udh baca cerita sepanjang ini dan hebatnya ga ngebosenin, mantap pokoknya. saya jg minta tolong kirim kontak carter elf nya ya bang..

    isaalmahdi.rob28@gmail.com

    makasihh

    ReplyDelete
  21. Boleh minta kontak elf dari besuki ke baderan bang rasyiddrc@gmail.com

    ReplyDelete
  22. Sangat bermanfaat kawan, cerita yang dikemas menarik, serta kenangan yang abadi di argopuro. Salam Lestari.
    .
    Mau kontak Elf yang dari surabayanya kawan, semoga berkenan :)
    Dzilal.rotion@gmail.com

    ReplyDelete
  23. Enak lewat mana mas antara 2 jalur tersebut dan +- apa ya? Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. jalur bederan jauh lebih panjang karena banyak savana2, tapi datar2 aja.

      kalo bremi lebih pendek tapi nanjak banget. lebih cepet ketemu danau taman hidup. lebih cepet ketemu puncak. tapi di jalur ini gak ada savana keren kayak di jalur baderan.

      jadi rekomended kalo lewat baderan dan turun bremi.

      Delete
  24. cek email yaaa buat yg minta kontak elf.

    thx guys.

    ReplyDelete
  25. joss gandosss

    ReplyDelete
  26. Boleh tuhh bang minta kontaknyaa. Makasihh
    Putrantocatur@ymail.com

    ReplyDelete
  27. bang minta kontaknya dong ke kakamiaaa@gmail.com . makasih

    ReplyDelete
  28. Ceritanya keren, lengkap, penuh emosi, gw aja yg belum pernah kesana jadi seolah kegambar kondisi trek, perjalanan suasananya.
    Thanks buat ceritanya serunya :)

    ReplyDelete
  29. bang minta konta elfnya dong.
    dedy.toni@gmail.com

    ReplyDelete
  30. Keren mas...infonya sangat membantu. Boleh minta kontak elfnya? qarazaharahanum@gmail.com

    ReplyDelete
  31. Salam Lestari mas, Terimakasih untuk ceritanya mas, saya jadi tau gambaran tentang gunung Argopuro. Terus berkarya mas. Saya juga mau minta kontak elf nya mas ini email nya : rahmatsidik017@gmail.com

    ReplyDelete
  32. Mas minta nomor kontak carteran elfnya andridrew72@gmail.com terima kasih.

    ReplyDelete
  33. Bang, boleh minta kontak elf nya ke adelia.syafitri6@gmail.com terima kasih :)

    ReplyDelete
  34. Bang boleh minta kontak elf ny ke bilcust@gmail.com
    Thanks

    ReplyDelete
  35. Bermanfaat banget bang infonya. Sekalian bang saya mau ke argopuro jg, minta no elfnya bang kirim ke loca.ayu@gmail.com
    Thanks

    ReplyDelete
  36. nazarioff29@gmail.com
    Bang, boleh bagi nomor travelnya

    ReplyDelete
  37. halo kak, boleh mnta kontak elf nya..?
    ernapujiastuti300691@yahoo.com

    terima kasih

    ReplyDelete
  38. Minta kontaknya dong om
    cupuamateurdtg@gmail.com

    Tengkyu

    ReplyDelete
  39. MINTA KONTAK ELFNYA BANG.
    singgihcassanova@gmail.com

    terima kasih

    ReplyDelete

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!